DI layar telepon genggam, sebuah titik lokasi terbaru muncul di area Taman Sekartaji, Kota Kediri. Taman Prameswati, begitu yang tercantum di Google Maps. Hanya beberapa hari setelah taman diresmikan pada Jumat, 31 Juli 2026, keberadaannya segera mengundang perhatian publik. Sebab, sebutan Ruang Terbuka Hijau (RTH) itu serupa dengan nama belakang Wali Kota Kediri saat ini, Vinanda Prameswati.
Ramai diprotes warga, Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri memberi klarifikasi penamaan taman tersebut. Indun Munawaroh, Kepala DLHKP Kota Kediri menjelaskan bahwa pemilihan Prameswati merupakan inisiatif dinas. Menurut dia, nama tersebut diambil dari bahasa Sanskerta yang bermakna perempuan utama atau sosok perempuan yang dihormati.
“Taman ini hadir sebagai wujud penghormatan atas peran-peran perempuan yang ada di Kota Kediri. Jadi taman ini tidak merujuk pada salah satu tokoh, ya,” ujar Indun melalui video di akun Instagram @dlhkp_kotakediri yang diunggah pada Senin, 17 Agustus 2026.
Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredakan hujatan. Kolom komentar unggahan DLHKP Kota Kediri masih dipenuhi pertanyaan pemilihan nama Prameswati. Beberapa komentar bahkan menyebut ada banyak figur perempuan di Kediri yang lebih layak. Salah satu yang muncul adalah Galuh Candra Kirana, tokoh dalam cerita Panji yang memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah dan identitas budaya Kediri.
Penamaan ruang publik di Kota Kediri yang menyerupai nama penguasa itu mengingatkan pada sejumlah kejadian serupa di berbagai belahan dunia. Di Irak, Baghdad pernah memiliki kawasan yang dikenal sebagai Saddam City. Nama itu merujuk pada Saddam Hussein, presiden Irak yang memimpin pada 1979-2003. Contoh lain datang dari Uni Soviet. Stalingrad, kota di tepi Sungai Volga, menggunakan nama Josef Stalin pada 1925.
Seiring waktu, nama-nama tersebut tidak berumur panjang ketika kekuasaan berganti. Pertarungan politik seketika menghilangkan figur-figur yang sebelumnya diabadikan di ruang publik. Setelah rezim Saddam Hussein tumbang pada 2003, Saddam City kembali menggunakan nama Sadr City. Sementara Stalingrad berganti menjadi Volgograd pada 1961, ketika pemerintahan Nikita Khrushchev menjalankan kebijakan destalinisasi.
Kasusnya berbeda dengan George Washington di Amerika Serikat. Nama presiden pertama negeri Paman Sam itu digunakan pada berbagai tempat dan fasilitas, termasuk ibu kota negara, Washington, D.C. Upaya tersebut merupakan penghormatan atas jasanya mendirikan Amerika Serikat. Washington tidak sedang berkuasa ketika namanya diabadikan menjadi nama ibu kota.
Di Indonesia, penamaan jalan, taman, gedung, hingga bandar udara dengan tokoh sejarah juga merupakan praktik lazim. Jalan Jenderal Sudirman, A.H. Nasution, Diponegoro, dan Gatot Subroto, penamaan jadi cara menjaga ingatan terhadap tokoh yang dianggap berjasa. Sedangkan di Kediri, figur masa kerajaan banyak mengisi ruang dan fasilitas publik. Misalnya Hutan Joyoboyo, Jembatan Brawijaya, Taman Sekartaji, dan Taman Kilisuci.
Jika Joyoboyo membawa ingatan warga kepada masa kejayaan Kediri abad ke-12. Sedangkan Sekartaji membuka memori pada folklor dan legenda Panji dari tepi Sungai Brantas. Maka ingatan kisah fenomenal apa yang hendak dihadirkan oleh Prameswati?
Ada dua kemungkinan bagi Taman Prameswati. Namanya bertahan di ruang publik seperti halnya Washington, Joyoboyo dan Sekartaji, atau tersingkir layaknya Stalingrad atau Saddam City. (Kholisul Fatikhin)




