RIMBUN tanaman perdu mengelilingi halaman belakang sebuah rumah di Dusun Tuban, Desa Domasan, Kalidawir, Tulungagung. Kandang-kandang kambing berjejer, kolam ikan memenuhi hampir seluruh lahan. Tidak ada lagi struktur batu atau sisa bangunan yang menandai keberadaan Candi Tuban. Salah satu jejak sejarah kawasan Pegunungan Walikukun itu lenyap tanpa bekas.
Sebagian besar warga hanya mendengar kisah Candi Tuban dari mulut ke mulut. Akan tetapi, mereka tak pernah mengetahui seperti apa wujud asli bangunannya. Tak sedikit pula yang bahkan tidak mengenal nama candi itu sama sekali.
“Nama Candi Tuban itu saya pernah dengar, tapi tidak tahu bentuknya seperti apa,” ujar Jaeman, salah satu warga pada Rabu, 3 Desember 2025.

Situs candi di Domasan ini diperkirakan berasal dari Kerajaan Kadiri pemerintahan Raja Bameswara pada abad 11. Bentuk, ukuran, dan arsitektur kedua candi tersebut dapat dilihat dari foto koleksi KITLV yang diambil pada tahun 1926.
Dalam potret tersebut, susunan batu bata Candi Tuban masih kokoh. Sedangkan batu prasasti yang bertarikh 17 Mei 1129 Masehi kini disimpan di Museum Nasional. Prasasti itu adalah yang tertua dari era Kadiri yang pernah ditemukan di Tulungagung.
Petaka arkeologis itu datang pada 1967. Menurut catatan Dwi Cahyono, arkeolog Universitas Negeri Malang, masyarakat beramai-ramai menghancurkan candi tersebut. Batu bata diambil untuk pondasi rumah, sebagian dijadikan bahan menguruk lahan.
“Peristiwa perusakan dilatarbelakangi gejolak politik 1965. Kondisi masyarakat tidak stabil sehingga candi menjadi korban,” ujar Dwiki Andaru Kresna, salah seorang staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung.
Dwiki menyebut, ketidakharmonisan antara para pemeluk agama di kawasan selatan Tulungagung menyebabkan penghancuran Candi Tuban. Menurut keterangan warga, tempat tersebut dianggap sebagai berhala sehingga harus dimusnahkan. Sedangkan Candi Mirigambar yang letaknya hanya 500 meter ke selatan selamat dari pengrusakan. Seorang petinggi desa melarang aksi vandalisme di kawasan tersebut karena angker.
Disbudpar Tulungagung hingga kini belum menetapkan candi itu sebagai cagar budaya. Tak ada satupun bukti fisik membuat situs ini tak masuk kualifikasi. Minimnya penelitian turut mempersempit ruang kajian akademik. Dalam catatan sejarah, nama Candi Tuban barangkali akan tetap eksis, namun keberadaannya perlahan memudar dari ingatan masyarakat. (Rosyta Aprilia Damatari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post