MUSIM dingin Paris, Prancis yang seharusnya lengang pada 14 Februari 1887 tiba-tiba memanas. Rangka besi proyek Menara Eiffel yang mulai tampak menjulang di tepi Sungai Seine, memancing gelombang protes. Kelompok sastrawan, pelukis, hingga arsitek menilai menara besi adalah aib kota Paris yang dibangun lewat estetika bebatuan dan sejarah klasik.
“Tiang logam dibaut yang menjijikkan, aib bagi keindahan Paris,” kata Alexandre Dumas fils, sastrawan Prancis pada artikel yang diterbitkan surat kabar Le Temps.
Dumas menganggap menara itu tidak elegan, merusak lanskap kota. Hingga penulis novel La Dame aux Camélias itu wafat pada 1895, Eiffel masih dianggap bangunan memalukan. Konstruksi itu bahkan jadi penanda atas rendahnya selera seni serta keangkuhan teknologi.
Namun waktu mengubah segalanya. Tanpa diubah bentuk, Menara Eiffel perlahan diterima lalu dipuja. Jika Dumas kini masih hidup, barangkali dia makin murka melihat Eiffel diagung-agungkan sebagai ikon dunia.
Kisah Menara Eiffel yang awalnya dicemooh lalu disanjung itu mirip patung macan putih di Desa Balongjeruk, Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Patung itu dipajang pada akhir Desember 2025 di pertigaan jalan Desa Balongjeruk. Macan putih dipilih karena merupakan simbol kearifan lokal.
Dalam hitungan hari, harimau yang melambangkan kekuatan itu justru jadi sumber kelucuan. Di media sosial, patung tersebut viral memicu tawa, meme, dan ejekan berantai. Ada yang menyebutnya menyerupai kuda nil, atau seperti anak zebra obesitas.
“Patung sengaja dibuat tidak menyeramkan agar anak anak tidak takut,” kata Suwari, seniman pembuat patung macan putih.

Kakek 70 tahun itu sudah bekerja membuat patung sejak 1980-an. Mulai dari hewan hingga tokoh pewayangan. Untuk patung macan putih, Suwari mengerjakannya seorang diri selama 19 hari. Patung itu dipesan Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i. Ongkos jasa pembuatan sebesar dua juta rupiah, serta biaya material satu setengah juta rupiah berasal dari dana pribadi kepala desa.
Suwari tak menyangka ejekan sarkastik kini berubah menjadi daya tarik. Ribuan orang dari Kediri dan luar daerah seperti Surabaya serta luar Pulau Jawa berduyun-duyun ke Balongjeruk. Mereka datang seperti hendak memastikan seaneh apa patung itu. Jalan desa yang biasanya lengang tiba-tiba ramai. Pada Minggu, 4 Januari 2026, acara Car Free Day (CFD) digelar di pertigaan desa itu.
Sejak viral, kawasan itu bukan hanya jadi wisata. Karya Suwari diadaptasi ke berbagai merchandise. Balon berbentuk macan putih dijual di sekitar lokasi. Begitu pula dengan kaos bergambar ilustrasi patung, sketsa lukis untuk anak-anak, hingga tato non permanen.
Seandainya patung itu berbentuk realistis, kemungkinan besar karya Suwari hanya sebatas monumen biasa. Benda tersebut cuma sekadar hiasan jalan desa yang tak mengundang banyak perhatian.

Patung macan tersebut menunjukkan bahwa karya yang dianggap buruk tidak selalu gagal. Bentuknya yang tak realistis mungkin jauh dari standar seni rupa. Akan tetapi, patung itu berhasil menjadi karya kontemporer milik publik.
Bagi sebagian orang, patung itu adalah kegagalan estetika. Bagi warga lokal, patung itu jadi ikon desa; buat pedagang, sebagai sumber penghidupan; sedangkan warganet, menjadikannya bahan humor. Semua tafsir muncul berbarengan tanpa perlu diseragamkan, apalagi dibentur-benturkan.
Seperti halnya Menara Eiffel di akhir abad ke-19, patung ini mengingatkan bahwa makna sebuah karya tidak akan pernah tunggal. Eiffel diterima melalui narasi sejarah, teknologi, dan kebanggaan nasional. Sedangkan patung macan dikenal lewat viralitas dan partisipasi publik.
Patung macan di Kediri mungkin tidak akan masuk buku sejarah seni dunia. Namun, patung buatan Suwari mencerminkan bahwa masyarakat bukan penonton pasif, melainkan menjadi kurator yang membentuk narasi, mengapresiasi, dan melambungkan sebuah karya. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post