• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Thursday, 21 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home SURYAPEDIA

Cambuk Tiban, Ritual Warga Kediri Memanggil Hujan

09 Sep 2018
in SURYAPEDIA
Reading Time: 2 mins read
Cambuk Tiban, Ritual Warga Kediri Memanggil Hujan

DUA orang saling menghujamkan cambukan. “Plak-plak…!” Suara dari pecut ketika dihempaskan ke bagian perut dan punggung secara brutal. Di atas panggung berukuran 5×5 meter, mereka menahan rasa sakit dari pukulan cambuk yang dibuat dari pilinan batang rotan dan lidi.

Pemandangan tersebut bukanlah seni debus ataupun atraksi kuda lumping. Pertunjukan itu merupakan  kesenian Cambuk Tiban. Warga di Desa Surat, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, secara rutin menggelar ritual ini di penghujung musim kemarau.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Tepat di Hari Pahlawan, Bandara Dhoho Kediri Membuka Rute Penerbangan Internasional

Mulai 10 November 2025, Bandara Dhoho Kembali Melayani Rute Penerbangan Kediri-Jakarta

“Acara Tiban kami gelar sebagai media untuk memanggil hujan,” ujar Komaruddin, salah seorang perangkat Desa Surat, Sabtu malam, 8 September 2018, di lokasi acara.

Perayaan adat ini sudah diadakan turun-temurun di Desa di lereng Gunung Wilis itu. Menurut Komar, selain menggelar Tiban, warga juga meminta datangnya hujan dengan mengadakan manaqib, istighosah, dan pengajian.

Ratusan peserta yang mengikuti kesenian ini, dibatasi aturan tertentu. Mereka hanya diizinkan memukul anggota tubuh di bawah leher hingga di atas pusar. Selain itu, tidak diperkenankan.

Pukulan cambuk pun harus dilayangkan secara bergantian. Sebelum tiap-tiap sabetan cemeti dilancarkan, mereka berdiri berhimpitan sambil menari lewat alunan musik tradisional. Dua orang di atas arena diberi jatah sama untuk memukul, yakni sebanyak lima kali.

“Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih,” kata Komar.

Para peserta yang berlaga didominasi oleh warga asli Desa Surat. Selebihnya, merupakan partisipan undangan dari daerah lain. Di antaranya, dari Nganjuk, Blitar, dan Tulungagung serta dari desa-desa tetangga.

Sekitar seratus orang lebih yang mengikuti kesenian Tiban ini, tidak dibatasi usia tertentu. Remaja hingga lansia dapat secara bebas berpartisipasi pada acara yang didukung oleh PT Gudang Garam,Tbk. itu. Supaya acara berjalan adil, beberapa panitia di atas panggung bertugas mengatur setiap peserta agar mendapat lawan sepadan.

Ada 90 babak yang dilangsungkan pada malam itu. Kerasnya sabetan pecut, membuat sebagian anggota tubuh para peserta dipenuhi luka bilur, bahkan mengucurkan darah. Meski begitu, mereka sama sekali tak menyimpan rasa dendam. Setelah turun dari arena, mereka saling melempar senyum dan canda.

Menurut Zaenuri, salah seorang peserta,  acara Tiban diikutinya dengan tujuan menguatkan persaudaraan. Pria asal desa Badal, Kabupaten Kediri itu mengaku sudah menggemari tiban sejak masih remaja.

“Saya tadi ikut dua babak, kalau hanya satu rasanya kurang puas,” kata lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai pengrajin batu bata ini.

Menurut Zaenuri,  kesenian Tiban kini hanya dapat dijumpai di wilayah Kediri bagian selatan. Sementara di kawasan Kediri utara, suara pecutan Tiban sudah tak terdengar  lagi. Dia berharap, kesenian warisan leluhur ini terus diramaikan, sehingga tetap lestari. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline
Previous Post

Seniman Tato Wajib Mematuhi Kode Etik

Next Post

Ribuan Santri Lirboyo Ikut Doa Bersama Tahun Baru Hijriah

Next Post
Ribuan Santri Lirboyo Ikut Doa Bersama Tahun Baru Hijriah

Ribuan Santri Lirboyo Ikut Doa Bersama Tahun Baru Hijriah

Pegawai Pertanian Kediri Sukses Berbisnis Anggrek

Pegawai Pertanian Kediri Sukses Berbisnis Anggrek

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA