ORANG-orang lebih sering mengenang Gus Miek melalui kisah-kisah yang sulit dijelaskan nalar. Ulama kelahiran Kediri, 17 Agustus 1940 itu konon bisa berjalan di atas air. Ada pula kisah mobilnya tetap melaju meski tangki bensin diisi air sungai. Sebagian pernah melihatnya berada di dua tempat pada waktu bersamaan. Berbagai cerita itu terus membekas di ingatan kolektif masyarakat hingga berbagai generasi.
Padahal, seperti lazimnya para kiai besar pada masanya, KH. Hamim Thohari Djazuli—nama asli Gus Miek—juga ulama pengarang kitab. Bukan fikih, nahwu-shorof, atau risalah tasawuf, tapi himpunan doa yang lahir dari pengalaman dakwahnya menjumpai orang-orang pinggiran. Kitab itu bernama Dzikrul Ghafilin. Secara harfiah berarti “zikir bagi orang-orang yang lupa atau lalai”.
Kiai asal Pondok Pesantren Ploso, Mojo, Kediri itu percaya bahwa zikir bukan hanya milik orang saleh, tapi juga mereka yang merasa paling jauh dari Tuhan. Gus Miek menghendaki sebuah wirid sederhana dan mudah diamalkan siapa saja. Susunan bacaannya terdiri atas ayat-ayat Al-Qur’an, Asmaul Husna, istigfar, salawat, tahlil, dan doa-doa dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Cara dakwah Gus Miek itu dikenang Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) lewat esainya berjudul “Wajah Sebuah Kerinduan”. Ditulis pada 13 Juni 1993, Gus Dur menggambarkan Gus Miek sebagai sosok yang menjalani dua dunia sekaligus. Di satu sisi, dia hidup sebagai kiai pesantren yang akrab dengan sema’an Al-Qur’an dan majelis zikir. Di sisi lain, kerap mengunjungi diskotek, klub malam, kedai kopi, hingga kawasan lokalisasi.
Bagi orang yang hanya melihat permukaannya, kehidupan itu tampak paradoks. Gus Dur bahkan menulis bahwa Gus Miek akrab dengan para penghuni dunia malam, menikmati bir, dan gemar mengisap rokok Wismilak bungkus hitam. Gambaran itu nyaris mustahil dilekatkan pada seorang kiai.
“Kontradiktif? Ternyata tidak, karena di tempat itu ia berperan sama. Memberi kesejukan kepada jiwa gersang, memberikan harapan kepada putus asa, menghibur mereka yang bersedih, menyantuni lemah, dan mengajak semua pada kebaikan,” tulis Gus Dur.
Menurut Gus Dur, Gus Miek selalu meyakini setiap manusia memiliki kesempatan memperbaiki diri. Baik itu petuah bagi jamaah maupun tamu dari kalangan pejabat, pesan yang dibawa Gus Miek tetap sama. Pesannya tak berubah bahkan ketika mendengarkan keluh kesah para perempuan penghibur di sudut-sudut dunia malam.

Bagi Gus Miek, tidak ada tempat yang terlalu gelap untuk jadi ruang berzikir. Pengalaman berjumpa dengan beragam manusia itu menguatkan makna Dzikrul Ghafilin. Sebagai jembatan dakwah untuk masyarakat, amalan ini tidak menanyakan latar belakang pembacanya, menghakimi masa lalunya, dan tidak mensyaratkan kesempurnaan agar mengingat Tuhan.
Sepeninggal Gus Miek pada 5 Juni 1993, jalan dakwah yang dirintisnya tidak berhenti. Dakwah diteruskan anak-anak dan ulama dari Pesantren Ploso. Coraknya beragam, namun berpijak pada semangat menghadirkan zikir seluas mungkin pada masyarakat.
Majelis Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab diteruskan oleh putra sulungnya, Gus Sabuth Panoto Projo. Di tangannya, jaringan majelis zikir yang pernah dirintis Gus Miek tetap hidup dan berkembang di berbagai daerah. Majelis menjelma jadi ruang berkumpul ribuan jamaah melantunkan wirid dan doa bersama.
Jejak itu juga dilanjutkan oleh adiknya, Agus Tijani Robert Saifunnawas atau Gus Robert. Dia mempertahankan tradisi sema’an Al-Qur’an dan majelis zikir yang telah menjadi napas dakwah ayahnya. Melalui berbagai forum keagamaan, Gus Robert menjaga agar semangat mengingat Allah tetap menjangkau masyarakat lintas lapisan.
Gus Thuba, cucu Gus Miek membangun Yakuza Maneges. Komunitas ini merangkul orang-orang pinggiran, para “santri jalur kiri”, lalu mengajak mereka kembali mengingat Allah. Yakuza Maneges tak hanya hadir di majelis-majelis zikir. Sesekali, komunitas ini muncul di tengah persoalan sosial yang menyita perhatian publik. Salah satunya ketika membongkar korban dugaan kekerasan seksual di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Malang.
Sementara itu, ulama Ponpes Ploso lainnya memilih jalan dakwah yang lebih dekat dengan dunia anak muda. Gus Kautsar, keponakan Gus Miek mengembangkan Teras Gubuk. Ruang diskusi dan pengajian ini memadukan tradisi pesantren dengan persoalan-persoalan sosial yang dihadapi generasi muda. (Kholisul Fatikhin)




