• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Saturday, 18 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

10 Apr 2026
in KULTUR
Reading Time: 2 mins read
Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Jembatan Jongbiru Kediri. (Sumber Foto: Wikimedia)

WILAYAH Kediri ibarat telur ceplok. Kota Kediri sebagai si kuning berada di tengah, sementara kabupaten adalah putih yang melingkarinya. Satu nama, dua wajah. Sama-sama Kediri tapi berbeda entitas administratif.

Pada masa silam, Kediri tidak dibedakan status pemerintahan. Terbelah arus Sungai Brantas, wilayah ini jadi panggung peradaban era Kerajaan Kadiri. Pemisahan mulai diberlakukan pada penjajahan Belanda. Kisahnya bermula ketika Belanda mengesahkan Undang-Undang Gula dan Agraria tahun 1870. Kebijakan ini mendorong perusahaan swasta ikut mengelola ekonomi, sedikit menggeser peran pemerintah kolonial.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

“Dampak dari aturan itu, Kediri jadi tujuan kedatangan orang-orang Eropa dalam jumlah besar untuk bekerja di sektor perkebunan dan industri,” kata Wiretno,  penulis buku Gemeente Kediri: Dinamika Kota Kediri Masa Hindia Belanda, pada Kamis, 1 April 2026.

Sarjana Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) ini menjelaskan, komunitas Eropa itu kemudian menuntut desentralisasi atau otonomi. Pada 1906, permintaan mengatur urusan lokal secara mandiri dikabulkan dengan lahirnya sistem gemeente. Daerah yang sekarang disebut Kota Kediri itu diberikan kewenangan khusus, istilahnya locale belangen.

Status ini diberikan karena faktor tingginya populasi orang Eropa, perkembangan infrastruktur yang relatif maju, serta aktivitas ekonomi padat. Komunitas Eropa itu menetap di kawasan Taman Sekartaji, Mojoroto. Di area ini didirikan rumah-rumah, gereja, sekolah, bank, penjara, kantor polisi, hingga gedung pemerintahan. Hingga kini sejumlah jejaknya masih bisa dijumpai. Sementara penduduk pribumi menempati wilayah pinggiran.

Gerbang gementee Kediri. (Foto: KITLV)

“Pembentukan gemeente menimbulkan gejolak politik. Struktur ini semakin membedakan kelas sosial antara Eropa, Timur Asing, dan pribumi,”  ujar guru MAN 2 Ponorogo itu.

Dampak lainnya, dominasi elit Eropa menguat bahkan cenderung tidak terkontrol. Muncul kesenjangan, peran penguasa lokal mulai memudar.

Sistem gementee tidak hanya diberlakukan di Kediri. Wilayah yang ditetapkan umumnya merupakan pusat perdagangan, pelabuhan, atau kawasan industri. Semua daerah berstatus gemeente pada masa Belanda pada akhirnya disebut “kota”, termasuk di Kediri.

Beberapa di antaranya berkembang jadi kota-kota besar di Indonesia. Antara lain Jakarta, Bogor, Bandung, Sukabumi, Cirebon, Semarang, Salatiga, Tegal, Magelang, Pekalongan, Surabaya, Malang, Blitar, Madiun, Pasuruan, Mojokerto, dan Banyuwangi.

Pemisahan ini berlanjut hingga masa kemerdekaan. Kota dijadikan pusat pemerintahan dan permukiman, sedangkan kabupaten menopang sektor perkebunan. Pemisahan ditegaskan pada 1950, Kota Kediri berstatus kotamadya, sedangkan Kabupaten Kediri menjadi daerah tingkat II.

Sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah di wilayah provinsi, sebutan kotamadya secara resmi diganti dengan “kota” saja. Wilayah Kota Kediri dibagi tiga kecamatan, sementara kabupaten menaungi kawasan dengan karakter agraris di sekelilingnya. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA