• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Thursday, 17 September 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Republik Lele, Penguasa Pasar Ikan Berkumis Lintas Pulau

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Konflik Timur Tengah, Forum Internet Dunia Dipindah ke Bali

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Di Gang Sempit Pecinan Kediri, Empat Agama Hidup Berdampingan

16 Sep 2026
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
Di Gang Sempit Pecinan Kediri, Empat Agama Hidup Berdampingan

Lorong pemukiman padat penduduk di Pecinan Kediri. (Foto: Ifa)

GANG di kawasan Pecinan Kediri itu hanya selebar satu setengah meter. Rumah-rumah berdempetan di kiri dan kanan lorong. Tak banyak ruang tersisa selain jalan setapak yang menghubungkan hunian warga. Masuk sekitar 15-20 meter, Masjid Al-Hidayah tampak di tengah permukiman. Bangunannya berdiri di lingkungan yang dihuni warga dengan keyakinan berbeda. Tepat di depannya terdapat rumah warga Nasrani, Konghucu, dan penghayat kepercayaan.

Kamis, 10 September 2026, satu-satunya masjid di Kelurahan Pakelan, Kota Kediri itu sunyi. Tak seorang pun terlihat di dalam atau serambi. Dua warga muslim memang tinggal di lingkungan tersebut, tetapi para takmir tinggal di gang sebelah.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Baru Dibersihkan, Anak Sungai Brantas di Kediri Kembali Tercemar

Mengenal Gus Miek Lewat Kitab Orang-orang Lalai

Kepala Bea Cukai Kediri Jadi Tersangka Korupsi, Kantor Sepi

Bagi warga nonmuslim, keberadaan masjid sudah jadi keseharian. Novi misalnya, pemeluk Nasrani ini sudah terbiasa mendengar suara azan dari Masjid Al-Hidayah sejak kecil.

“Kadang kalau saya ada ibadah keluarga, pas dengar azan berhenti dulu,” kata Novi.

Pria 41 tahun ini menambahkan, ketika pengurus masjid hendak menggelar kegiatan, warga yang rumahnya berdekatan biasanya lebih dulu diberi tahu dan dimintai izin. Pekan lalu, misalnya, masjid menggelar pengajian sejak pukul 18.00 hingga 21.00 WIB. Bagi Novi, hal tersebut bukan persoalan.

Masjid Al-Hidayah, satu-satunya masjid di Kelurahan Pecinan Kediri. (Foto: Ifa)

Tiga meter dari rumah Novi terdapat pendapa dan punden yang digunakan untuk berbagai kegiatan warga. Tempat itu juga menjadi ruang bagi sebagian warga yang menjalankan tradisi Kejawen. Kegiatan biasanya berlangsung malam hari. Warga berkumpul, menyanyikan tembang, kemudian mendengarkan ceramah dari ketua kelompok.

“Kalau diundang di pendopo, kami datang. Selama ini, warga tidak pernah mengalami persoalan perbedaan keyakinan,” ujar Novi.

Hubungan harmonis tampak lebih jelas ketika hari raya tiba. Pada malam takbiran, warga non-Muslim ikut membersihkan teras rumah masing-masing. Ruang di depan rumah itu kemudian dipasang karpet untuk salat Idul Fitri.

Pagi harinya, pintu rumah warga terbuka. Mereka saling berkunjung dan bersilaturahmi. Anak-anak ikut mendatangi rumah tetangga, tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Saat Idul Adha, warga nonmuslim juga ikut membantu persiapan kurban. Daging kemudian dibagikan kepada warga sekitar masjid, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Di sisi lain, aktivitas keagamaan warga Nasrani juga berlangsung di lingkungan yang sama. Persekutuan doa, pembacaan Alkitab, dan latihan paduan suara gereja juga terdengar akrab di gang tersebut.

“Kalau kegiatan Natal, kami juga ikut membantu pengamanan,” kata Agus Setiawan, takmir Masjid Al-Hidayah.

Ketika ada warga meninggal, tetangga datang menyampaikan belasungkawa. Setelah itu mereka berdoa menurut tata cara dan keyakinan masing-masing.

Sesaji dan dupa di depan rumah warga penghayat. (Foto: Ifa)

“Kita harus bertoleransi. Tidak ada yang fanatik berlebihan,” ujar Agus.

Kegiatan keagamaan juga terkadang berlangsung pada waktu yang berdekatan. Namun, warga terbiasa memberi ruang. Ketika satu golongan sedang menjalankan kegiatan, kelompok lain berusaha tidak mengganggu.

Kelompok jaranan juga sesekali datang ke lingkungan tersebut untuk mengirim doa di makam atau punden pada hari-hari tertentu. Berbagai kegiatan itu menjadi bagian dari kehidupan warga di kawasan Pecinan Kediri.

Masjid Al-Hidayah sendiri awalnya merupakan musala sebelum berkembang menjadi masjid. Agus mengatakan, dia mulai tinggal di kawasan tersebut sekitar 2010. Bangunan itu sudah berdiri ketika dia datang. Sebagian tanah masjid berasal dari warga. Namun, Agus mengaku tidak mengetahui secara persis sejarah kepemilikan tanah tersebut.

Masjid pernah mendapat bantuan Pemerintah Kota Kediri untuk perbaikan. Warga sekitar juga ikut membantu. Saat salat Jumat, jamaah biasanya memenuhi masjid. Mereka tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari luar karena kawasan tersebut berdekatan dengan tempat kerja dan pusat kegiatan warga.

Di samping masjid, warga menggunakannya pendapa untuk selamatan atau kegiatan keluarga. Ketika ada warga yang hendak menikahkan anak atau menggelar kegiatan tertentu, mereka biasanya meminta izin terlebih dahulu. Di gang sempit kawasan Pecinan Kediri itu, ibadah umat berbeda keyakinan hidup berdampingan dalam keseharian. (Nadhifatus Sholihah, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syekh Wasil Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#Kediri
Previous Post

Terapi Seni, Melukis sebagai Ruang Konseling

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA