INGATAN peristiwa Operasi Trisula di Blitar Selatan kembali dibicarakan lewat layar film. Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit (PRAKSIS) menggelar nonton bersama dan diskusi film dokumenter The Last Supper (Whisper) karya sutradara Daniel Rudi Haryanto pada Jumat, 25 September 2026.
Forum Praksis Seri ke-24 itu berlangsung pukul 17.00–19.00 WIB di Ruang Rapat Fransiskus, Kolese Kanisius, Jakarta. Rudi hadir dalam pemutaran untuk berbicara mengenai proses pembuatan film dan kisah para penyintas yang menjadi subjek dokumentasinya.
“Film ini didedikasikan kepada ketiga korban secara khusus dan para korban kekerasan negara terhadap masyarakat sipil secara umu, yang hingga hari ini masih terus memperjuangkan hak mereka,” kata Rudi, sutradara film The Last Supper (Whisper).
Filmberdurasi 109 menit itu merekam kehidupan tiga mantan tahanan politik. Mereka dituduh sebagai simpatisan komunis dalam rangkaian peristiwa Operasi Trisula 1968 di Blitar Selatan. Ketiganya adalah Markus Talam, 87 tahun; Suyatman, 76 tahun; dan Soekiman, yang meninggal pada 2020 dalam usia 72 tahun.
Sinema bergenre dokumenter tersebut tidak sekadar merekonstruksi peristiwa penahanan. Rudi mengikuti ingatan yang masih tersisa pada para penyintas setelah puluhan tahun berlalu. Gamelan, rumah, ladang tebu hingga kawasan hutan jati menjadi bagian dari lanskap ingatan mereka.
Talam, misalnya, masih mengaitkan suara gamelan dengan gedoran pintu aparat pada masa lalu. Suyatman menyimpan cerita tentang Goa Tikus, sebuah lokasi yang dalam kesaksiannya berkaitan dengan eksekusi sejumlah tahanan. Sementara itu, pengalaman penahanan dan stigma sebagai “komunis” menjadi bagian dari kehidupan mereka setelah keluar dari tahanan.
Rudi mengerjakan film tersebut selama 2017–2025 di sejumlah wilayah Blitar Selatan, antara lain Pasiraman, Ngrejo, dan Bakung. Dia juga merekam kawasan ladang tebu yang dikaitkan dengan Goa Tikus serta hutan jati Ngrejo yang dalam kesaksian disebut sebagai lokasi kuburan massal. Rudi menggunakan animasi, desain suara dan simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan.
Judul film merujuk pada sebuah “santap malam terakhir”. Ketiga penyintas berkumpul, berbagi cerita dan menyimpan harapan tentang keadilan yang belum sepenuhnya mereka rasakan. Bagi mereka, pembebasan dari tahanan tidak serta-merta mengakhiri persoalan. Mereka masih membawa Surat Pelepasan Sementara dari pemerintah Orde Baru.
Pemutaran di Forum Praksis menjadi kesempatan untuk membawa kembali persoalan tersebut ke ruang publik. Setelah film selesai diputar, forum dilanjutkan dengan diskusi.
The Last Supper (Whisper) sebelumnya diputar perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025. Film ini kemudian mengikuti Festival International de Cinéma Asiatique de Tours di Prancis pada April 2026 dan meraih penghargaan Best Film. Rudi juga pernah meraih Directors Guild of Japan Award di Yamagata International Documentary Film Festival serta penghargaan di CinemAsia Amsterdam. (Kholisul Fatikhin)




