BATANG-batang hio baru saja padam, menyisakan bau kayu terbakar. Di samping altar seukuran panggung wayang potehi, Setyo Raharjo membetulkan posisi foto kakek buyutnya. Potret lelaki Cina itu mengenakan seragam mirip polisi, bertuliskan Djie Thay Hien, Majoor Der Chinezen 1862-1923.
Tak ada ritual besar di rumah keluarga Djie pagi itu, Kamis, 12 Februari 2026. Mangkuk abu dikosongkan, lalu dipasang batang dupa baru. Raharjo, atau yang bernama asli Pek Han Jo itu hanya menjaga tradisi di kediaman yang mulai menua.
“Di altar ini ada nama-nama leluhur kami, tetap dikenang meski orangnya sudah lama meninggal,” kata Raharjo sambil menunjuk belasan papan nama bertuliskan huruf Tionghoa.
Lelaki 71 tahun itu tak mengetahui kapan leluhurnya dari suku Hokkian Provinsi Fujian Cina menginjakkan kaki di Kediri. Generasi pertama yang datang adalah Djie Kang Pien yang meninggal tahun 1851. Kemungkinan besar, dia tiba di Kediri di kiri kanan pendirian Klenteng Tjoe Hwie Kiong pada 1817.
“Keluarga kami dulunya berdagang palawija,” ujarnya.
Jauh sebelum kawasan Pecinan Kediri dipenuhi ruko dan pertokoan, rumah marga Djie adalah episentrum. Dari rumah inilah, jaringan komunitas Tionghoa di Kediri mulai mengakar hingga membentuk pemukiman padat yang sekarang dikenal sebagai pecinan.
Salah satu bukti rumah tersebut menjadi titik kumpul tokoh Tionghoa bisa dilihat pada prasasti di dekat pintu utama. Terdapat keterangan berbahasa Belanda dengan tulisan Vereeniging Khee_Pok.

Bagi warga Tionghoa di Kediri, keluarga Djie dianggap sebagai salah satu marga terpandang, baik dulu maupun sekarang. Pada era Belanda, Djie Thay Hien diangkat menjadi Mayor Cina. Opsir ini ditunjuk pemerintah kolonial untuk mengurus administrasi, hukum, dan pajak. Selain itu juga menjaga keamanan, menyelesaikan sengketa, serta mencatat kelahiran, pernikahan, dan kematian.
Di bawah jabatan mayor, ada pangkat letnan dan kapten. Seluruhnya dikuasai keluarga Djie. Di antaranya Djie Djwan Hien, Djie Ting Hian, dan Djie Ting Loen. Pada awal abad ke-20, Djie Ting Hian mengembangkan industri tenun. Melalui perusahaan “Tenoen 1925”, mesin-mesin modern didatangkan dengan mempekerjakan warga Kediri.
“Selain jabatan mayor, letnan, dan kapten, dulu Pecinan Kediri dipimpin lurah yang disebut Loh Tia,” kata Yap Swee Lay, pengurus rumah duka Perkumpulan Rukun Sinoman Dana Pangrukti.
Pria 81 tahun itu menjelaskan, seluruh jabatan tersebut dibentuk Belanda untuk memisahkan orang Tionghoa dan warga pribumi. Sistem ini dikenal dengan Wijkenstelsel. Penduduk dipisah-pisahkan ke dalam zona berdasarkan etnis. Orang-orang Eropa jadi masyarakat nomor satu, kedua timur asing seperti Arab, India, dan Cina, ketiga warga asli Indonesia.
Sama seperti keluarga Djie, Swee Lay berasal dari suku Hokkian. Ayahnya, Yap Boen Shiong, tiba di Kediri pada 1930.
“Keluarga kami awalnya hendak bertani di sini, tapi dilarang Belanda. Orang Cina hanya boleh berdagang,” kata lelaki kelahiran 1945 itu.
Menurut lelaki bernama Indonesia Sunaryo itu, migrasi etnis Tionghoa ke Kediri dilatarbelakangi kesulitan ekonomi di negara asal. Perantau awalnya tinggal sementara, mengumpulkan modal lalu pulang. Akan tetapi, kondisi politik di Tiongkok tidak stabil, sehingga generasi peranakan memilih menetap permanen di Pecinan.

Belanda melarang Cina di Kediri bertani. Mereka diberi peran sebagai perantara ekonomi di sektor strategis. Mulai dari industri pengolahan hasil bumi seperti pabrik minyak nabati, tebu, dan tapioka, hingga monopoli perdagangan candu. Mereka juga mendominasi distribusi tekstil dan kelontong, mengelola jasa keuangan dan pegadaian emas, serta merintis industri rumahan seperti kuliner, sabun, dan rokok.
“Karena bertani dilarang, jadi mau tidak mau kita belajar berdagang sampai jadi ahli,” kata Swee Lay.
Sejauh literatur yang pernah dia baca, kedatangan Tionghoa di Kediri memang belum diketahui pasti kapan. Keluarga Yap maupun Djie tiba di kawasan yang dibelah Sungai Brantas ini pada era Belanda.
Swee Lay memperkirakan, orang Cina sudah masuk ke Kediri pada era Dinasti Ming (1368–1644). Migrasi didorong oleh keberhasilan ekspedisi maritim yang dipimpin Laksamana Cheng Ho pada awal abad ke-15. Dari situ, jaringan dagang Tiongkok dengan Asia Tenggara semakin intensif.
Bukti tertulis yang spesifik menyebut Kediri memang masih terbatas. Ada juga versi lain yang menerangkan etnis Tionghoa sudah tiba pada abad ke-7. Namun, maraknya perdagangan pada era Cheng Ho lah yang mendorong komunitas Tionghoa tumbuh di pedalaman Jawa Timur.
Dari tepian Sungai Brantas, pecinan Kediri berkembang. Jejak kedatangan itu dapat diraba lewat toponim, rumah-rumah tua, klenteng, dan kisah keluarga-keluarga Tionghoa yang sudah menganggap Kediri sebagai rumah. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post