JENIS kediktatoran seperti fasisme, komunisme, atau kekuasaan militer sebagian besar sudah menghilang di berbagai negara. Namun, demokrasi masih bertumbangan melalui berbagai cara yang berbeda. Otoritarianisme seperti tidak pernah lenyap. Ia bisa hidup, beradaptasi dalam praktik-praktik demokrasi.
Buku baru terbitan Mojok ini menunjukkan rupa otoritarianisme di Indonesia sepanjang 80 tahun usianya. Semua peristiwa penting yang menjadi patahan sejarah Indonesia dibahas pada buku setebal 705 halaman. Sudut pandang ketatanegaraan ditulis Zainal Arifin Mochtar, lalu diperkuat kurasi kliping-kliping bersejarah oleh Muhidin M. Dahlan.
Setelah satu tahun dalam proses pengerjaan, akhirnya buku Kronik Otoritarianisme Negara terbit pada Mei 2025. Buku ini merupakan kolaborasi Zainal Arifin Mochtar, seorang dosen hukum ketatanegaraan di UGM, dan Muhidin M Dahlan, seorang kirani sejarah serta arsiparis di Warung Arsip. Keduanya mengulik rupa otoritarianisme dalam sejarah 80 tahun Indonesia.
Penulisan buku ini bermula dari kegelisahan Zainal Arifin Mochtar terhadap kondisi demokrasi Indonesia kini. Paling tidak sejak 2024 ia kerap mengemukakan bahwa otoritarianisme kini telah berubah bentuk, sanggup beradaptasi dalam negara demokrasi, dan telah menjadi salah satu karakteristik Indonesia.
Otoritarianisme kini tidak lagi harus berupa junta militer atau fasisme. Ia juga tidak muncul melalui kudeta terang-terangan atau aksi massa superbesar. Otoritarianisme kini muncul perlahan dengan penggerogotan konsitusi dan pelemahan lembaga-lembaga penegak demokrasi.
Buku ini terdiri dari enam bab yang ditulis berurutan dari sejak Indonesia merdeka sampai masa terakhir kepresidenan Jokowi. Dari sejarah sepanjang itu, ia mengambil momen-momen penting yang berhubungan dengan sejarah konstitusi Indonesia, seperti Maklumat Hatta tentang pembentukan partai, Demokrasi Terpimpin yang dalam bingkai konstitusi merupakan sebuah langkah otoriter, fusi partai di masa Orde Baru, amandemen UUD pascareformasi, sampai momen keputusan MK tentang pada Pemilu 2024 lalu.
Di banyak momen penting seperti itu, dalam kacamata Zainal Arifin Mochtar, kerap menyiratkan ciri otoritarianisme yang membajak hakikat demokrasi. Konstitusi pun berulang kali dibajak. Dengan analisis konstitusi, Zainal menawarkan cara pandang terhadap sejarah Indonesia dengan cara yang baru.
Tidak sampai sana, Muhidin M Dahlan dalam buku ini memperkuat uraian Zainal dengan rangkaian kronik dari kliping berita lama. Ada ribuan file berita lama dari berbagai koran yang ia digitalisasi, kurasi, lalu rangkai menjadi catatan sejarah.
Peristiwa penting tentang atau efek konstitusi ia cantumkan satu per satu. Mulai dari krisis militer yang berulang kali terjadi sampai tragedi Tanjung Priok atau Talangsari sebagai efek penerapan Asas Tunggal di masa Orde Baru. Tentu, sampai pada masa kartelisasi politik pascareformasi.
Kolaborasi Zainal dan Muhidin ini merupakan yang pertama. Sebuah kolaborasi tidak terduga karena menggabungkan dua latar belakang berbeda, seorang ahli hukum dan pengkaji sejarah, seorang akademisi UGM dan intelektual yang memilih jalanan ketimbang kampus.
Kronik Otoritarianisme Indonesia merupakan kajian demokrasi yang penting bagi Indonesia. Zainal dan Muhidin menyuguhkan kenyataan bahwa demokrasi Indonesia selalu diuji sepanjang waktu oleh berbagai aktor politik yang ingin memanfaatkan kekuasaan. Oleh sebab itu ketaatan pada konstitusi sangat penting agar kekuasaan tidak bergerak semaunya, mencederai demokrasi dengan karakter otoritarianian. Sebuah buku yang relevan dan sangat penting bagi demokrasi Indonesia kini.
DATA BUKU:
Dimensi buku: 15m,3 x 23 cm | Tebal: 705 halaman | Cover: Softcover | Harga: Rp 200.000,-
ISBN: 978-623-5280-22-6 | Terbit: Mei 2025 | Penerbit: EA Books (Buku Mojok Grup) | Kanal Penjualan: Official Website Buku Mojok dan Tiktok/Tokopedia Official Buku Mojok
Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi: Humas Penerbit EA Books No hp: 081228420692
(Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post