KABEL-kabel menjuntai dari sebuah meja. Papan sirkuit, sensor, dan komponen elektronik berserakan di atasnya. Sebagian elemen masih terpisah, menunggu dirangkai menjadi sebuah mesin. Dari ruang dengan peralatan terbatas itu, siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Kediri mengembangkan berbagai proyek robotik hingga ke panggung internasional.
Di balik prestasi itu ada sosok Ali Sahbana. Guru robotika, koding, dan kecerdasan buatan itu adalah pembimbing ekstrakurikuler Mansa Robot Corp (MRC). Dia tidak membatasi siswanya menentukan sebuah proyek. Proses penemuan ide misalnya, justru kerap muncul dari persoalan yang ditemui sehari-hari.
“Meski harus gagal berkali-kali, setidaknya siswa mengalami proses untuk memperbaiki,” kata Ali, Senin, 7 September 2026.
Ali mengajar di MAN 1 Kediri sejak 2005. Baginya, teori tidak cukup. Siswa perlu diberi kesempatan menguji pengetahuan melalui praktik.
Dari prinsip tersebut, sejumlah proyek lahir. Antara lain Smart Home, rumah pintar berbasis kecerdasan buatan dan pengenalan wajah; Smart Farming, inkubator berkebun dengan kendali Internet of Things (IoT) dan sertifikasi TLS; Vending Machine dengan pembayaran QRIS; serta WINARA, robot taksi otonom yang memadukan peta digital, deteksi objek, dan navigasi secara real-time.

Ide-ide itu tidak lahir dari ruang kelas maupun depan komputer. Gagasan muncul ketika siswa melihat persoalan yang dihadapi masyarakat. Misalnya ketika para siswa melihat nelayan di Pantai Gemah, Tulungagung sedang mencari ikan. Dari pengamatan itu, siswa membuat Sea Wind Turbin. Robot tersebut dirancang menggunakan motor penarik jaring otomatis dan panel surya sebagai sumber energi.
“Gagasannya sederhana, membantu nelayan menarik jaring tanpa tenaga manual sekaligus mengurangi ketergantungan bahan bakar,” ujar Ali.
Siswa bimbingan Ali kemudian membawa karya itu ke berbagai kompetisi. Pada 2024, Sea Wind Turbin meraih juara tiga dalam IoT Development Competition yang digelar Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim yang beranggotakan tiga siswa MAN 1 Kediri itu menjadi satu-satunya peserta dari jenjang SMA. Peserta lainnya merupakan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Beberapa bulan kemudian, Sea Wind Turbin ikut kompetisi internasional. Pada Oktober 2024, Annisa Putri dan Kristiyan Pradhifa, di bawah bimbingan Ali, meraih juara dua dalam Innovation Petrosains RBTX Challenge Petronas Malaysia 2024 di Stadium Juara Bukit Kiara, Kuala Lumpur.
Prestasi lain datang dari tim yang mereka beri nama “Doa Ibu”. Frista dan Wenda mengikuti kompetisi IONIC yang digelar Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Mereka meraih juara pertama sekaligus memperoleh Golden Ticket untuk masuk PENS melalui jalur prestasi.
“Saat sudah lulus, harapannya siswa dapat melanjutkan proyek dan inovasi yang mereka bangun sendiri,” kata Ali.
Dia tidak menyangka kegiatan yang bermula dari ekstrakurikuler itu berkembang sejauh ini. Apalagi MAN 1 Kediri belum memiliki laboratorium robotik. Bahkan belum ada kurikulum khusus robotika di sekolah.

Kini Ali dan murid-muridnya tengah mempersiapkan diri mengikuti Expo dan Kompetisi Keterampilan Madrasah Nasional (EXTRANAS) ke-8 di Lamongan. Mereka juga menyempurnakan purwarupa Smart Home. Rumah tersebut dirancang portabel sehingga dapat dipindah sesuai kebutuhan. Pengguna bisa mengendalikan sejumlah perangkat dari telepon seluler melalui aplikasi berbasis web yang mereka kembangkan sendiri, Sabana Smart Home.
Atap rumah dilengkapi panel surya sebagai sumber listrik. Sensor pengenalan wajah dan gerak dipasang di bagian pintu, sedangkan kamera pengawas atau CCTV menjadi bagian dari sistem keamanan. Ali membayangkan rumah itu dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa atau pekerja yang sering berpindah tempat tinggal.
“Rumah portable ini praktis dan hanya membutuhkan sewa lahan saja,” kata Ali.
Baginya, piala dari berbagai kompetisi hanyalah hasil akhir. Yang lebih penting, siswa berani membongkar rancangan yang gagal, mencari kesalahan, lalu merakitnya kembali. Dari proses itu, siswa juga belajar menghadapi kegagalan, hal yang tidak selalu bisa diperoleh dari buku pelajaran. (Nadhifatus Sholihah, Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syekh Wasil Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)





