GANG di kawasan Pecinan Kediri itu hanya selebar satu setengah meter. Rumah-rumah berdempetan di kiri dan kanan lorong. Tak banyak ruang tersisa selain jalan setapak yang menghubungkan hunian warga. Masuk sekitar 15-20 meter, Masjid Al-Hidayah tampak di tengah permukiman. Bangunannya berdiri di lingkungan yang dihuni warga dengan keyakinan berbeda. Tepat di depannya terdapat rumah warga Nasrani, Konghucu, dan penghayat kepercayaan.
Kamis, 10 September 2026, satu-satunya masjid di Kelurahan Pakelan, Kota Kediri itu sunyi. Tak seorang pun terlihat di dalam atau serambi. Dua warga muslim memang tinggal di lingkungan tersebut, tetapi para takmir tinggal di gang sebelah.
Bagi warga nonmuslim, keberadaan masjid sudah jadi keseharian. Novi misalnya, pemeluk Nasrani ini sudah terbiasa mendengar suara azan dari Masjid Al-Hidayah sejak kecil.
“Kadang kalau saya ada ibadah keluarga, pas dengar azan berhenti dulu,” kata Novi.
Pria 41 tahun ini menambahkan, ketika pengurus masjid hendak menggelar kegiatan, warga yang rumahnya berdekatan biasanya lebih dulu diberi tahu dan dimintai izin. Pekan lalu, misalnya, masjid menggelar pengajian sejak pukul 18.00 hingga 21.00 WIB. Bagi Novi, hal tersebut bukan persoalan.

Tiga meter dari rumah Novi terdapat pendapa dan punden yang digunakan untuk berbagai kegiatan warga. Tempat itu juga menjadi ruang bagi sebagian warga yang menjalankan tradisi Kejawen. Kegiatan biasanya berlangsung malam hari. Warga berkumpul, menyanyikan tembang, kemudian mendengarkan ceramah dari ketua kelompok.
“Kalau diundang di pendopo, kami datang. Selama ini, warga tidak pernah mengalami persoalan perbedaan keyakinan,” ujar Novi.
Hubungan harmonis tampak lebih jelas ketika hari raya tiba. Pada malam takbiran, warga non-Muslim ikut membersihkan teras rumah masing-masing. Ruang di depan rumah itu kemudian dipasang karpet untuk salat Idul Fitri.
Pagi harinya, pintu rumah warga terbuka. Mereka saling berkunjung dan bersilaturahmi. Anak-anak ikut mendatangi rumah tetangga, tanpa mempersoalkan perbedaan agama. Saat Idul Adha, warga nonmuslim juga ikut membantu persiapan kurban. Daging kemudian dibagikan kepada warga sekitar masjid, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.
Di sisi lain, aktivitas keagamaan warga Nasrani juga berlangsung di lingkungan yang sama. Persekutuan doa, pembacaan Alkitab, dan latihan paduan suara gereja juga terdengar akrab di gang tersebut.
“Kalau kegiatan Natal, kami juga ikut membantu pengamanan,” kata Agus Setiawan, takmir Masjid Al-Hidayah.
Ketika ada warga meninggal, tetangga datang menyampaikan belasungkawa. Setelah itu mereka berdoa menurut tata cara dan keyakinan masing-masing.

“Kita harus bertoleransi. Tidak ada yang fanatik berlebihan,” ujar Agus.
Kegiatan keagamaan juga terkadang berlangsung pada waktu yang berdekatan. Namun, warga terbiasa memberi ruang. Ketika satu golongan sedang menjalankan kegiatan, kelompok lain berusaha tidak mengganggu.
Kelompok jaranan juga sesekali datang ke lingkungan tersebut untuk mengirim doa di makam atau punden pada hari-hari tertentu. Berbagai kegiatan itu menjadi bagian dari kehidupan warga di kawasan Pecinan Kediri.
Masjid Al-Hidayah sendiri awalnya merupakan musala sebelum berkembang menjadi masjid. Agus mengatakan, dia mulai tinggal di kawasan tersebut sekitar 2010. Bangunan itu sudah berdiri ketika dia datang. Sebagian tanah masjid berasal dari warga. Namun, Agus mengaku tidak mengetahui secara persis sejarah kepemilikan tanah tersebut.
Masjid pernah mendapat bantuan Pemerintah Kota Kediri untuk perbaikan. Warga sekitar juga ikut membantu. Saat salat Jumat, jamaah biasanya memenuhi masjid. Mereka tidak hanya berasal dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari luar karena kawasan tersebut berdekatan dengan tempat kerja dan pusat kegiatan warga.
Di samping masjid, warga menggunakannya pendapa untuk selamatan atau kegiatan keluarga. Ketika ada warga yang hendak menikahkan anak atau menggelar kegiatan tertentu, mereka biasanya meminta izin terlebih dahulu. Di gang sempit kawasan Pecinan Kediri itu, ibadah umat berbeda keyakinan hidup berdampingan dalam keseharian. (Nadhifatus Sholihah, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syekh Wasil Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)




