SIMPANG empat di utara Balai Kota Kediri hingga kini masih disebut Nabatiyasa. Bagi sebagian besar warga, kawasan tersebut tak lebih dari penunjuk arah berbelok di jantung kota. Tak ada yang menyangka nama perempatan itu berasal dari pabrik raksasa minyak kelapa yang berdiri sejak era kolonial Belanda.
Jejak Nabatiyasa kini hanya berpendar dalam sebutan dan ingatan sebagian orang. Bangunan pabrik yang dulu dikenal dengan NV Oliefabrieken Insulinde/Mexolie itu sudah menghilang. Cerobong, tembok tebal, dan rel kereta diratakan pada 1980-an. Lahan yang dulu berdenyut oleh mesin pengolah minyak kelapa kini tertutup beton, etalase kaca, dan aspal parkiran.
“Bekas pabrik sekarang jadi Kediri Town Square dan Auto 2000,” kata Yulianto, warga Kelurahan Dandangan, Kota Kediri pada Kamis, 15 Januari 2026.
Pria 71 tahun itu masih mengingat pabrik yang luasnya membentang dari Jalan Hasanuddin hingga tembus ke Jalan Hayam Wuruk. Pada 1970-an, atau saat Yulianto masih remaja, dia masih menjumpai pabrik seluas 500 meter persegi itu beroperasi di sisi barat rel kereta api. Area tersebut dikelilingi tembok setebal satu meter.
Pabrik ini bahkan memiliki jalur rel tersendiri untuk bongkar muat bahan baku dan hasil produksi. Jalur itu dijadikan pintu masuk komoditas kelapa yang didatangkan dari wilayah sekitar Kediri, serta luar Jawa seperti Sulawesi dan Sumatera.

“Pabrik beroperasi 24 jam tanpa henti,” ujar Yulianto.
Dia bercerita, di kawasan itu tiap hari ratusan pekerja keluar-masuk pabrik saat pergantian shift pagi dan malam. Buruh-buruh pabrik sebagian besar warga Kediri. Mereka disediakan hunian khusus di bagian utara pabrik. Namun, permukiman itu sudah dibongkar, lahannya berubah jadi perkampungan padat.
Berdirinya industri minyak nabati di Kediri berkaitan erat dengan Revolusi Industri di Eropa pada 1850. Penemuan margarin, meningkatnya bisnis sabun serta kosmetik mendorong lonjakan permintaan minyak nabati dunia. Hindia Belanda, masuk dalam rantai pasok global melalui komoditas kopra, daging buah kelapa yang dikeringkan.
Ketika terbit Undang-Undang Agraria 1870, pintu modal swasta asing dibuka lebar. Belanda menyadari ekspor minyak kelapa jauh lebih menguntungkan dibandingkan kopra. Dari situlah industri pengolahan minyak nabati mulai berkembang.
Pada 1913, NV Oliefabrieken Insulinde berdiri, salah satunya di Kediri. Kota ini dipilih karena kesuburan tanah wilayah sekitarnya serta infrastruktur terintegrasi. Jaringan trem uap menjangkau desa-desa penghasil kopra. Simpul distribusi juga efisien sebab pabrik berdekatan dengan stasiun kereta api.
Dalam waktu singkat, pabrik itu tumbuh menjadi raksasa industri minyak nabati. Meletusnya Perang Dunia 1 semakin menguntungkan Belanda. Kandungan gliserin minyak kelapa dibutuhkan pabrik-pabrik senjata Amerika Serikat. Di saat bersamaan, pasokan minyak dari Eropa terputus, sehingga industri di negara jajahan makin digenjot.

“Pabrik minyak di Kediri memegang peranan penting dalam ekspor ke Kanada dan Amerika Serikat,” tulis media Belanda, Nieuwe courant yang terbit pada 22 Juni 1949.
Perusahaan Oliefabrieken Insulinde lalu diambil alih NV Mexolie. Saat penjajahan Jepang, nyaris seluruh pabrik Belanda di Kediri tutup, kecuali minyak kelapa. Produksi bahkan diperluas ke minyak jarak, kemiri, dan karet.
Perubahan paling signifikan datang ketika Indonesia menerbitkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, termasuk Mexolie. Pada 1961, Perusahaan Negara Sari Nabati atau Nabatiyasa berdiri sebagai wadah tunggal industri minyak nabati. Dari tangan kolonial kendali beralih ke Indonesia.
Namun sayang, pabrik Nabatiyasa dinyatakan bangkrut pada 1980an. Runtuhnya industri kelapa ini kemungkinan besar tergeser minyak sawit. Kediri akhirnya tersisih dari peta industri minyak nabati nasional.

Tahun-tahun setelahnya, lahan bekas pabrik tak terurus. Semak belukar tumbuh liar di antara sisa-sisa reruntuhan. Menurut kesaksian warga, lahan itu disewakan kepada pengusaha beretnis Tionghoa dan dimanfaatkan sebagai garasi kendaraan.
“Penggunaan lahan sebagai tempat parkir itu bertahan hingga 1998,” kata Yulianto.
Saat gelombang kerusuhan melanda Kediri, kendaraan-kendaraan yang terparkir di Nabatiyasa ikut dijarah dan dibakar massa. Setelah situasi mereda dan Orde Baru tumbang, kawasan bekas pabrik kembali kosong. Tak ada penyewa, lahan dibiarkan tak terawat.
Babak baru baru dimulai pada 2009, ketika dealer Toyota dibangun di sisi utara bekas Nabatiyasa. Dua tahun kemudian, pusat perbelanjaan Kediri Town Square berdiri hingga sekarang.
Bekas pabrik minyak Nabatiyasa telah berganti rupa. Mesin-mesin berat digantikan eskalator. Gudang-gudang kopra berubah menjadi deretan kios ritel. Dari minyak kelapa yang bangkrut dikalahkan sawit, kisah Nabatiyasa menjadi penanda berakhirnya rezim komoditas. (Dimas Eka Wijaya, Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post