Makam bernisan batu di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, dibongkar pada 2009. Ahli forensik menemukan jasad laki-laki, ras mongoloid, dan memiliki tinggi badan 165 sentimeter. Posisi tangan jenazah berada di belakang, indikasi kuat bahwa dia dieksekusi sebagai tawanan.
Dari temuan itulah, sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang meneliti Tan Malaka selama 30 tahun semakin yakin bahwa jasad itu adalah sosok penulis buku Naar de Republiek. Kematian tokoh bernama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka itu misterius selama puluhan tahun. Dia dikabarkan hilang pada 1949, lalu ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963 oleh Presiden Sukarno.
Namun, keberadaan makamnya baru teridentifikasi sekitar 2006 ketika Poeze berkunjung ke Kediri. Sejak pusara Bapak Republik itu terungkap, orang dari berbagai kalangan dan daerah berbondong-bondong mendatangi makam tersebut. Baik itu setiap peringatan hari lahir maupun wafatnya Tan Malaka.
“Besok, 14 Februari, kami mengadakan Haul ke-77 Tan Malaka di area makam,” kata Imam Mubarok, perwakilan Tan Malaka Institute Jawa Timur, saat dihubungi Kediripedia, Jumat, 13 Februari 2026.
Pria yang akrab disapa Gus Barok itu menjelaskan, agenda haul tahun ini dimajukan dari jadwal biasanya. Sejak 2006, peringatan rutin digelar setiap 21 Februari, bertepatan dengan tanggal wafat Tan Malaka. Namun tahun ini, 21 Februari sudah memasuki bulan Ramadan, sehingga acara dimajukan sepekan lebih awal.
Menurutnya, haul ini tidak hanya bersih-bersih makam. Selain ziarah, peserta diajak merefleksikan gagasan dan perjuangan Tan Malaka dalam membangun bangsa, termasuk pemikirannya tentang merdeka 100 persen.
Haul ke-77 ini terbuka untuk umum. Dalam tradisi Islam, haul merupakan peringatan wafat seorang tokoh yang biasanya diselenggarakan setiap tahun.
“Siapa pun boleh ikut karena Tan merupakan bapak bangsa yang wajib dihormati,” ujarnya.
Imam yang juga menjabat Ketua Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri menambahkan, kegiatan dimulai pukul 08.00 hingga selesai. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu “Gugur Bunga” yang diiringi pembacaan puisi, dilanjutkan pembacaan biografi Tan Malaka sebagai refleksi, pembacaan tahlil, dan diakhiri tabur bunga.
Menjelang pelaksanaan, sekitar 50 orang telah terdaftar sebagai peserta. Mereka berasal dari kalangan pegiat sejarah serta mahasiswa dari berbagai kampus di Kediri hingga Madiun.
Menurut Imam, keterlibatan pemuda penting sebagai generasi penerus bangsa. Mereka diajak mengenal sosok dan pemikiran Tan yang dinilai masih relevan hingga kini, termasuk konsep materialisme, dialektika, dan logika.
“Keterlibatan pemuda dalam acara ini, salah satunya, mahasiswa dari UIN Syekh Wasil Kediri yang akan membacakan puisi,” jelasnya.
Hingga kini, Tan Malaka Institute Jawa Timur telah menyelenggarakan haul sekitar 20 kali sejak makam tersebut ditemukan. Keterlibatan pemuda juga terus bergulir setiap tahun. Mereka diajak merefleksikan kembali gagasan Bapak Republik untuk kemajuan Indonesia ke depan. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post