PRIA bercelana pendek ala Bob Sadino itu duduk di kursi kedai kopi. Mohammad Nasikin sibuk membalas pesanan kerupuk mentah dari para pelanggan. Bisnis yang dikelola lelaki asal Desa Sambi, Kabupaten Kediri ini sukses merambah pasar di Jawa, hingga ke berbagai pulau di Indonesia.
Sarjana ekonomi syariah ini memulai usaha ketika kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri pada 2016. Bisnis kerupuk awalnya hanya pekerjaan sambilan Nasikin saat masih aktif jadi aktivis mahasiswa. Kala itu, dia bergabung di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dedikasi, Teater, serta Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
“Pabrik pengolahan kerupuk tidak memiliki distributor resmi. Jadi saya lihat ada peluang penghasilan dari situ,” kata Nasikin, Rabu, 26 Februari 2025.
Menurutnya, menjadi seorang distributor atau agen, modal utamanya bukanlah uang. Akan tetapi, kegigihan, ketekunan, dan kepercayaan para kolega.
Nasikin mulai membangun relasi dengan produsen kerupuk ketika menjadi kernet truk pengangkut gula merah. Kedekatan dengan pelanggan perlahan terbangun. Selanjutnya dia diminta memasok kerupuk di beberapa toko.
“Awalnya hanya 4 jenis kerupuk mentah. Pelanggannya toko-toko grosir di Jawa Tengah,” ujar pemilik Usaha Dagang (UD) Sumber Rejeki itu.
Pada 2019, dia berkeliling ke Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Di setiap pulau yang disinggahi, dia menetap selama sebulan untuk memasarkan dagangan. Sikap berani mengambil resiko itu dia pelajari ketika bergabung dalam organisasi mahasiswa. Termasuk, pentingnya membangun relasi untuk menjaga kelangsungan bisnis.
Dari mulanya hanya 4 jenis, kini Nasikin memasarkan 70 jenis kerupuk mentah. Usaha yang ditekuni selama hampir sepuluh tahun kini berkembang pesat.

Kerupuk mentah itu dikirim dari beberapa pabrik yang tersebar di pulau Jawa. Misalnya, Kediri, Jember, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Magelang, Bandung, bahkan ada yang dari Palembang. Para produsen ini mempercayakan UD. Sumber Rejeki untuk menyebarkan kerupuk ke berbagai daerah di Indonesia.
“Tak semua jenis laku setiap hari, melainkan sesuai musim,” ujar pria dua anak itu.
Misalnya menjelang lebaran, yang paling banyak diburu adalah kerupuk kulit, makaroni, emping, dan aneka jajanan. Beda lagi jika musim orang nikah, yang laku adalah kerupuk udang dan ikan. Namun saat hari biasa kerupuk lauk yang paling banyak terjual.
Pasokan kerupuk itu dihimpun di toko miliknya di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Di tempat itu, dia juga melayani pembelian eceran. Dalam sehari, rata-rata penjualan bisa mencapai 5 ton kerupuk mentah yang dikirim ke beberapa agen luar daerah, toko grosir, dan penggoreng.
Nasikin juga melayani penjualan online. Produk-produk miliknya dia pasarkan menggunakan Facebook. Dia menggunakan layanan iklan agar sebaran postingan makin luas.
“Menawarkan dagangan di Facebook juga menambah wilayah penjualan,” kata Nasikin.
Saat ini, para pelanggannya hampir ada di seluruh daerah di Indonesia. Di antaranya, Aceh, Palembang, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Cita-cita Nasikin menjadi seorang pengusaha telah terwujud. Dia tak menyangka kerupuk bisa mengubah hidupnya. Berbekal kegigihan dan wawasan ketika masih jadi aktivis mahasiswa, dia tak berhenti memperluas penjualan kerupuk mentah. (Dimas Eka Wijaya)






