• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 4 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

19 Feb 2026
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
0
Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Komunitas Tionghoa di Kediri era Belanda. (Foto: Koleksi Keluarga Tan Khoen Swie)

Sebuah bangunan dengan tembok setebal dua jengkal masih berdiri di selatan Stasiun Kediri. Tak ada papan nama, hanya debu dan lumut yang menempel di dinding. Bekas gudang opium atau candu era kolonial Belanda itu beberapa kali disewa untuk usaha mebel pengusaha Tionghoa, namun kini kosong.

Dari gudang itulah, distribusi opium digerakkan pada akhir abad ke-19. Opium adalah narkotika alami dari getah tanaman Papaver somniferum. Obat ini memiliki efek penghilang rasa sakit serta adiktif. Di era kolonial, sudah jadi hal yang wajar mengkonsumsi opium. Kondisinya hampir sama seperti rokok pada masa sekarang.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Dari Fujian Cina, Suku Hokkian Bertahan di Kediri

Haul ke-77 Tan Malaka di Kediri Digelar Lebih Awal

Bagi Belanda, komoditas ini amat strategis mengisi kas pemerintah. Sejarawan James R. Rush dalam bukunya Opium to Java, mencatat bahwa candu menjadi pilar sentral sistem pendapatan negara kolonial.

“Opium jadi sumber pemasukan paling stabil bagi pemerintah Hindia Belanda ketika sektor lain fluktuatif,” tulis James.

Pada masa itu, opium di Kediri dikelola melalui sistem sewa pajak. Gudang penyimpanan dibangun dekat simpul transportasi. Dari gudang tersebut candu ditimbang, dicatat, dan disalurkan ke tempat-tempat penjualan resmi.

Sistem tersebut tak bisa berjalan sendiri. Di Kediri, distribusi bertumpu pada para opsir Cina. Tokoh ini berperan jadi perantara yang memiliki otoritas sosial sekaligus legitimasi administratif. Mayor, Kapten, dan Letnan Cina, diangkat pemerintah kolonial. Mereka bertugas memimpin komunitas Tionghoa dan menjadi penghubung resmi pejabat Belanda.

Untuk mendapatkan jabatan, orang-orang Cina harus bersaing dengan sesama warga Tionghoa. Perebutan dilakukan dengan sistem lelang. Siapa yang memberikan uang paling besar ke Belanda adalah pemenangnya. Selanjutnya, pemenang diberi pangkat seperti militer. Di Kediri, bisnis candu melibatkan nama-nama seperti Tan Kok Tong, Han Liong Ing, Kwee Siwe Toan, dan Djie Thay Hien.

Pangkat opsir Mayor Cina sejajar dengan pejabat setingkat bupati dan asisten residen. Pemberian jabatan sebenarnya juga dilakukan Belanda pada komunitas Arab dan India. Namun, kedudukan opsir Cina lebih penting karena motif ekonomi.

Rush menjelaskan, keberhasilan distribusi sistem opium kolonial sangat bergantung pada perantara lokal yang memahami dinamika sosial setempat. Dalam konteks Kediri, opsir Cina harus mengerti siapa pemegang konsesi, dimana warung pengecer resmi, dan bagaimana arus distribusi bergerak. Jika muncul pelanggaran atau penyelundupan, mereka menjadi mediator awal sebelum perkara naik ke pengadilan kolonial.

“Candu adalah senjata pembodohan sistematis masyarakat Indonesia era penjajahan Belanda,” tulis Robert Cribb dalam bukunya Historical Atlas of Indonesia.

Penikmat opium tidak hanya dari kalangan elit, para petani kecil ikut kecanduan. Seorang petani berpenghasilan lima sen per hari rela menghabiskan uang demi candu. Selain berdampak pada kesehatan, opium memperparah kemiskinan dan merusak mental masyarakat.

Opium perlahan kehilangan pamor usai kampanye penolakan mulai digencarkan. Para tokoh Islam merumuskan larangan madat atau mengisap candu dalam konsep Molimo. Propaganda anti-opium juga dilakukan Tiong Hoa Hwee Kwan (THHK), organisasi pergerakan Tionghoa dan Budi Utomo. Sedangkan kesadaran bahaya opium di kalangan priyayi Jawa digagas Raden Ajeng Kartini dan Paku Buwono IV, raja Surakarta, yang menulis Serat Wulang Reh.

Gerakan kolektif anti-opium ini berhasil menurunkan jumlah pecandu. Dari mulanya satu dari enam masyarakat adalah pengguna, berkurang drastis menjadi satu dari enam ratus orang pada 1928. Penurunan itu tak lepas dari berdirinya klinik rehabilitasi di pedesaan. Selain itu, depresi ekonomi berkepanjangan membuat masyarakat tak lagi bisa membeli opium. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

Next Post

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Next Post
Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (113)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA