• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Monday, 22 June 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home BISNIS

Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

22 Jun 2026
in BISNIS
Reading Time: 4 mins read
Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

Republik Lele di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri. (Foto: Dimas)

KEBERADAAN warung pecel lele sudah jadi pemandangan sehari-hari warga Jawa Timur. Ikon kuliner dari Lamongan itu berjejer di tepi jalan, dari pusat kota hingga pelosok desa. Namun, tak banyak orang tahu sebagian besar lele yang tersaji itu berasal dari Republik Lele, sebuah sentra budidaya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Usaha ini telah lama dikenal sebagai salah satu pemasok lele konsumsi terbesar di Indonesia. Berdiri sejak 1985, perusahaan keluarga itu memasuki generasi kedua di bawah kepemimpinan Muhammad Yusron. Dia adalah putra pendiri bisnis, Mohammad Akas Salamudin.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

Di tangan Yusron, jaringan pemasaran berkembang pesat. Lele dari Pare kini mengalir ke berbagai daerah, mulai Surabaya, Lamongan, Solo, Yogyakarta, Jakarta, hingga Bali.

“Setiap hari kami bisa menghasilkan antara dua sampai lima ton lele. Dalam sebulan sekitar 60 ton,” kata Yusron saat ditemui Kediripedia.com pada Kamis, 18 Juni 2026.

Bisnis budidaya ini menempati lahan sekitar tiga hektare yang tersebar di beberapa lokasi. Di atas lahan tersebut berdiri sekitar 1.400 kolam permanen yang dihuni jutaan ekor fauna bernama latin Clarias sp itu. Dengan kapasitas tersebut, Republik Lele mampu menjaga pasokan di tengah permintaan pasar yang terus meningkat.

Jumlah kolam kini mencapai 1.400 petak. (Foto: Dimas)

Meski memiliki ribuan kolam, perusahaan ini tidak lagi fokus pada pembenihan. Republik Lele fokus pada ikan konsumsi, sedangkan benih dipasok oleh peternak mitra di wilayah Pare dan Badas. Sebagian besar benih yang dibudidayakan merupakan lele dumbo, jenis yang kini mendominasi pasar budidaya nasional.

Di Indonesia, lele dumbo menyimpan sejarah panjang. Ikan berkumis asal Afrika itu dikenal memiliki pertumbuhan cepat dan ukuran tubuh lebih besar. Selain lele, jenis ikan air tawar berkumis lainnya yaitu patin,baung,  sapu-sapu, sembilang, dan manyung.

Pada masa awal diperkenalkan di Indonesia, lele dumbo memiliki sejumlah kelemahan. Misalnya mudah stres dan tekstur dagingnya terlalu lunak. Para peneliti dan peternak lalu menyilangkan jenis dumbo dengan lele lokal Indonesia yang lebih tahan kondisi lingkungan.

“Dari cerita bapak saya, beliau ikut belajar dalam uji coba penyilangan itu di Semarang sekitar tahun 1982,” ujar Yusron.

Menurut dia, hasil penelitian tersebut melahirkan varietas lele dumbo yang kini berkembang luas di Indonesia. Mohammad Akas Salamudin lalu membawa benih hasil pengembangan tersebut ke Kediri. Hasilnya, masa pemeliharaan lebih singkat dan kapasitas panen meningkat.

Yusron, pemimpin bisnis budidaya Republik Lele. (Foto: Dimas)

Pada masa awal merintis usaha, Akas melakukan pembenihan mandiri. Dia menggunakan metode pemijahan alami melalui gentong tanah liat yang dialiri air sungai. Teknik ini dipakai untuk menjaga kestabilan suhu. Dalam satu gentong ditempatkan seekor pejantan dan dua ekor betina. Dalam semalam, ribuan telur akan menetas sekitar 24 jam setelah proses pembuahan.

Sejak saat itu, dunia perlelean Indonesia terus berkembang. Berbagai varietas baru bermunculan, mulai dari sangkuriang, phyton, masamo, dan mutiara. Seluruh jenis itu berakar pada proses perbaikan genetika yang berawal dari persilangan lele Afrika dengan lele lokal Indonesia.

“Sekarang bahkan sudah ada teknik pemijahan stripping yang tidak lagi menggunakan pejantan untuk merangsang pembuahan,” kata Yusron.

Meski demikian, Republik Lele memilih tidak masuk ke bisnis pembenihan. Yusron membuka ruang bagi peternak kecil di sekitar Pare untuk menjadi pemasok benih. Strategi itu sengaja dilakukan agar manfaat ekonomi dari industri lele tidak hanya terkonsentrasi pada satu perusahaan.

Menurut dia, ketika permintaan pasar terus bertambah, peternak kecil juga harus memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Permintaan pasar memang menunjukkan lonjakan signifikan. Yusron mengaku, sejak 2014 hingga sekarang, permintaan lele meningkat sekitar 500 persen. Angka itu mencerminkan luasnya minat masyarakat terhadap lele sebagai sumber protein murah.

“Sebenarnya ikan lele sangat kaya protein jika pakannya benar,” ujarnya.

Lulusan Magister Agribisnis Universitas Islam Kadiri (UNISKA) itu menjelaskan, kualitas pakan menentukan mutu daging ikan. Republik Lele menggunakan pakan pabrikan yang telah memenuhi standar tertentu. Penggunaan pakan yang tepat juga menekan angka kematian, mempercepat masa panen, dan menghasilkan bobot ikan lebih berat.

Pakan bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan. Kualitas air kolam perlu diperhatikan. Setiap sore, kolam dialiri air segar sekitar satu jam untuk mengurangi kadar amonia dan menjaga suhu tetap stabil. Kepadatan tebar diatur ketat, sekitar 350 hingga 500 ekor per meter kubik.

Dari hanya 10 kolam sederhana pada masa awal berdiri, Republik Lele kini berkembang menjadi usaha dengan lebih dari 1.400 petak kolam. Menurut Yusron, perjalanan panjang itu tidak lepas dari kerja keras orang tuanya yang meletakkan fondasi usaha empat dekade lalu.

Dia menambahkan, ada filosofi di balik nama Republik Lele. Nama itu dipilih sang pendiri dengan harapan usaha yang dirintisnya dapat bertahan lintas generasi.

“Bapak memberi nama Republik Lele supaya usaha ini bisa langgeng sampai anak cucu, seperti Republik Indonesia yang terus ada sampai sekarang,” kata Yusron.

Seiring perkembangan zaman, usaha ini terus berinovasi. Tidak hanya menjual lele hidup, Republik Lele mulai merambah bisnis pakan, produk lele beku, hingga berbagai olahan marinasi yang dijual di pasar modern.

Di tengah persaingan industri budidaya yang semakin ketat, Republik Lele terus memperluas pasar. Ratusan ton ikan dipanen setiap bulan, menggerakkan rantai ekonomi di Kediri yang melibatkan peternak, pemasok benih, pedagang pakan, hingga pelaku usaha kuliner. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #Bisnis#headline#Kediri
Previous Post

Teror Kepala Ayam Menyasar Kantor Redaksi Floresa.co di NTT

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA