ALAT musik ensambel ini diciptakan Toinangun, sesepuh Desa Bungkal, Ponorogo. Kongkil dimainkan dengan menggoyang bilah-bilah bambu. Suara yang dihasilkan berupa nada pentatonis ro, lu, mo, nem, ji atau yang dalam melodi Jawa disebut slendro.
Instrumen yang sekilas mirip angklung ini lahir ketika masyarakat Ponorogo dilarang berkumpul oleh kolonial Belanda pada 1933. Pembungkaman itu dilawan Toinangun lewat kongkil. Sambil berlatih kesenian, mereka membahas siasat perlawanan terhadap penjajah.
“Waktu penajajahan belanda masyarakat mau berkumpul sulit, makanya dibuatlah kesenian ini agar tidak dicurigai,” kata Mohamad Sodikun, ketua kelompok musik kongkil di Bungkal, pada Rabu 22 Oktober 2025.
Sodikun merupakan generasi keenam grup kongkil Martapura. Pria 57 tahun itu menjelaskan, nama Kongkil diambil dari suara instrumennya. Bambu yang saling berbenturan menimbulkan bunyi kol-kol-kil-kil.
Dari era Toinangun, musik kongkil berganti penerus pertama kali pada 1940-an. Beberapa pemain harus diregenerasi karena sudah menginjak usia senja. Sekitar tahun 2000, para seniman kongkil vakum, bahkan nyaris punah. Saat itu, belum ada generasi penerus yang sanggup mengelola kelompok musik tersebut.

Atas dukungan masyarakat Bungkal, kongkil dihidupkan kembali pada 2012. Sodikun menjadi ketua grup hingga sekarang.
“Zaman serba modern ini menjadi tantangan bagi seniman kongkil melestarikan kesenian ini,” kata Sodikun.
Selain itu, pembuatan alat menjadi kendala pelestarian. Perlu ketelitian ekstra membuat instrumen dari bambu. Mulai dari pemilihan bahan sampai perawatan. Sodikun merasa alat yang baru dibuat tidak semerdu instrumen terdahulu.
“Kita sekarang masih memakai alat dari tahun 1930. Belum diganti sama sekali,” jelasnya.
Saat pentas, para pemain memakai blangkon dan beskap. Pakaian adat ini mirip jas, terbuat dari kain hitam polos tanpa bermotif.
Grup musik yang dikelola Sodikun kerap tampil pada acara bersih desa, bulan kemerdekaan, pernikahan, dan khitanan. Kesenian diupayakan mengikuti perkembangan zaman. Instrumen lain berupa gong, bonang, dan kempul kini ditambahkan dalam pertunjukan. Sinden atau penyanyi dihadirkan untuk menambah kemeriahan.
Dia berharap eksistensi kesenian kongkil sekarang melahirkan generasi penerus. Sebab, selain sebagai sarana perlawanan, kongkil menyimpan nilai-nilai solidaritas masyarakat Ponorogo. (Ahmad Hasbi Ashshidiqi, Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post