• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 19 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Lelaki Madura Pengusul Presiden RI Bukan Orang Asing Dimakamkan di Kediri

25 Aug 2025
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
Lelaki Madura Pengusul Presiden RI Bukan Orang Asing Dimakamkan di Kediri

Abdulrahim Pratalykrama, pengusul syarat presiden pada UUD 1945. (Foto: Koleksi ANRI)

KIJING makam berbahan marmer itu kusam. Taburan bunga juga tak tampak. Salah satu kuburan di komplek Setono Gedong Kota Kediri ini seperti sudah lama tak diziarahi. Pada makam itu, terbaring pemimpin Karesidenan Kediri di era penjajahan Jepang, Abdulrahim Pratalykrama.

“Yang berkunjung ke makam itu kebanyakan dari komunitas sejarah, pernah juga dari KPU tapi sudah beberapa tahun lalu,” kata Yusuf Wibisono, Juru Kunci Makam Setono Gedong, Rabu, 6 Agustus 2025.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Kiprah kakak dari Halim Perdanakusuma ini belum banyak diulas. Di buku sejarah Indonesia, Pratalykrama hanya tercatat sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Bersama Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan puluhan tokoh lainnya, bangsawan Madura itu andil merancang tata negara Indonesia.

Saat sidang kedua BPUPKI pada 15 Juli 1945, pria berkacamata itu tak banyak bicara. Namun, pidato singkatnya memanaskan sidang di Gedung Chuo Sangi-in, Jakarta. Dia memicu perdebatan dengan mengusulkan syarat presiden harus orang Indonesia asli, berusia minimal 40 tahun, dan beragama Islam.

Peristiwa tersebut ditulis pada buku risalah sidang BPUPKI terbitan Sekretariat Negara. Perdebatan baru berakhir ketika ditengahi oleh Soepomo dan Radjiman Wedyodiningrat. Keduanya menjelaskan bahwa terbitnya Piagam Jakarta menggugurkan poin agama Islam. Sedangkan gagasan warga Indonesia asli disetujui dan dimasukkan pada Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

Peserta sidang BPUPKI Kedua. (Foto: Koleksi ANRI)

“Dalam konteks saat itu, dia mengusulkan orang Indonesia asli jadi presiden agar negara tidak dipimpin warga asing,” kata Novi Bahrul Munib, Sejarawan Kediri.

Lewat gagasan Pratalykrama, kedaulatan Indonesia sebagai negara semakin menguat. Buah pikirannya dimuat pada Pasal 6 ayat 1 UUD 1945 yang berbunyi “Presiden ialah orang Indonesia Asli”. Namun, pada 2001, kalimat tersebut diuraikan lebih panjang. Calon Presiden harus kelahiran Indonesia dan tidak pernah berganti kewarganegaraan.

Abdulrahim Pratalykrama lahir di Sumenep pada 10 Juni 1898. Kakek buyutnya, Raden Tumenggung Rangga Kertabasa adalah pejabat keraton Sumenep di masa Panembahan Somala. Usai lulus Bestuurschool pada 1929, Pratalykrama bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda. Dia pernah menjabat Wedana Sapudi, Asembagus, Blega, Galis, lalu Patih di Panarukan serta Lumajang. Saat pendudukan Jepang, dia ditugaskan menjadi Residen Kediri.

Makam Abdulrahim Pratalykrama di Setono Gedong Kota Kediri. (Foto: Fatikhin)

“Berkat jasa pak Pratalykrama, bendera merah putih berkibar pertama kali di Kediri,” kata Novi.

Pada 19 Agustus 1945, dua hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Pratalykrama bersama Mayor Bismo menggalang tokoh masyarakat. Tentara PETA, santri, dan laskar pemuda bergerak melucuti pertahanan militer Jepang.

Sayangnya, banyak korban berjatuhan. Pratalykrama lalu berdialog dengan pihak Jepang agar mau menyerah. Diplomasi itu berhasil. Rakyat Kediri merasakan kemerdekaan tanpa kontak senjata berkepanjangan.

“Perang sukses diredam, sehingga membuat persenjataan Jepang masih lengkap,” ujar Novi.

Menurutnya, senjata Jepang yang masih utuh ini mendorong Jenderal Sudirman bergerilya ke Kediri saat Agresi Militer Belanda 2 tahun 1949. Informasi itu konon juga didengar Mayor Sabaruddin, tentara psikopat yang mendampingi Tan Malaka. Selain senjata, Sabaruddin mengincar stasiun radio internasional di Kediri.

Sayangnya, Abdulrahim Pratalykrama hanya tiga tahun merasakan kemerdekaan Indonesia. Tepat di hari pertama bulan puasa pada 8 Juli 1948, dia wafat di usia 50 tahun. Jasadnya disemayamkan di area makam Setono Gedong, Kota Kediri. Letaknya di belakang masjid, sebelah selatan pendapa. Jasa-jasanya pada kemerdekaan Indonesia diabadikan dengan penganugerahan Bintang Mahaputera Utama berdasarkan Keputusan Presiden tahun 1992. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Setahun Jamaah Teras Gubuk, Vespa Sebagai Jalan Menuju Spiritualisme Kehidupan

Next Post

Imbas Kerusuhan, Pembelajaran di Sekolah dan Kampus Kota Kediri Dialihkan ke Daring

Next Post
Imbas Kerusuhan, Pembelajaran di Sekolah dan Kampus Kota Kediri Dialihkan ke Daring

Imbas Kerusuhan, Pembelajaran di Sekolah dan Kampus Kota Kediri Dialihkan ke Daring

Daftar Gedung dan Fasilitas Publik yang Rusak Akibat Kerusuhan di Kediri

Daftar Gedung dan Fasilitas Publik yang Rusak Akibat Kerusuhan di Kediri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA