• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 10 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Mbah Lamiran, Usia 80 Tahun Masih Menjajakan Kue

30 Nov 2016
in PEOPLE
Reading Time: 2 mins read
Mbah Lamiran, Usia 80 Tahun Masih Menjajakan Kue

(Foto : Widodo F. Putra)

DI saat jalanan masih lengang dan matahari belum begitu terik, deretan penjual nasi dan bubur memenuhi Jalan Doho Kota Kediri, Jawa Timur. Jalan itu berada di kawasan jantung kota, berada di sebelah timur Sungai Brantas.

Jarum jam masih menunjukkan pukul 06.17, ketika seorang perempuan mendorong gerobak warna biru. Dia bergerak melintasi deretan pedagang nasi dan bubur. Rombong berisi aneka macam kue itu milik Ny Lamiran, perempuan berusia 80 tahun. Orang-orang menyapanya dengan panggilan akrab, Mbah Lamiran.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

“Saya mulai menjajakan kue sejak tahun 1977,” kata perempuan kelahiran tahun 1936 itu, pekan lalu.

Sembari melayani pembeli, Mbah Lamiran mengisahkan pengalamannya berdagang. Menurut dia, awal mula berdagang, dia keliling dengan menggunakan tenong, wadah yang terbuat dari plat seng mirip rantang bersusun. Ukurannya sebesar tampah dan dibawa dengan cara digendong. Rute sehari-hari yang dilewati saat menjajakan dagangannya adalah menyusuri Jalan Patimura, Jalan Doho, kemudian berhenti di sebelah utara kantor Bank Indonesia.

Pukul 04.30, Mbah Lamiran berangkat dari rumahnya mengambil kue yang akan dijajakan. Kue-kue itu dibeli dari pengusaha kue basah di Jalan Patimura, mulai kawasan Setono Pande hingga Ringin Anom, Kota Kediri. Kue tersebut dibeli Mbah Lamiran secara tunai dan bukan titipan.

“Lha ngaten niki nggih kedah telas, mas, amargi jajan meniko kulo mundut, sanes titipan.” (Lha begini ini harus habis mas, karena saya membelinya, bukan titipan),” kata wanita berkerudung itu.

Sekitar sepuluh tahun silam, Mbah Lamiran mengganti tenongnya dengan gerobak yang bisa didorong. Dia mengaku sudah tidak mampu lagi menggendong tenong.

Kue yang dijajakan Mbah Lamiran adalah jajanan basah seperti lumpia, lemper, lumpur, mendut, sus basah, nogosari, bikang, wajik, dan penganan populer lainnya. Dia menjual berbagai jenis kue tersebut dengan harga berkisar mulai Rp 2.000 – Rp 2.500 per buah. Dagangannya harus habis sebelum siang, karena pada sore hari akan basi. Jika tidak semuanya laku, terpaksa dibawa pulang untuk dimakan sendiri atau dibagikan pada tetangga.

Anak cucu Mbah Lamiran sejatinya kerap melarang perempuan sepuh itu berjualan. Mereka cemas dengan kondisi kesehatan dan usianya yang memerlukan banyak istirahat. Namun rupanya Mbah Lamiran justru merasa sehat jika bisa terus berkeliling bersama gerobaknya berjualan kue.

“Mau hujan atau tidak, tiap pagi saya harus jualan karena dengan begitu saya justru merasa bersemangat dan punya harapan untuk gembira,” kata Mbah Lamiran dengan bahasa Jawa halus, sambil tersenyum. (F. Widodo Putra)

Previous Post

Hasil Hutan Non Kayu yang Menjanjikan

Next Post

Berburu Benda Lawas Sembari Ngopi di Rumah Tua

Next Post
Berburu Benda Lawas Sembari Ngopi di Rumah Tua

Berburu Benda Lawas Sembari Ngopi di Rumah Tua

Menggores Minggu, Menggairahkan Kota yang Gagu

Menggores Minggu, Menggairahkan Kota yang Gagu

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA