LAGU “Gugur Bunga” menggema di tangga menuju makam Tan Malaka pada Jumat, 21 Februari 2025. Para mahasiswa, pegiat budaya, dan masyarakat menggelar kirab peringatan 76 tahun wafatnya pahlawan berjuluk Bapak Republik Indonesia itu.
Sesampainya di pusara Tan Malaka, rombongan menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan tahlil, potong tumpeng, dan tabur bunga. Di akhir sesi, mereka merefleksikan pemikiran pengarang buku Naar de Republiek tersebut. Di antaranya, kritis, berani melawan ketidakadilan, serta merdeka 100 persen.
Para generasi muda antusias mengikuti haul Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kabupaten Kediri itu hingga selesai. Mereka datang dari berbagai kampus seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, dan Universitas Islam Negeri Ali Rahmatullah Tulungagung.
“Saya mengikuti kegiatan haul Tan Malaka sudah dua kali ini,” kata M Fakhru Rizal Sauqi, Mahasiswa Prodi Sejarah UNP Kediri.
Menurutnya, jasa-jasa Tan Malaka ketika menegakkan kedaulatan Indonesia tak boleh dilupakan. Buah pikiran tokoh asal Pandam Gadang, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat itu juga revolusioner. Pada era terkini, ide dan gagasannya masih relevan.
Kutipan penulis buku Madilog itu banyak menginspirasi generasi muda khususnya mahasiswa. Misalnya, perjuangan hak kaum marjinal, termasuk dorongan bagi pemuda agar berperan aktif pada nilai keadilan dan demokratis.
Tujuan lain dari dihelatnya peringatan tersebut melestarikan jejak Tan Malaka di Kediri. Masyarakat diajak menjaga makam agar tetap terawat.

Dalam catatan sejarah, kematian sosok bernama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka ini misterius selama puluhan tahun. Dia dikabarkan meninggal pada 1949, namun keberadaan makamnya tak diketahui. Misteri akhirnya terkuak berkat sejarawan asal Belanda, Harry A. Poeze.
Dalam bukunya berjudul Tan Malaka, Pergulatan Menuju Republik 1897-1925, Poeze melacak makam Tan Malaka lewat dokumen-dokumen militer. Keyakinan Poeze bahwa kuburan Tan Malaka berada di Selopanggung makin menguat dari keterangan Tolu, salah seorang warga. Tan dimakamkan di samping makam sesepuh desa dengan penanda berupa batu besar.
Usai ditemukan, kuburan Tan Malaka mulai dikunjungi peziarah. Tiap perayaan hari lahir dan wafatnya Tan, orang dari berbagai kalangan dan daerah berbondong-bondong mendatangi pusara tersebut.
“Kegiatan seperti ini rutin dilakukan setiap tahun sejak 2007,” kata Imam Mubarok, perwakilan Tan Malaka Institute.
Menurut pria yang akrab disapa Gus Barok itu, peringatan Haul ke-76 ini bukan hanya sekadar mengenang seorang revolusioner, melainkan juga merefleksikan gagasan dan perjuangannya dalam membangun bangsa. Dia menganggap, Tan Malaka adalah sosok pemikir yang meletakkan dasar cara berpikir kritis. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post