SEJUMLAH pekerja merampungkan pemasangan ornamen bagian luar tiang Jembatan Brawijaya, pada Kamis, 18 Desember 2025. Proyek pengerjaan titian yang menghubungkan Kota Kediri itu telah mencapai 60 persen. Keempat tiang utama yang sebelumnya polos kini dihiasi susunan huruf berbentuk kotak menonjol.
Tulisan itu bukan berasal dari abjad Thailand maupun India. Huruf tersebut merupakan aksara kuadrat, gaya penulisan atau font yang berkembang di era Kerajaan Kadiri abad 11-12 Masehi. Sejumlah tulisan yang tertempel di badan jembatan antara lain semboyan Djojo Ing Bojo, Jer Basuki Mawa Beya, dan Bhineka Tunggal Ika.
“Pemilihan kalimat itu melalui diskusi panjang,” ujar Juan Steven Susilo, arkeolog lulusan Universitas Udayana, Bali.
Sejak awal proyek, Juan terlibat sebagai arkeolog yang bertugas mengubah semboyan ke dalam aksara kuadrat. Frasa “Djojo ing Bojo” dipilih karena mewakili Kediri di era kontemporer. Kalimat itu sudah melekat pada logo Kota Kediri sejak 1953 hingga sekarang. Keberadaannya bisa dijumpai di gapura, bet baju ASN, plakat kedinasan, hingga website pemerintahan.

Juan menyadari bahwa penulisan “Djojo ing Bojo” di Jembatan Brawijaya telah keluar dari pakem Jawa kuno. Seharusnya, teks ditulis “Jaya ing Baya”. Dari diskusi bersama Dinas PUPR Kota Kediri, mengubah ejaan akan berbenturan Surat Keputusan DPRD tahun 1953 serta Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2007 tentang Lambang Daerah.
“Akhirnya Djojo Ing Bojo tetap ditulis berdasarkan ejaan latin sebagaimana tercantum dalam simbol resmi Pemerintah Kota Kediri,” ujar Juan.
Dalam bahasa Jawa, Djojo Ing Bojo berarti kemenangan atas marabahaya. Itu mengandung makna bahwa Kediri aman untuk tempat tinggal. Asal usul frasa ini masih butuh penelitian lebih lanjut. Sejauh pengamatan Juan, kalimat itu tidak tercantum dalam kitab maupun prasasti era lampau.
Sedangkan kata lain di badan jembatan seperti Jer Basuki Mawa Beya mewakili Jawa Timur. Sementara Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa sebagai semboyan Indonesia. Ketiga frasa itu mewakili identitas berlapis: kota, provinsi, dan nasional.
Selain tiga semboyan utama, terdapat dua kalimat lain yang turut diukir di tiang jembatan. Salah satunya kutipan dari Kitab Negarakertagama: Tāra graha tekanaṅ nagara śesāneka mukhya ṅ Daha. Kalimat lain adalah MAPAN, akronim visi Kota Kediri: Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni.

“Nanti akan dipasang papan penjelasan di sekitar jembatan agar masyarakat memahami makna dari ornamen dan tulisan tersebut,” kata I Made Dwi Permana, Kepala Bidang Bina Marga PUPR Kota Kediri.
Proyek peremajaan Jembatan Brawijaya dimulai pada 23 September 2025. Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menargetkan rampung pada akhir Desember 2025.
Tahap awal pengerjaan dilakukan dengan mengganti lapisan tiang menggunakan material baru yang tahan api. Setelah itu, aksara kuadrat dipasang sebagai ornamen timbul. Warna kuning emas mendominasi jembatan mulai dari lapisan, pencahayaan, hingga hiasan.
“Kami mengusung konsep keemasan, simbol kejayaan Kota Kediri,” kata Made.
Menurutnya, tantangan bukan pada membaca atau menyusun aksara, melainkan pada penerapannya. Huruf kawi yang cenderung kaku dan berbentuk balok membutuhkan ruang luas agar tetap terbaca. Setiap sisi harus diisi kalimat proporsional, sekaligus memenuhi unsur estetika.
Proyek peremajaan Jembatan Brawijaya bukan sekadar urusan konstruksi, melainkan juga upaya menanamkan ingatan sejarah. Penggunaan aksara kuadrat pada bangunan modern ini menjadi yang pertama di Indonesia. Ke depan, gaya penulisan serupa direncanakan akan diterapkan pada papan nama jalan di Kota Kediri. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post