• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Friday, 1 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

12 Jun 2025
in KULTUR
Reading Time: 2 mins read
Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Wisata Gua Selomangleng dulunya menjadi lokasi pertapaan. (Foto: Fatikhin)

TERBENTUK dari bebatuan vulkanik, Gua Selomangleng merupakan tinggalan arkeologi lintas kerajaan mulai Kediri hingga Majapahit. Petunjuk sejarah berupa pahatan tulisan ditemukan di dalam maupun luar gua. Inkripsi itu tak semuanya bisa dipecahkan sejarawan, salah satunya misteri sebaris aksara kuadrat di permukaan dinding.

Aksara kuadrat adalah gaya penulisan atau font dari Jawa Kuno yang memiliki bentuk huruf persegi atau kotak. Ciri-ciri huruf ini dipahat menonjol ke luar seperti relief. Di masa lalu, aksara ini dipakai untuk menandai pengaruh Kerajaan Kadiri.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

“Tulisan-tulisan itu bisa jadi data sejarah yang sangat penting. Namun, kondisinya kini sulit dibaca langsung akibat pelapukan, pengikisan, dan kurangnya konservasi,” kata Juan Steven Susilo, sarjana arkeologi bidang epigrafi Universitas Udayana Bali, Rabu 11 Juni 2025.

Jika diamati, beberapa huruf vokal yang masih tampak antara lain wulu, pepet, repha. Sedangkan tanda konsonan dan pasangan beberapa masih terlihat. Sebagian aus sehingga sulit direkonstruksi.

Aksara Kuadrat di dinding Gua Selomangleng. (Foto: Devi)

Dari sebaris kalimat itu, yang dapat dibaca yaitu tulisan “basanma(t)i(ya)tmi (c)ūrṇnabhujata”. Hasil pembacaan ini dilakukan tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan École française d’Extrême-Orient (EFEO) dari Prancis pada tahun 2023.

Struktur dan leksikon dari frasa tersebut mengarah pada penggunaan bahasa Sanskerta.  Namun interpretasi ini belum final. Kajian mendalam terhadap struktur gramatikal dan konteks linguistiknya diperlukan agar dapat dipahami utuh.

“Sepotong kalimat itu belum bisa dipastikan secara definitif menerangkan apa dan dari tahun berapa,” ujar anggota perkumpulan ahli epigrafi Indonesia itu.

Namun, Juan memastikan ada dua bahasa yang digunakan yaitu Jawa Kuno dan Sansekerta. Dua bukti epigrafis itu berasal dari abad berbeda. Sehingga, hal tersebut menunjukkan berlapisnya peradaban di Gua Selomangleng.

Barisan kata itu jika dilihat kasat mata memang mirip tulisan kaligrafi. Juan menegaskan bahwa itu aksara Jawa Kuno bergaya kuadrat, dan bukan dari kebudayaan lain.

Masyarakat perlu mengetahui wawasan tersebut. Sebab, jika asumsinya keliru, maka dapat menyelewengkan sejarah. Lebih jauh, cerita yang salah digunakan untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu.

“Kajian akademik terhadap tulisan-tulisan ini harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” kata Juan.

Pelestarian inskripsi ini bukan semata-mata konservasi fisik. Hal yang lebih penting yakni tanggung jawab ilmiah menjaga integritas sejarah serta identitas budaya bangsa.

Sebaris aksara kuadrat itu tidak bisa dilihat sebatas peninggalan tekstual. Di dalamnya juga mengandung makna historis serta fungsional. Isi dan konteks inskripsi akan membuka peluang mengetahui fungsi sebenarnya dari Gua Selomangleng. Termasuk, nilai-nilai yang ingin diwariskan para pendahulu pada generasi sekarang. (Devi Armandasari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Sumber Bedug, Kolam Renang Kolonialis Belanda yang Masih Eksis

Next Post

Nyanyi Sunyi Museum Airlangga Kediri

Next Post
Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Nyanyi Sunyi Museum Airlangga Kediri

RUPS 2025: Gudang Garam Bagikan Dividen Rp962 Miliar

RUPS 2025: Gudang Garam Bagikan Dividen Rp962 Miliar

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA