FILM The Last Supper (Whisper) menghadirkan kisah tiga mantan tahanan politik pada 1966–1998. Mereka adalah Markus Talam (85), seorang musisi yang dipenjara 10 tahun di kamp konsentrasi Pulau Buru; Sukiman (75), operator radio yang mendekam setahun di penjara Blitar; serta Suyatman (75), seorang petani. Ketiganya ditahan tanpa proses peradilan.
Diproduksi sejak 2017 hingga 2025, film berdurasi 103 menit ini hadir dalam format digital stereo. Teks terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris disuguhkan untuk menjangkau penonton internasional. Film ini akan tayang perdana di program Indonesia Film Showcase (World Premiere) Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025.
“Proses produksi selama delapan tahun perlu ketelitian teknis sekaligus ketahanan emosional. Ini dilakukan untuk menjaga keaslian narasi dan menghormati para penyintas,” kata Daniel Rudi Haryanto, Sutradara The Last Supper (Whisper).
Daniel menggali kisah para penyintas yang berakar pada Operasi Militer “Trisula” di Blitar Selatan, Jawa Timur. Operasi itu digencarkan untuk memburu sisa-sisa anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Namun ketiga tokoh tersebut bukanlah komunis. Mereka warga biasa yang terseret dalam operasi bersenjata tersebut, hingga kehilangan anggota keluarga yang tewas akibat disiksa.

Trauma panjang terus membayangi hidup mereka, sementara keadilan tak pernah sepenuhnya berpihak. Melalui kisah-kisah yang mereka bisikkan, tersimpan harapan agar negara memulihkan hak-hak politik dan kewarganegaraan yang dirampas.
Selama bertahun-tahun, para penyintas masih menyandang status sebagai tahanan politik “dilepas sementara”. Warisan administrasi Orde Baru itu tak pernah dicabut tuntas. Film ini menelusuri bagaimana sebuah dokumen negara dapat membayangi kehidupan seseorang sepanjang hidup melalui ingatan, percakapan, serta fragmen-fragmen keseharian.
“Kami menghadirkan pendekatan visual dan tata suara yang memadukan sinema dan seni rupa,” ujar Daniel.
Dari sisi sinematik, The Last Supper menonjolkan lanskap Blitar Selatan. Lembah, sungai, dan hutan menjadi metafora bisu dari ribuan korban Operasi Trisula. Sepanjang film, atmosfer sunyi, jarak, dan memori menjadi pendekatan visual yang mendampingi kesaksian para penyintas.

Film ini tidak sekadar menuturkan kronologi. Penonton diajak menyelami atmosfer, jarak, keheningan, serta memori yang mengendap dalam tubuh para penyintas. Film ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya tentang peristiwa, tetapi juga tentang luka yang diwariskan lintas generasi.
Selama pelaksanaan Film Showcase (World Premiere) Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025, The Last Supper (Whisper) akan diputar di Empire XXI Studio 5 pada 15.45 WIB. Nonton bareng juga akan digelar di Ruang Literasi Kaliurang pada tanggal Senin, 1 Desember 2025, pukul 09.00 WIB. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post