• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 10 December 2025
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Kongkil, Musik Perlawanan pada Penjajah Belanda di Ponorogo

20 Nov 2025
in KULTUR
Reading Time: 2 mins read
0
Kongkil, Musik Perlawanan pada Penjajah Belanda di Ponorogo

Pertunjukan kongkil di Ponorogo tahun 1994. (Sumber foto: Buku Proyek Pengembangan Media Kebudayaan)

ALAT musik ensambel ini diciptakan Toinangun, sesepuh Desa Bungkal, Ponorogo. Kongkil dimainkan dengan menggoyang bilah-bilah bambu. Suara yang dihasilkan berupa nada pentatonis ro, lu, mo, nem, ji atau yang dalam melodi Jawa disebut slendro.

Instrumen yang sekilas mirip angklung ini lahir ketika masyarakat Ponorogo dilarang berkumpul oleh kolonial Belanda pada 1933. Pembungkaman itu dilawan Toinangun lewat kongkil. Sambil berlatih kesenian, mereka membahas siasat perlawanan terhadap penjajah.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

Kisah Para Tahanan Politik Operasi Trisula Blitar dalam Film The Last Supper (Whisper)

BWCF 2025: Membaca Sejarah Islam Indonesia Melalui Estetika Nisan

“Waktu penajajahan belanda masyarakat mau berkumpul sulit, makanya dibuatlah kesenian ini agar tidak dicurigai,” kata Mohamad Sodikun, ketua kelompok musik kongkil di Bungkal, pada Rabu 22 Oktober 2025.

Sodikun merupakan generasi keenam grup kongkil Martapura. Pria 57 tahun itu menjelaskan, nama Kongkil diambil dari suara instrumennya. Bambu yang saling berbenturan menimbulkan bunyi kol-kol-kil-kil.

Dari era Toinangun, musik kongkil berganti penerus pertama kali pada 1940-an. Beberapa pemain harus diregenerasi karena sudah menginjak usia senja. Sekitar tahun 2000, para seniman kongkil vakum, bahkan nyaris punah. Saat itu, belum ada generasi penerus yang sanggup mengelola kelompok musik tersebut.

Kongkil yang sekilas mirip angklung ini lahir ketika masyarakat Ponorogo dilarang berkumpul oleh kolonial Belanda pada 1933. (Sumber Foto: Buku Proyek Pengembangan Media Kebudayaan)

Atas dukungan masyarakat Bungkal, kongkil dihidupkan kembali pada 2012. Sodikun menjadi ketua grup hingga sekarang.

“Zaman serba modern ini menjadi tantangan bagi seniman kongkil melestarikan kesenian ini,” kata Sodikun.

Selain itu, pembuatan alat menjadi kendala pelestarian. Perlu ketelitian ekstra membuat instrumen dari bambu. Mulai dari pemilihan bahan sampai perawatan. Sodikun merasa alat yang baru dibuat tidak semerdu instrumen terdahulu.

“Kita sekarang masih memakai alat dari tahun 1930. Belum diganti sama sekali,” jelasnya.

Saat pentas, para pemain memakai blangkon dan beskap. Pakaian adat ini mirip jas, terbuat dari kain hitam polos tanpa bermotif.

Grup musik yang dikelola Sodikun kerap tampil pada acara bersih desa, bulan kemerdekaan, pernikahan, dan khitanan. Kesenian diupayakan mengikuti perkembangan zaman. Instrumen lain berupa gong, bonang, dan kempul kini ditambahkan dalam pertunjukan. Sinden atau penyanyi dihadirkan untuk menambah kemeriahan.

Dia berharap eksistensi kesenian kongkil sekarang melahirkan generasi penerus. Sebab, selain sebagai sarana perlawanan, kongkil menyimpan nilai-nilai solidaritas masyarakat Ponorogo. (Ahmad Hasbi Ashshidiqi, Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#SEJARAH
Previous Post

Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

Next Post

Evie, Guru Tunanetra yang Mahir Mengajar di Kelas Gelap

Next Post
Evie, Guru Tunanetra yang Mahir Mengajar di Kelas Gelap

Evie, Guru Tunanetra yang Mahir Mengajar di Kelas Gelap

Kisah Para Tahanan Politik Operasi Trisula Blitar dalam Film The Last Supper (Whisper)

Kisah Para Tahanan Politik Operasi Trisula Blitar dalam Film The Last Supper (Whisper)

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (109)
  • DESTINASI (109)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (204)
  • KULTUR (221)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA