• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 9 June 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Botolengket, Candi yang Hancur di Tengah Permukiman Kota Kediri

09 Jun 2026
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
Botolengket, Candi yang Hancur di Tengah Permukiman Kota Kediri

Kawasan Botolengket Kota Kediri. (Foto: Dimas)

BATU bata setebal sekitar 10 sentimeter tersusun rapi di pagar rumah warga Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Benda yang diduga cagar budaya membentang di tepi jalan sepanjang kurang lebih 50 meter. Di beberapa rumah lain, bata merah itu jadi pembatas halaman, berdiri setinggi sekitar satu meter tanpa lapisan plester.

Dari tumpukan bata itulah kawasan ini dikenal dengan nama Botolengket. Nama tersebut begitu melekat hingga diabadikan jadi nama jalan di kampung yang berada di timur Gunung Klotok.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Teka Teki Siti Inggil, Candi di Dekat Pondok Lirboyo

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

“Kalau dilihat lebih detail, batu bata di sana itu seperti batu candi,” kata Endah Setyowati, Pamong Budaya Ahli Muda Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Kediri, Senin, 8 Juni 2026.

Menurut Endah, ukuran batu bata Botolengket jauh lebih besar dibandingkan bata masa kini. Ketebalannya sekitar 10 sentimeter, sementara panjang dan lebarnya melebihi 20 sentimeter. Warnanya gelap dengan tekstur lebih padat. Ciri-ciri tersebut kerap ditemukan pada struktur bangunan kuno era lampau.

Saat melakukan penelusuran pada 2018, Endah masih menjumpai banyak bata merah besar berserakan di sekitar permukiman. Dia juga menemukan batu andesit yang lazim digunakan sebagai komponen bangunan candi. Temuan itu berada di halaman rumah warga hingga sekitar Mushala Al-Karim.

Struktur bata yang menjadi cikal bakal penamaan Botolengket. (Foto: Dimas)

Endah menduga kawasan Botolengket pernah menjadi lokasi bangunan kuno, kemungkinan bagian kaki candi. Namun struktur itu sudah tidak lagi utuh. Bata-bata kuno tercerai-berai, sementara sebagian batu andesit dimanfaatkan warga sebagai pembatas taman.

“Beberapa bongkahan batu bata itu ada yang disimpan di Museum Airlangga Kota Kediri,” ujarnya.

Endah menilai peluang ekskavasi di Botolengket nyaris tidak ada. Struktur bangunan yang diduga pernah berdiri di kawasan itu sudah hancur dan tercerai-berai. Akibatnya, konteks asli temuan arkeologis telah hilang. Dalam kajian arkeologi, kondisi itu tidak memungkinkan diekskavasi karena sulit menghasilkan data ilmiah.

Meski demikian, para sejarawan Kediri meyakini Botolengket pernah menjadi lokasi bangunan dari masa Hindu-Buddha. Hanya saja, bentuk dan fungsi bangunan tersebut belum pernah dapat dipastikan.

“Tahun 1980-an Suaka Purbakala Trowulan Jawa Timur sudah mendata temuan artefak di Botolengket,” ujar sejarawan Kediri, Novi Bahrul Munib.

Menurut Novi, pendataan saat itu mencatat temuan yoni, batu berbentuk persegi dengan lubang di bagian tengah yang lazim ditemukan pada situs Hindu. Selain itu terdapat sejumlah komponen bangunan kuno dan batu-batu peninggalan masa lampau yang tersebar di kawasan tersebut.

Hingga kini, Botolengket masih menyimpan banyak tanda tanya. Usai pendataan tahun 1980-an, tidak ada identifikasi lanjutan untuk memastikan bentuk bangunan yang pernah berdiri di sana. Seiring waktu, permukiman makin padat. Jejak struktur yang diduga cagar budaya hanya tersisa puing-puing. Situs Hindu-Buddha itu bisa dikatakan lenyap. Nama Botolengket kini lebih dikenal sebagai nama jalan daripada situs sejarah.

Botolengket bukan satu-satunya situs sejarah yang kehilangan bentuk aslinya. Nasib serupa juga terjadi pada objek cagar budaya yang ditemukan di area pemakaman umum Perumahan Candra Kirana, Kota Kediri, serta Situs Bogem di Kabupaten Kediri. Di kedua lokasi tersebut, sejumlah artefak berhasil diamankan untuk kepentingan pelestarian dan penelitian. Namun, struktur bangunan sebagai latar utama temuan, telah rusak. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri
Previous Post

Teka Teki Siti Inggil, Candi di Dekat Pondok Lirboyo

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA