PULUHAN benda purbakala berserak di bawah pohon beringin punden Siti Inggil. Pada sejumlah bongkahan batu itu tampak pahatan relief bermotif sulur atau tumbuhan merambat. Terletak sekitar 300 meter di selatan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, para sejarawan meyakini tempat itu adalah candi dari era lampau.
Masyarakat Kelurahan Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri menjadikan lahan seluas 20 meter sebagai lokasi yang dikeramatkan. Siti Inggil (tanah tinggi), dalam pengertian harfiahnya yaitu tanah yang ditinggikan dari bentang alam di sekitarnya.
“Dari cerita para sesepuh, dari dulu area ini memang tinggi,” kata Winarto, Juru kunci punden Siti Inggil saat ditemui Kediripedia pada Rabu, 29 April 2026.
Pria 49 tahun itu menambahkan, batu-batu tersebut dulunya tersusun mengelilingi pohon beringin. Sayangnya, struktur batu hancur ketika pohon beringin di tengahnya tumbang pada tahun 1983. Akar yang tercerabut membuat lubang besar muncul. Warga lalu menutupnya dengan pecahan batu yang berserak di bangunan kuno itu.
Usai musibah tersebut, warga kembali menanam pohon beringin dan pohon preh di punden. Sedangkan pecahan batu yang tak dikuburdiletakkan dekat pohon.

Pada tahun 1996, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan mengekskavasi punden Sitinggil. Hasilnya, ditemukan struktur candi berupa susunan pondasi berbentuk persegi, mirip kolam. Areanya meluas hingga 30 meter di utara situs.
“Setelah diteliti, pondasi itu kembali dikubur. Sekarang area itu jadi halaman parkir Masjid Al-Barokah,” jelas Winarto.
Kepada Kediripedia.com, dia menunjukkan lembar kopian hasil penelitian tersebut. Isinya menjelaskan area Situs Siti Inggil yang mencakup halaman SDN Lirboyo 4. Bangunan berdenah bujur sangkar itu hanya tersisa bagian kaki candi di sisi timur. Sedangkan dinding candi menggunakan batu kapur.
Pria yang juga menjabat Ketua RT 01 itu tak mengetahui jika tempat itu candi. Selama ini, para warga hanya menyebutnya punden. Dari cerita sesepuh, lokasi itu dulunya memang digunakan sebagai tempat peribadatan.
“Sampai saat ini, setiap malam Jumat Legi masih ada orang luar yang datang membawa bunga dan kemenyan,” ungkapnya.
Saat bulan Suro dalam Kalenjer Jawa, warga rutin menggelar bersih desa di punden. Kegiatan dimulai doa bersama, kirab hasil bumi, dan diakhiri dengan tasyakuran.
Erwan Yudiono, sejarawan Kediri membenarkan jika lokasi tersebut adalah candi. Batu berukir sulur dan struktur tangga sebenarnya sudah menguatkan hal tersebut.
“Candi Siti Inggil ini unik, konstruksinya menggunakan batu kapur,” kata pria yang akrab disapa Jeje itu.
Menurutnya, penggunaan material batu kapur ini berbeda dengan candi-candi lain di wilayah Kediri. Umumnya dari batu andesit atau bata merah. Konstruksi batu kapur ini sama dengan situs Setono Gedong. Tempat bersejarah di Jalan Dhoho itu berasal dari era Kerajaan Kediri abad ke-12 Masehi.

Penggunaan batu kapur biasanya hanya digunakan untuk candi induk. Sehingga, Jeje meyakini kawasan sekitar punden masih jadi bagian dari kompleks candi. Hal ini dibuktikan lewat temuan struktur bata merah di pemakaman Pondok Lirboyo dan Bandar Lor yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Siti Inggil. Pada tahun 2018, sekitar 50 meter di utara candi ditemukan pusaka keris.
Sayangnya, usai penelitian tahun 1996, belum banyak kajian pada punden Siti Inggil. Banyak bukti fisik, tapi berbentuk pecahan, sebagian besar sudah dikubur kembali. Sedangkan pada era kapan candi ini berdiri, penggunaan batu kapur bisa jadi petunjuk.
“Dari kesamaan material, kemungkinan pendirian situs ini beriringan dengan Situs Setono Gedong,” jelasnya.
Biasanya, material bangunan suci diambil dari bebatuan di sekitar kawasan yang akan berdiri candi. Di Kediri, tidak ada batu kapur, jadi bahan konstruksinya sengaja didatangkan dari luar daerah. Pendirian candi yang butuh upaya besar itu diduga menyimpan alasan tertentu, perlu dipecahkan lewat kajian-kajian mendalam. (Dimas Eka Wijaya)




