AROMA dupa bercampur cairan pembersih memenuhi udara di Klenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri pada Selasa, 10 Februari 2026. Jelang hari raya Imlek, puluhan pengurus hilir-mudik memasang lampion, mengelap meja altar, dan menyeka debu di patung-patung dewa.
Di sela kesibukan itu, Prajitno Sutikno, ketua klenteng menunjukkan gambar di gawainya pada Kediripedia.com. Foto sephia yang memudar itu dari zaman Belanda. Tak ada jalan raya maupun kendaraan. Gerbang klenteng tampak melengkung, halaman luas seperti dermaga, menghadap lurus ke Sungai Brantas.
“Dulu, di klenteng ada pintu masuk lewat sungai,” kata Prajitno.
Menurut pengusaha komputer itu, pintu klenteng menjadi salah satu bukti kedatangan warga Tionghoa ke Kediri lewat sungai. Melalui aliran Brantas, hasil bumi dari Kediri dibawa ke pelabuhan di pesisir utara maupun sebaliknya. Arus komoditas itulah yang kemudian membuka ruang kehadiran etnis Cina.

Mereka tak hanya singgah. Di tepian sungai sebagian memilih menetap. Jejaknya dapat dibaca dari orientasi rumah-rumah tua di kawasan pecinan. Bangunan memanjang dengan pintu atau serambi sebagai ruang transaksi, tempat bongkar muat, sekaligus jalur keluar-masuk utama.
“Dari cerita pada pendahulu, orang Cina Kediri dulu banyak yang berdagang palawija,” ujar Prajitno.
Keberadaan rumah-rumah yang menghadap air ini diperkuat dokumentasi video dari era kolonial Belanda pada 1926. Video yang direkam dari Jembatan Lama itu menunjukkan sejumlah bangunan di utara klenteng terdapat halaman serta pintu masuk seperti dermaga.
Tata ruang itu menunjukkan Pecinan Kediri sejak awal bertumpu pada sungai. Perahu-perahu kecil yang mengangkut hasil bumi merapat langsung ke pintu rumah atau gudang. Pola hunian seperti ini mirip kawasan riverfront di Venesia, Seoul, Shanghai, dan Detroit.
Sayangnya, gedung yang dulu menghadap Brantas kini tak lagi dijumpai. Halaman di bibir sungai tertutup vegetasi dan pagar tembok. Salah satunya rumah milik keluarga Djie yang terletak di utara klenteng.
“Dulu kalau mau pergi ke Surabaya naik perahu dari belakang rumah,” kata PekHan Jo, penghuni rumah.
Han Jo menjelaskan, pusat pecinan Kediri dulunya berada di bantaran sungai. Sedangkan kawasan di timurnya seperti Jalan Dhoho dan Pattimura masih berupa hutan belantara.
Bagian belakang rumah keluarga Djie dibangun dengan arsitektur yang nyaris sama dengan depan. Teras lebar, dinaungi atap tinggi yang ditopang pilar-pilar bergaya Indische Empire. Halaman belakang itu selama puluhan tahun kosong. Sejak 2015, Han Jo memanfaatkannya untuk kolam budidaya lele sangkuriang.

Jalur sungai seperti yang pernah dirasakan marga Djie kehilangan perannya sebagai urat nadi utama perdagangan memasuki akhir abad ke-19. Perahu-perahu yang dulu memenuhi tepian Sungai Brantas tergeser kepulan asap lokomotif.
Pemerintah kolonial melalui perusahaan kereta api Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM) membangun jaringan rel yang menembus pedalaman Jawa Timur. Jalur ini menghubungkan kawasan agraris termasuk Kediri dengan pelabuhan besar di pesisir utara seperti Surabaya.
Perkembangan transportasi kereta membuat arus distribusi komoditas lebih cepat dan terjadwal. Gerbong kereta juga mampu mengangkut muatan jauh lebih besar dibanding perahu sungai.
Tak hanya itu, kehadiran kereta turut mengubah tata kota. Jika sebelumnya permukiman dan pasar tumbuh mengikuti lekuk sungai, pada era kereta berganti mendekati stasiun. Pecinan yang awalnya berada tepat di bantaran Sungai Brantas, bergeser ke Jalan Dhoho Kota Kediri sebagai pusat keramaian dan niaga. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post