KEPALA perempuan itu condong ke depan, hampir menyentuh layar laptop. Mengikuti panduan suara dari aplikasi pembaca layar, jemari tangan kanan Evie Kurniawati bergerak perlahan menekan tombol enter. Guru honorer Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita Pare Kabupaten Kediri itu memastikan materi ajar tersusun rapi untuk kelima muridnya.
Bermodalkan pendengaran dan ketukan jari, Evie tampak bersemangat memulai pelajaran. Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Brawijaya itu memang bercita-cita menjadi guru. Meski yang dilihat hanya gelap, dia bertekad mencerahkan masa depan anak didiknya.
“Saya ajari huruf braille, mulai dari nol,” kata Evie ketika ditemui Kediripedia.com pada Kamis, 20 November 2025 di SLB Dharma Wanita Pare.
Wanita 38 tahun itu mengajar lima anak yang semuanya disabilitas netra. Terdiri dari murid kelas tiga, empat, dan lima sekolah dasar, serta kelas satu dan dua SMA. Mata pelajaran yang diberikan berbeda-beda, namun yang paling penting mereka harus menguasai braille.
Keseharian mengajar di SLB sudah dilakoni Evie sejak tahun 2017, bahkan sebelum lulus kuliah. Tanpa bisa melihat murid-muridnya, dia mahir menghadirkan suasana belajar aktif di kelas. Setiap Senin hingga Sabtu, dia membimbing murid mulai jam 8 pagi hingga 2 sore. Saat berangkat atau pulang, dia ditemani suaminya.

Evie sudah menguasai komputer sejak duduk di bangku SMA. Dia menggunakan aplikasi Job Access With Speech (JAWS) khusus untuk tunanetra. Saat program itu terpasang di laptop, otomatis akan muncul pembaca layar dengan panduan suara berbahasa Inggris.
“Kalau untuk handphone, saya pakai aplikasi TalkBack,” kata ibu satu anak itu.
Dia bercerita, disabilitas netra yang dialaminya bukan bawaan dari lahir. Evie mulai mengidap gangguan pada saraf matanya karena virus saat duduk di kelas 3 SD. Penglihatan berkurang sedikit demi sedikit kemudian benar-benar gelap ketika kuliah.
Saat usianya sembilan tahun Evie keluar dari sekolah umum. Dia masuk SLB Dharma Wanita Pare tempatnya mengajar sekarang. Evie awalnya optimis penglihatannya kembali pulih sambil terus berobat. Namun takdir berkata lain, gelap tak kunjung hilang dari matanya.
“Sejak saat itu saya bercita-cita menjadi guru, dan akhirnya mengajar di sekolah ini,” kata Evie.
Seperti yang dirasakan guru-guru lain, mengajar siswa berkebutuhan khusus perlu kesabaran ekstra. Misalnya, meski sudah diajari berulang kali ternyata mereka belum sepenuhnya menguasai pelajaran. Menurut Evie hal itu wajar, anak pada umumnya juga mengalami hal serupa.
Ketika ditemui, Evie menemani murid mempersiapkan penampilan pada peringatan Hari Guru Nasional. Dia mengajar para siswa membaca puisi dan bernyanyi.
Dengan latar pendidikan di bangku kuliah, Evie ingin terus berbagi terang pada sesama penyandang disabilitas netra. Keberanian dan kepercayaan diri mereka selalu dikuatkan, sambil menanamkan pentingnya pendidikan bagi masa depan. (Nurma Ayu Kusuma)







Discussion about this post