THE Last Supper (Whisper), film yang mengangkat kisah tahanan politik Operasi Trisula Blitar diputar di Prancis dan Jerman. Karya sutradara Daniel Rudi Haryanto dinominasikan dalam Festival International Cinéma Asiatique de Tours (FICAT). Pada festival ini, The Last Supper terpilih sebagai satu dari empat film terbaik, bersanding dengan film-film dari Jepang, Korea Selatan, dan India.
Perjalanan film ini tidak berhenti di Tours. Rombongan sineas bergerak ke Rennes Business School. Mereka menggelar pemutaran dan diskusi bersama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Ruang itu dipenuhi mahasiswa, kebanyakan generasi Z yang tak banyak mengenal peristiwa 1965 atau Operasi Trisula. Selepas pemutaran, pertanyaan mengalir antara lain masa depan industri film, demokrasi, serta ingatan kelam sejarah Indonesia.
“Melalui film ini para mahasiswa mencari informasi sendiri dan menemukan fakta peristiwa yang tidak dapat mereka bayangkan,” kata Daniel Rudi Haryanto, Kamis, 1 April 2026.
Tim yang melakukan lawatan ke Eropa terdiri dari enam orang. Meraka adalah Daniel Rudi Haryanto sebagai produser dan sutradara; Yolinda Puspitarini, produser; Rolando Octavio Purba, produser; Rezky Machyuzar, sound designer; Oscar Herry, animator dan visual efek; dan Firman Sasongko, animator.

Dari Rennes, perjalanan berlanjut ke Paris. Dua ruang berbeda menjadi lokasi pemutaran yaitu Théâtre Pixel dan La Maison d’Indonésie. Di Théâtre Pixel, jumlah penonton melampaui kapasitas kursi. Sementara di La Maison d’Indonésie, kursi tak sepenuhnya terisi meski pendaftar cukup banyak. Kedua acara ini terselenggara dengan dukungan Réseau Indonésie, jaringan diaspora yang aktif mempromosikan budaya Indonesia di Prancis.
Perjalanan selanjutnya menuju di Aachen, Jerman. Kota ini pernah jadi tempat belajar Presiden Ketiga Indonesia, B. J. Habibie. Film diputar dalam forum yang digagas komunitas diaspora. Diskusi kembali membuka percakapan tentang sejarah, budaya, hingga kondisi mutakhir Indonesia.

“Film ditawari roadshow ke kota lain seperti Munich, Berlin, Munster, Frankfurt, dan Bonn. Barangkali bisa dijadwalkan di lain waktu,” kata Daniel.
Perjalanan enam sineas melawat Prancis dan Jerman itu ditempuh selama 14 hari. Pada Kamis, 1 April 2026, mereka sudah kembali ke tanah air.
Film The Last Supper (Whisper) merupakan proyek panjang yang digarap lebih dari tujuh tahun oleh Daniel Rudi Haryanto bersama para kolaboratornya. Film pertama kali dirilis pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025.
Sinema ini menceritakan kisah tiga mantan tahanan politik dari Blitar Selatan pada 1966–1998. Mereka adalah Markus Talam (85), seorang musisi yang dipenjara 10 tahun di kamp konsentrasi Pulau Buru; Sukiman (75), operator radio yang mendekam setahun di penjara Blitar; serta Suyatman (75), seorang petani. Ketiganya ditahan tanpa proses peradilan. (Kholisul Fatikhin)






