RATUSAN melon bergelantungan di green house yang dikelola Bambang Suseno. Terletak di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, sebanyak 5 varietas cucumis melo berhasil dibudidayakan di kawasan permukiman padat. Mengusung konsep urban farming, dia menyulap lahan 400 meter persegi yang sebelumnya semak belukar menjadi wisata petik buah di tengah kota.
Tiap pagi dan sore hari, destinasi Omah Melon itu ramai pengunjung. Suasana sekitar rindang, sebab batang-batang melon dijulurkan pada rangka bambu horizontal. Selain berbelanja, wisatawan bisa memanfaatkan rumah kaca itu sebagai spot foto.
“Kita memperlakukan melon seperti bayi. Dari mulai tanam, berbunga, hingga berbuah, butuh perhatian ekstra,” kata Bambang, Jumat, 28 Februari 2025.
Melon yang tumbuh di green house kini lebih dari seribu pohon. Media tanamnya bukan pot berisi tanah, melainkan instalasi pipa air. Konsep ini populer disebut hidroponik. Pipa-pipa itu terhubung ke tiga tandon sebagai tempat pemberian nutrisi, pengontrol suhu, dan volume air.
Pria 48 tahun ini menjelaskan, rumah kaca berfungsi melindungi melon dari serangan hama dan penyakit. Sehingga, tanaman tak perlu disemprot pestisida. Asalkan cuaca stabil, masa panen buah bisa berlangsung sepanjang tahun. Lima jenis melon yang dibudidayakan yaitu luna, sweet net, sweet dew, kirin, dan mushmelon.

“Saya pastikan semua buah yang ditanam di sini rasanya manis,” kata lulusan kampus Sekolah Tinggi Cahaya Surya Kediri itu.
Dunia pertanian sudah ditekuninya sejak masih kuliah pada 2009. Sebelumnya, Bambang mengerjakan sawah jagung dan tebu. Pada 2023, dia tertarik pada melon karena di Kota Kediri konsep urban farming belum populer. Dari kacamata bisnis, buah melon banyak dicari serta harganya stabil.
Metode tanam hidroponik itu dipelajarinya secara otodidak. Termasuk menghitung masa hidup tanaman melon selama 100 hari. Pada periode itu, masa panen berlangsung 3 kali dengan jumlah total rata-rata sebanyak 1 ton. Sedangkan harga melon dipatok 25 ribu rupiah per kilo.
Bambang menyebut produknya dengan melon premium. Jadi, harganya lebih mahal dari pada yang ditanam di sawah. Melon premium ini biasanya marak dijumpai di supermarket. Namun, di mall harganya lebih melambung, bisa 35-50 ribu rupiah per kilo.

“Tantangan merawat melon yaitu cuaca tak menentu. Cara mengatasinya dengan memperhatikan suhu air dan memberikan nutrisi tambahan,” ujar Bambang.
Pada September 2024, Omah Melon mendapatkan Sertifikat Prima 3 dan izin edar Pangan Segar Asal Tumbuhan-Produk Dalam Negeri Usaha Kecil (PSAT-PDUK). Sertifikasi ini bukan hanya sekedar label, tetapi jaminan produk yang dibeli memenuhi kualitas, keamanan, dan halal.
Salah satu pelanggan Omah Melon Kediri yaitu Laila. Dalam seminggu, perempuan 60 tahun itu sudah dua kali berkunjung. Melon favoritnya yaitu jenis sweet dew. Warna kulit buahnya putih, rasa lebih manis, serta renyah ketika digigit.
“Bulan lalu saya tidak kebagian karena stok habis,” kata pensiunan guru itu.
Menurutnya, harga melon di green house itu lebih murah daripada di supermarket. Selain itu, pengunjung dibolehkan mencicipi sebelum membeli.

Para konsumen Omah Melon hampir seluruhnya adalah warga Kota Kediri. Strategi penjualan selama ini mengandalkan informasi mulut ke mulut.
Bambang belum berani membuka order lewat online. Pesanan dari luar daerah sebenarnya mulai berdatangan, namun jumlah produksi belum bisa memenuhi.
“Tiap panen, melon langsung habis diserbu. Kebanyakan pembeli ibu-ibu,” ujar Bambang.
Ke depan, dia berupaya menambah hasil produksi. Sejumlah upaya yang ditempuh di antaranya menerapkan konsep hidroponik box dari Jepang. Lewat metode ini, satu pohon bisa menghasilkan 7-8 buah. Cara lainnya yaitu menambah luas green house dengan memanfaatkan ruang-ruang perkotaan. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post