• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Friday, 1 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Bencana Kemarau Basah di Lereng Gunung Wilis

28 May 2025
in PEOPLE
Reading Time: 2 mins read
Bencana Kemarau Basah di Lereng Gunung Wilis

Jalan di Desa Blimbing, Mojo yang longsor diterjang banjir. (Foto: Devi)

SELAMA hampir delapan jam, hujan deras mengguyur kawasan lereng timur Gunung Wilis pada Jumat, 16 Mei 2025. Akibatnya, sebanyak empat desa di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri dilanda tanah longsor dan banjir bandang. Pamongan, Blimbing, Ngetrep, dan Petungroto adalah desa-desa yang terkena bencana itu.

Dari data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, sejumlah 24 rumah di Petungroto rusak akibat tanah longsor. Dua rumah di Pamongan dilaporkan hancur. Di Ngetrep, akses jalan tertutup. Sedangkan di Blimbing, dua rumah rusak. Sungai Bruni yang meluap bahkan membuat salah seorang warga terseret arus.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

“Salah satu warga kami hilang, beberapa hewan ternak warga ikut hanyut,” kata Djo Ari, Kepala Desa Blimbing pada Jumat, 23 Mei 2025.

Dia menjelaskan bahwa hujan deras di Blimbing terjadi pada malam hari sekitar pukul 9 malam. Saat itu aliran Sungai Bruni sudah naik, tapi masih normal. Ketika tepat pukul 12 malam, banjir membawa tanah, lumpur, dan bebatuan dari Pamongan, desa yang wilayahnya di atas Blimbing.

Material yang terseret arus itu menerjang tebing sungai. Jalanan rusak, jembatan putus, dan dua rumah warga yang berada di dekat bantaran sungai ikut hancur. Termasuk rumah milik warga yang hilang itu.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir dan longsor di Kecamatan Mojo terjadi akibat cuaca ekstrem pada peralihan musim hujan ke kemarau. Fenomena alam ini dikenal pula dengan kemarau basah.

“Pada fase ini, atmosfer tidak stabil, sehingga cuaca berubah secara cepat dan ekstrem,” kata Permata Salsabila Hananto, Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Dhoho Kediri.

Dia menambahkan, hujan lebat di musim kemarau dipicu gelombang Equatorial Rossby, Low, dan Kelvin. Ketiga gelombang itu melintas di kawasan Gunung Wilis, sehingga menimbulkan curah hujan intensitas tinggi dengan durasi kurang lebih enam jam. Rentang waktu hujan biasanya dimulai dari pukul 1 siang hingga pukul 9 malam.

Fenomena kemarau basah yang melanda kawasan Gunung Wilis. (Foto: BMKG)

Pada halaman resmi BMKG, kemarau basah akan berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia hingga Agustus 2025. Berdasarkan pemantauan dinamika iklim global dan regional, di tahun ini musim kemarau diprediksi lebih singkat. Hujan masih terus turun karena dipengaruhi aktivitas atmosfer yang tidak stabil.

“Bagi warga Kabupaten Kediri di wilayah pegunungan harus selalu waspada,” kata Stevanus Djoko Sukrisno, Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri melalui rilis berita pada 19 Mei 2025.

Menurutnya, saat hujan turun deras, resiko bencana meningkat. Masyarakat bisa mengidentifikasi tanda-tanda tanah longsor seperti air sumur atau aliran sungai berubah warna, dinding rumah retak, dan suara gemuruh dari arah bukit. (Devi Armandasari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#Kediri
Previous Post

Angka Kegemaran Membaca di Kota Kediri Meningkat

Next Post

Ken Sanada, Peniup Seruling Purba dari Kediri

Next Post
Ken Sanada, Peniup Seruling Purba dari Kediri

Ken Sanada, Peniup Seruling Purba dari Kediri

Pemkot Kediri Menanggung Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS

Pemkot Kediri Menanggung Layanan Kesehatan yang Tidak Dijamin BPJS

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA