RATUSAN reklame berwarna-warni terpasang di pinggir jalan, pertigaan desa, dan berbagai titik keramaian Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek. Disertai foto orang berpose formal, itu bukan milik partai politik maupun pemilihan kepala desa. Warga memilih banner sebagai media menyebarkan undangan hajatan, baik itu pernikahan atau khitanan.
Seperti lazimnya undangan, setiap reklame menampilkan alamat acara. Lengkap dengan detail hari dan tanggal pelaksanaan, hingga hiburan musik campur sari. Banner itu bukan hanya sekadar pengumuman, tapi sudah menjadi budaya lokal di kawasan pesisir selatan Jawa.
“Banner lebih sederhana. Seluruh orang jadi tahu kalau saya hendak mengadakan hajatan besar,” kata Giyono warga Dusun Gabahan, Munjungan pada Selasa, 2 Desember 2025.
Sejak sebulan lalu, Giyono memasang pengumuman pernikahan anaknya di simpang Sentolo, Desa Tawing, Munjungan. Sedangkan acaranya akan digelar selama dua hari pada 8-9 Januari 2026. Pembuatan hingga jasa pemasangan reklame dipesan dari salah satu percetakan di Trenggalek.
“Ini undangan terbuka, siapa saja boleh datang,” ujar Giyono.
Dia mengaku masih mencetak undangan kertas. Namun, menurutnya reklame mampu menghadirkan lebih banyak tamu. Banner berhasil menjangkau orang-orang yang barangkali luput atau belum sempat dikirimi undangan.

Sebelum ada teknologi percetakan banner, warga menulis informasi hajatan di kertas. Lembaran pengumuman lalu difotokopi kemudian ditempel di sejumlah titik kumpul warga.
Di era serba digital, undangan elektronik semakin mudah tersebar misalnya melalui grup whatsapp. Akan tetapi, kemajuan teknologi masih belum mengalahkan spanduk warna-warni. Selain itu, warga merasa reklame dapat mempererat hubungan sosial.
“Pemasangan spanduk idealnya dua bulan sebelum acara, agar masyarakat memiliki cukup waktu untuk mengetahui informasi tersebut,” kata Miswandi, warga Munjungan.
Dia sudah beberapa kali menyelenggarakan hajatan. Miswandi mengaku selalu menggunakan banner dalam setiap kegiatan.
Bagi warga Munjungan, reklame menjadi simbol keterbukaan, sebagai media warga menyapa satu sama lain. Banner menandai bahwa setiap perayaan harus diwarnai rasa kebersamaan. Saat informasi tersebar, sejumlah warga langsung datang membantu atau sekadar mengucapkan selamat.
Metode undangan reklame kini mulai ditiru masyarakat di sejumlah kecamatan lain di Trenggalek. Warga Watulimo, Dongko, Panggul, hingga Pule, ikut membuat undangan hajatan mirip banner partai politik itu. (Novita Diana Austina, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post