• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 10 December 2025
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Mengungkap Fabel Kuno Abad ke-14 pada Relief Candi Surowono

02 Dec 2025
in DESTINASI
Reading Time: 3 mins read
0
Mengungkap Fabel Kuno Abad ke-14 pada Relief Candi Surowono

Candi Surowono didirikan pada abad ke-14 era Kerajaan Majapahit. (Foto: Danan)

BARISAN kisah hewan berderet di kaki Candi Surowono, Kabupaten Kediri. Cerita kerbau, buaya, bangau, ikan, hingga kura-kura, terpahat rapi di candi yang dibangun pada abad ke-14 itu. Relief-relief tersebut bukan sekadar hiasan. Setiap guratannya memuat potongan kisah moral yang diwariskan berabad-abad lalu.

Dalam kajian sejarah, ornamen hewan itu dikenal sebagai Kidung Tantri, ajaran kebijaksanaan yang dikemas melalui cerita fabel. Salah satunya mengisahkan bangau yang menyamar sebagai pendeta untuk memperdaya ikan-ikan agar menjadi santapannya. Ada pula kisah kerbau menolong buaya yang terjebak di bawah pohon tumbang.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kawanan Kera yang Tak Pernah Pergi dari Makam Ngujang Tulungagung

Dua Wajah Pasar Setono Betek Kediri: Pagi Tradisional, Malam Skena

Berkunjung ke Pabrik Senjata Manusia Purba di Ponorogo

“Binatang sebagai tokoh utama dimaksudkan agar pembaca dapat dengan mudah mencerna inti cerita yang disampaikan,” kata Sigit Widiatmoko, dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri, Senin, 3 November 2025.

Sigit menyebut, candi pada masa lampau tidak hanya difungsikan sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan. Bangunan itu juga menjadi ruang pendidikan, khususnya untuk menanamkan nilai-nilai moral. Cerita tantri di dinding candi berperan sebagai sarana pembelajaran bagi para pangeran yang kelak akan memimpin kerajaan.

Sigit Widiatmoko, dosen sejarah Universitas Nusantara PGRI Kediri. (Foto: Fatikhin)

Candi Surowono yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kediri didirikan pada era Majapahit. Dibangun pada 1388 Masehi untuk memuliakan Bhre Wengker, paman Raja Hayam Wuruk.

Relief-relief hewan tersebut berakar dari kisah Jataka, cerita kehidupan lampau Sang Buddha. Kemudian berkembang menjadi Tantri Kamandaka pada masa Majapahit abad ke-15 hingga ke-16. Hewan-hewan di kaki candi bukan dekorasi semata. Kisah itu merupakan medium pengingat, cara para leluhur menyampaikan teladan melalui cerita yang mudah dipahami.

“Teladan tak melulu menghadirkan contoh baik, bisa juga dengan contoh buruk agar dihindari,” ujar Sigit.

Kisah buaya, bangau, ikan, dan kura-kura dipahat karena cerita-cerita itu sangat digemari pada masanya. Binatang menjadi tokoh yang merepresentasikan tingkah laku dan karakter manusia. Sejumlah kisah tersebut bahkan masih bertahan hingga kini sebagai dongeng anak.

Kisah kerbau dan buaya di Candi Surowono. (Foto: Danan)

Dengan kandungan nilai edukatifnya, Candi Surowono cocok menjadi tujuan study tour anak-anak sekolah. Pengunjung dapat menikmati estetika relief sekaligus mempelajari sejarah.

“Pengunjung bisa meminta penjelasan tentang relief. Kami sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pemahaman mereka,” kata Imam Maliki, petugas jaga Candi Surowono.

Imam Maliki, petugas jaga Candi Surowono. (Foto: Imam)

Di antara candi-candi peninggalan Majapahit, Surowono memang bukan yang paling megah. Namun, relief­reliefnya menyimpan warisan budaya yang kaya akan nilai seni, spiritualitas, dan pendidikan. (Ahmad Yusuf Dananjaya, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Kisah Para Tahanan Politik Operasi Trisula Blitar dalam Film The Last Supper (Whisper)

Next Post

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

Next Post
Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

Di Munjungan Trenggalek, Undangan Nikah Dipajang di Jalan dengan Banner Mirip Caleg

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (109)
  • DESTINASI (109)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (204)
  • KULTUR (221)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA