• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 29 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

29 Apr 2026
in PEOPLE
Reading Time: 2 mins read
Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Puput Mariyati dan Tatik Imadatus Sa’adati, psikolog di Kediri. (Sumber foto: Capture Youtube)

EMPAT kasus bunuh diri terjadi di Kediri, Jawa Timur selama sepekan terakhir. Dimulai dari tragedi di depan SMPN Mojo pada Kamis, 22 April 2026, sehari kemudian seorang remaja mengakhiri hidupnya di dekat masjid. Belum juga rasa empati publik mereda, tiba-tiba muncul kabar insiden serupa di kawasan Kwagean, Pare dan Mlancu, Kandangan pada Rabu, 29 April 2026.

Psikolog Klinis UIN Syekh Wasil Kediri, Tatik Imadatus Sa’adati menyebut fenomena itu sebagai copycat suicide. Seseorang dalam kondisi depresi cenderung meniru setelah terpapar informasi, laporan, atau pemberitaan tindakan bunuh diri di sekitarnya.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Peristiwa di Kediri ini mirip pada kejadian di Korea Selatan pada 2019. Ketika bunuh diri artis disajikan sensasional, lengkap dengan detail, dramatisasi, dan narasi memancing emosi, maka risiko peniruan meningkat.

“Informasi itu makin menguatkan dorongan bundir, utamanya seseorang dalam kondisi rentan,” ujar dosen yang akrab disapa Ima itu.

Dia menjelaskan, sejatinya orang yang bunuh diri tidak ingin mati. Mereka hanya mau keluar dari rasa sakit. Entah itu sebab trauma, kecewa, masalah keuangan, kehilangan, maupun kesepian.

Dalam perspektif ilmu kejiwaan, keputusan bunuh diri tidak datang tiba-tiba. Misalnya ketika diterpa masalah berat, maka tidak langsung memutuskan bunuh diri. Aksinya terlebih dulu dimulai dari niat, lalu berlanjut ke percobaan. Ada proses panjang hingga seseorang memilih meninggal dunia, fasenya bisa berbulan-bulan bahkan tahunan.

“Kondisi tiap orang saat menerima informasi berbeda-beda, bisa saja pada saat itu dia sedang terpuruk,” kata Ima.

Informasi yang memuat foto korban, video, maupun rekaman CCTV di lokasi berpotensi besar ditirukan. Sebab, saat menerima pesan, otak otomatis mengimajinasikan tindakan. Dari situlah dorongannya semakin menguat. Di era kemudahan teknologi, kabar menyebar cepat, termasuk peristiwa bunuh diri. Informasi mudah pula dibagikan ke ribuan orang.

Menurut Ima, ketika mendapati kabar tersebut sebaiknya masyarakat menahan diri untuk membagikan. Sedangkan bagi media, pemberitaan bunuh diri sebaiknya dilengkapi dengan edukasi. Misalnya, pesan bahwa mengakhiri hidup tidak menyelesaikan masalah, maupun penyertaan hotline penanganan depresi.

Pandangan serupa disampaikan Puput Mariyati, Dosen Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri. Membagikan foto dan video kasus bunuh diri sebaiknya dihindari. Bukan hanya akan mendorong orang-orang mengimitasi tindakan, tapi juga berdampak pada perasaan keluarga dan teman-teman korban.

“Jika ada yang membagikan postingan sebaiknya langsung ditegur,” kata Puput.

Dia menambahkan, bunuh diri bisa dicegah. Kuncinya, orang terdekat harus mampu mendeteksi tanda-tandanya. Hal yang paling umum dijumpai adalah seseorang tiba-tiba membicarakan kematian, perubahan perilaku, dan cepat berganti suasana hati.

Seseorang yang sudah mempunyai ide mengakhiri hidup membutuhkan pertolongan segera. Bagi orang terdekat, cara sederhana yang bisa dilakukan dengan mengajak mengobrol. Dengan begitu, mereka mendapatkan sumber pendukung dan merasa aman. Jika karakternya pendiam atau introvert, maka tidak perlu ragu meminta bantuan psikolog atau psikiater. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri
Previous Post

Badan Perfilman Indonesia dan Mimpi Lompatan Industri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA