SUSUNAN batu bata berlumut memagari sebuah makam di lereng Bukit Selokurung, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Di bawah pohon-pohon kamboja tua, terbaring sosok Karaeng Galesong. Laksamana angkatan laut Kerajaan Gowa Makassar itu dikenal sebagai tokoh yang gigih melawan kekejaman Belanda pada abad ke-17. Namun, siapa sangka perjuangannya justru berakhir di pedalaman Malang.
“Orang sini memanggilnya mbah Rojo. Gelar ‘karaeng’ itu dalam bahasa Jawa dianggap setara raden atau ningrat,” ujar Basuki, juru kunci makam, Senin 1 Desember 2025.
Karaeng Galesong tiba di Jawa akibat pengasingan politik usai pecah Perang Makassar. Kerajaan Gowa-Tallo kalah dari VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) lewat Perjanjian Bongaya tahun 1667. Akan tetapi, banyak bangsawan dan panglima Makassar menolak tunduk. Karaeng Galesong yang merupakan anak Sultan Hasanuddin, memilih melanjutkan perlawanan bersenjata.

Tokoh bernama asli I Maninrori itu memimpin pelaut dan prajurit Makassar berlayar meninggalkan Sulawesi. Mereka bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain di Indonesia, serta menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan yang juga memusuhi VOC. Jalur laut menjadi ruang perlawanan mulai dari Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, hingga pesisir Jawa.
“Karaeng Galesong datang ke Jawa sebagai bagian dari perlawanan terhadap VOC, untuk membantu Raden Trunojoyo,” kata Basuki.
Raden Trunojoyo merupakan bangsawan Madura yang menentang Kesultanan Mataram karena berkomplot dengan VOC. Kehadiran Karaeng Galesong memperkuat perlawanan tersebut, terutama di wilayah Jawa Timur. Dua sosok itu berasal dari latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan kepentingan politik dan musuh yang sama.
Galesong sadar, bersekutu dengan bangsawan Madura berarti mengajak perang di dua kekuatan besar sekaligus. Antara melawan kompeni dan menantang kerajaan terbesar di Jawa. Namun hasrat menebus kehormatan Makassar mendorongnya menerima ajakan tersebut.

Pasukan gabungan Madura dan Makassar kemudian melancarkan serangan ke kota-kota strategis di jalur utara Jawa Timur. Pelabuhan di Tuban, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Pajarakan, Gombong, dan Gerongan dibakar hingga rata dengan tanah.
“Trunojoyo menguasai jalur pedalaman, sementara Galesong memegang kendali laut dan pesisir. Mereka berhasil memadukan dua kekuatan, agraris dan maritim,” tulis Hermanus Johannes de Graaf dalam buku Islamic States in Java 1500–1700.
Kemenangan perang tak serta merta membuat Galesong dan Trunojoyo akur. Ketegangan yang memuncak pada akhir 1676 hingga Januari 1677, berubah menjadi konflik terbuka kedua tokoh.
Galesong memilih menyingkir ke Ngantang, Malang, kemudian dikabarkan sakit dan meninggal pada 21 November 1679. Akan tetapi, versi lain menyebut bahwa Galesong dibunuh Trunojoyo karena diam-diam menjalin kontak dengan utusan Mataram.
Kisah ini diceritakan dalam buku Babad Tanah Jawi. Trunojoyo menyeret panglima Makassar itu ke kebun belakang, membunuhnya, lalu menaruh jenazahnya di dalam sumur. Cerita tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya. Namun, jika melihat bentuk makam Galesong yang berbentuk persegi dengan ukuran setengah meter, kemungkinan besar kisah tersebut fakta.
Di lereng bukit Selokurung, makam kecil itu menyimpan narasi besar jejak laksamana Gowa yang menutup hidupnya di tanah Jawa. Dipayungi pohon kamboja tua, pusara itu menjadi simbol kegigihan, perjuangan, dan perlawanan pada kekejaman penguasa. Basuki dan warga sekitar mengenang Karaeng Galesong sebagai ksatria Makassar yang gugur jauh dari kampung halamannya. (Arinda Nadzwa, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post