DUDUK bersila, Ken Sanada asyik memainkan alat musik tiup okarina. Jari tangannya lincah mengolah nada-nada pentatonis. Suara instrumen berbentuk oval ini mulanya mirip peluit. Tak berselang lama, bunyinya menyerupai hembusan angin, kicauan burung, dan air mengalir. Tiupan ritmis lelaki berambut gondrong itu seperti membawa pendengarnya menuju alam liar.
Ken membuat sendiri okarina dari kayu pohon nangka. Ketertarikannya pada salah satu intrumen yang paling sulit dimainkan itu karena suaranya berbeda dengan seruling bambu maupun terompet. Menurut Ken, jika dibunyikan dengan benar, nada-nadanya bisa merelaksasi pikiran. Sehingga, alat ini sering digunakan mengiringi gerakan yoga serta musik bergenre folk.
“Okarina termasuk salah satu alat musik purba, dulu bentuknya semacam peluit,” kata pria 42 tahun itu pada Selasa, 27 Mei 2025.
Instrumen dengan nama lain seruling kentang ini memiliki sejarah panjang. Sebutan okarina muncul sekitar abad ke-19, diambil dari bahasa Italia yang berarti angsa kecil. Namun, setiap suku bangsa di era lampau memiliki okarina yang berbeda-beda. Misalnya suku inca, aztec, dan viking, biasanya membuat alat tiup ini dari tanduk atau tulang. Selanjutnya pada patung ghanesa juga memegang sangkakala, itu dipercaya sebagai okarina.
Keterampilan Ken memainkan okarina dipelajari secara otodidak. Ayah satu anak ini tak pernah sekolah musik. Di tangannya, okarina tak hanya dibunyikan tapi juga dimodifikasi. Dari mulanya pentatonis atau lima lubang nada, dia menambahnya menjadi tujuh tangga nada atau diatonis mayor dan minor.

Lewat karyanya tersebut, para musisi bisa memainkan lagu-lagu modern dengan okarina. Instrumen dirancang memiliki nada dasar. Proses penyelarasan not dibantu suara saron dari aplikasi digital. Sedangkan penyempurnaan frekuensi nada ditentukan dari kepekaan telinga.
“Dari pengembangan itu, banyak yang berminat membeli okarina buatan saya,” ujar Ken.
Di teras rumahnya di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, puluhan balok kayu disulap menjadi alat musik bernilai jutaan rupiah. Peralatan yang digunakan cukup sederhana. Di antaranya adalah pahat, palu, gergaji, bor listrik, amplas, dan lem. Setiap seminggu sekali dia menghasilkan satu buah alat musik purba tersebut.
Bisnis ocarina ini dimulai pada tahun 2017 hingga sekarang. Sedikitnya lebih dari seratus peluit terjual di Amerika Serikat, Italia, Mexico, dan Jepang. Sementara di Indonesia, karyanya pernah dibeli orang Purwakarta dan Bogor.
“Di Indonesia kurang diminati. Pasarnya adalah kolektor alat musik atau musisi dari luar negeri,” ungkapnya.
Dia menambahkan, harga jual di Indonesia relatif lebih murah, sekitar 500-700 ribu rupiah. Sedangkan di pasar mancanegara bisa mencapai 100 dolar Amerika. Sistem pemasarannya hanya mengandalkan facebook dan instagram. Postingan dari akun pribadinya kemudian dibagikan ke grup-grup pecinta musik seluruh dunia.
Di sela kesibukannya membuat okarina, Ken aktif di kelompok musik Mahagenta asal Bogor. Selain itu, dia kerap bermain musik untuk mengiringi upacara adat Sunda Wiwitan. Kemahirannya bermain musik kemudian dilirik Den Basito, musisi reggae asal Kediri. Ken diminta mengisi irama suling pada lagu berjudul Wasesa dan Papua Mamae. Hingga kini, Ken belum bersedia tampil solo bermain okarina. Dia baru pertama kali muncul sendirian di panggung ketika acara Konferta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kediri tahun 2024. Di Kediri, Ken memang tak begitu dikenal, namun karyanya sudah dikoleksi musisi, seniman, dan instruktur yoga dari mancanegara. (Dimas Eka Wijaya)






