JAM mata kuliah baru saja usai. Saat mahasiswa lain bergegas pulang, Noval Setiawan tak beranjak dari tempat duduknya. Memelototi layar gawai, dia sibuk membalas pesanan mainan tradisional dari pelanggan. Anyaman kuda lumping atau jaranan, barongan, pecut, hingga layang-layang, laku keras di Tiktok dan Shopee.
“Jualan di online hanya butuh modal konten tapi menghasilkan,” kata mahasiswa semester tujuh Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Nusantara PGRI itu pada Senin, 27 Oktober 2025.
Mainan tradional yang dijual Noval berasal dari orang tua dan kakeknya. Sejak puluhan tahun lalu, keluarganya menekuni pekerjaan sebagai pengrajin alat kesenian kuda lumping. Sebelumnya dia berjualan dengan menitipkan barang di sejumlah toko. Akibat banyak pedagang serupa, penjualan semakin kian merosot.
Pada 2024, Noval mulai memasarkan dagangan dengan membuat konten di media sosial. Siapa sangka, barang-barang itu laris keras. Pembelinya kebanyakan dari pegiat kuda lumping di Pulau Jawa. Melalui toko online Jenggala Toys, dia mengaku dapat meraih untung puluhan juta rupiah perbulan.

“Penjualan makin meningkat pada bulan Agustus,” ujar pria 22 tahun itu.
Pada periode ini, dia tidak hanya melayani pembelian ecer. Benda aksesoris kuda lumping dijual dengan sistem grosir. Barang yang dijual tidak hanya satu ukuran saja. Mulai dari anak hingga dewasa semuanya tersedia.
Gudang produksi dan penyimpanan terletak di rumahnya Desa Karangrejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Di dalam rumah, aneka mainan tradisional memenuhi ruang tamu.
Noval sejak kecil menggemari mainan tersebut. Sang kakek adalah orang pertama yang memproduksi peralatan jaranan di tempat tinggalnya.
“Sudah banyak yang melakukan penelitian ke sini, dari kalangan dosen dan mahasiswa dari beberapa universitas,” jelas Noval.

Dalam menjalankan bisnis, dia dibantu satu karyawan yang bertugas mengemas pesanan. Noval belajar otodidak dalam mengembangkan usaha tersebut. Menurutnya, setiap usaha pasti memiliki pesaing. Tinggi atau rendahnya penjualan tergantung bagaimana efektivitas pemasaran.
Dari mulanya hanya menjual aksesoris jaranan, barongan, dan printilannya, Noval kini mengembangkan bisnis dengan berjualan layang-layang karakter. Mainan itu memiliki desain menyerupai karakter seperti naga, burung, atau tokoh kartun. Ke depan dia bertekad memperluas jangkauan pemasaran sambil terus meningkatkan kualitas dagangan. (Novita Diana Austina, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post