• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Saturday, 25 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home SURYAPEDIA

Mata Air Sandaran Warga Lereng Gunung Kelud

31 Jan 2019
in SURYAPEDIA
Reading Time: 2 mins read
Mata Air Sandaran Warga Lereng Gunung Kelud

BAGI warga di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, keberadaan Sumber Kali Cawang mempunyai peran yang signifikan. Aliran dari mata air tersebut, menjadi tumpuan bagi kehidupan masyarakat di kawasan sekitar lereng Gunung Kelud. Di antaranya, warga yang tinggal Desa Puncu, Satak, Asmarabangun, Kebunrejo, dan Kampungbaru.

Sumber air yang terletak di wilayah Perhutani KPH Kediri itu, baru dimanfaatkan warga sekitar lima tahun yang lalu. Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari, mereka bergantung pada Sumber Clangap dan Jeding Miring. Namun, akibat erupsi Gunung Kelud pada 2014, sumber itu tidak berfungsi dengan maksimal. Semburan jutaan material vulkanik, menyumbat arus air dua sendang tersebut.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Tepat di Hari Pahlawan, Bandara Dhoho Kediri Membuka Rute Penerbangan Internasional

Mulai 10 November 2025, Bandara Dhoho Kembali Melayani Rute Penerbangan Kediri-Jakarta

“Sumber Kali Cawang dipilih karena memiliki debit air yang cukup besar, airnya tetap mengalir meski di musim kemarau sekalipun,” kata Sugianto, Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Desa Puncu, Selasa 29 Januari 2019.

Lokasi Sumber Kali Cawang dan pemukiman, terpaut jarak sekitar 5 kilometer. Untuk mempermudah akses, pada tahun 2014 PT Gudang Garam, Tbk. (GG) membangun jaringan pipa dari Sumber Kali Cawang yang bisa langsung diarahkan ke rumah-rumah warga.

“Saat terjadi erupsi Gunung Kelud tahun 2014 lalu, kami harus bergerak cepat sebagai bentuk tanggung jawab sosial Gudang Garam kepada masyarakat,” kata Iwhan Tricahyono, Kabid Humas GG. Kala itu, 31.000 warga Kecamatan Puncu terancam tidak dapat pasokan air bersih. Bahkan untuk kebutuhan mendasar seperti mandi, masak, dan mencuci.

Pipanisasi sepanjang 4.500 meter ini terakit melintasi area Perkebunan Ngrangkah Pawon, menuju ke tempat penampungan yang terletak di Desa Kalipang. Air yang tertampung dalam tandon bervolume 36.000 liter itu selanjutnya dialokasikan ke lima desa di Kecamatan Puncu.

Penyaluran air dari tandon di Kalipang, Puncu, Kab. Kediri. (Foto: GG)

Sugianto menerangkan, sejak beroperasi pada tahun 2014, sejauh ini belum terjadi kendala teknis yang berarti. Ketika musim hujan tiba, pasokan air cenderung stabil bahkan sering meluap. Jika dirata-rata, air akan menyembur sebanyak 10 liter per menit. Namun saat kemarau, debit air menurun hingga separuhnya.

“Bila kemarau, kami terpaksa menerapkan sistem buka-tutup, agar warga tetap mendapatkan air secara bergiliran,” ujar pria yang sebelumnya menjabat sebagai Jogo Tirto sekaligus penanggung jawab kelancaran proses pipanisasi tersebut. Di samping itu, Sugianto dipercaya merawat pipa maupun bak penampungan air, jika ada kerusakan.

Menurut lelaki empat puluh tujuh tahun ini, perawatan fasilitas itu tidak terlalu memberatkan. Sebab, masyarakat setempat secara swadaya membantu membersihkan tandon dari pasir dan lumpur secara berkala. Mereka sadar akan pentingnya pasokan air bersih dan sangat terbantu dengan pipanisasi dari GG itu.

Tasrip misalnya, untuk mendapatkan air bersih, pria lima puluh lima tahun itu sekarang tidak perlu repot mengantre dengan membawa jirigen menuju tandon. “Airnya stabil dan mengalir sampai rumah,” katanya. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#kelud#suryapediaair bersih
Previous Post

UNP Kediri, Kampus Pencetak Abdi Negara

Next Post

Jembatan Merah, Membuat Kediri Malang Tak Terpisah

Next Post
Jembatan Merah, Membuat Kediri Malang Tak Terpisah

Jembatan Merah, Membuat Kediri Malang Tak Terpisah

Karyawan Gudang Garam Juga Punya Klub Sepeda

Karyawan Gudang Garam Juga Punya Klub Sepeda

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA