• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 10 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Film “Air Mata di Ladang Tebu” Banjir Kritik

13 Nov 2019
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
0
Film “Air Mata di Ladang Tebu” Banjir Kritik

Film “Air Mata di Ladang Tebu” mengudara ke tengah publik di kanal Youtube Kediripedia. (Foto: M Yusuf Ashari)

DI depan kobaran api, Warno menari sambil mengucapkan kalimat epilog tentang pentingnya pemaafan dalam setiap gerak kehidupan. Berakhirnya scene yang memungkasi adegan demi adegan pada film “Air Mata di Ladang Tebu” itu disambut sorakan dan tepuk tangan ratusan penonton.  

Pada acara pemutaran perdana dan peluncuran film produksi Kediripedia.com berdurasi 44 menit itu, dihadiri berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari dosen, mahasiswa, guru, pelajar, pegiat komunitas, pegawai, dan kalangan lainnya, memadati Gedung Rektorat lantai 4 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Jumat 8 November 2019.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

Laksamana Laut Makassar yang Terasing di Pegunungan Malang

“Film ini mengandung aspek naturalitas yang kuat dari para aktor, perspektif lokalnya juga sesuai dengan budaya Kediri. Perspektif masyarakat kelas bawah jarang diangkat ke dalam sebuah film,” kata Ropingi, dosen Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kediri.

Ibarat perjamuan, film diputar layaknya makanan pembuka, acara dilanjutkan dengan bedah film yang menjadi menu utama. Pada kesempatan itu, Ropingi bertandem dengan Danu Sukendro selaku Jurnalis Indosiar. Keduanya didapuk sebagai pembicara untuk membedah film “Air Mata Di Ladang Tebu” bersama Rommy Fibri, Komisioner Lembaga Sensor Film (LSF). Namun, Rommy mendadak berhalangan hadir karena menghadiri kegiatan internal LSF.

Khaerul Umam salah seorang dosen Ushuludin IAIN Kediri ditunjuk sebagai moderator. Diskusi dimulai dengan paparan dari sutradara film, Dwidjo U. Maksum. Pria yang akrab disapa DUM memberi pengantar mengenai latar belakang ide dan proses pembuatan film.

Dari segi produksi, film ini memang sengaja dibuat berbeda dengan film pada umumnya. Dia mengatakan, film itu dibuat nyaris tanpa konflik, kecuali percakapan sengit di ladang tebu antara Warno dan Pardi. Begitupun para aktor, secara keseluruhan karakter mereka baik, tidak ada tokoh jahat.  

“Ending film sengaja dibuat menggantung, agar penonton dapat bebas menafsirkan intisari dari pesan-pesan yang disampaikan,” ujar pria kelahiran Nganjuk itu.

Sedangkan dari segi senimatografi, Danu Sukendro menyoroti beberapa aspek teknis. Utamanya terkait penataan angle kamera yang kurang ideal. “Namun hal teknis itu boleh diabaikan, mengingat unsur naratif dalam film ini sangat kuat,” kata Danu Sukendro.

Usai bedah film, acara yang terselenggara berkat kerjasama Kediripedia dan Dewan Mahasiswa (DEMA) Program Studi Sosiologi Agama (SA) IAIN Kediri itu dilanjutkan dengan pemencetan tombol menandai resminya “Air Mata di Ladang Tebu” mengudara ke tengah publik. Sesi peluncuran itu dilakukan oleh Zaenal Arifin, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Kediri.

Dengan begitu, film fiksi sejarah itu dapat dinikmati khalayak luas lewat kanal Youtube Kediripedia. Setelahnya, beragam respon bermunculan. Baik itu berupa kritik maupun apresiasi dari masyarakat.

Afnan Subagio misalnya, sosok Kaji Dullah yang diperankan Taufik Al Amin membuatnya tertegun. Awalnya, dia menduga Kaji Dullah adalah sosok antagonis karena pada adegan bertemu Kirman, Kaji Dullah tidak mau menyapa. “Di luar dugaan karakternya bijaksana, di sini saya sebagai penonton sempat tertipu,” kata jurnalis MNC TV itu.

Berbeda dengan Afnan, menurut Dewi Anggraeni, jurnalis senior feminis yang sekarang berdomisili di Sidney, Australia, cerita film ini seperti membuat penonton ingin kembali ke masa lalu, kemudian menjalaninya dengan baik. “Film ini memberi pencerahan yang lebih mendalam, sehingga lebih mengerti akan apa yang membuat seseorang melakukan sesuatu,” ujar Dewi.

Meski begitu, film “Air Mata di Ladang Tebu” juga dibanjiri kritikan. Baik dari sisi teknis produksi, hingga plot cerita. Salah satunya dari Wasis Sasmito. Usai menonton film ini dari awal hingga akhir, dia merasa para aktor masih terjebak dalam naskah dialog yang harus diucapkan.

“Beberapa dialog antar tokoh bahkan tidak didukung oleh gestur gerak tubuh,” ujar aktivis NGO yang saat ini bertugas di Timor Leste.

Sementara menurut Eko Wahyu Tawantoro, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV, merasa proses rekonsiliasi di film yang mengambil setting tahun 1979 ini terlalu cepat terjadi. Seharusnya, proses rekonsiliasi diwarnai dengan sedikit konflik verbal melalui dialog para tokohnya.

“Dengan begitu, bisa jadi ketegangan akan semakin terasa dan lebih mengaduk perasaan,” kata Eko.

“Akan tetapi, secara keseluruhan film ini bagus dalam konteks mudah dicerna dengan plot yang tidak bertele-tele,” pungkas lelaki yang juga penyair itu. (M Yusuf Ashari)

Tags: #headline
Previous Post

Air Mata di Ladang Tebu, Film Gotong Royong Orang Kediri

Next Post

Rayakan Anniversary Pertama, GGCC Lepas Burung di Hutan Joyoboyo

Next Post
Rayakan Anniversary Pertama, GGCC Lepas Burung di Hutan Joyoboyo

Rayakan Anniversary Pertama, GGCC Lepas Burung di Hutan Joyoboyo

Tim Gudang Garam Raih Juara 1 di Uncle Hard Enduro 2019

Tim Gudang Garam Raih Juara 1 di Uncle Hard Enduro 2019

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA