TERBENTUK dari bebatuan vulkanik, Gua Selomangleng merupakan tinggalan arkeologi lintas kerajaan mulai Kediri hingga Majapahit. Petunjuk sejarah berupa pahatan tulisan ditemukan di dalam maupun luar gua. Inkripsi itu tak semuanya bisa dipecahkan sejarawan, salah satunya misteri sebaris aksara kuadrat di permukaan dinding.
Aksara kuadrat adalah gaya penulisan atau font dari Jawa Kuno yang memiliki bentuk huruf persegi atau kotak. Ciri-ciri huruf ini dipahat menonjol ke luar seperti relief. Di masa lalu, aksara ini dipakai untuk menandai pengaruh Kerajaan Kadiri.
“Tulisan-tulisan itu bisa jadi data sejarah yang sangat penting. Namun, kondisinya kini sulit dibaca langsung akibat pelapukan, pengikisan, dan kurangnya konservasi,” kata Juan Steven Susilo, sarjana arkeologi bidang epigrafi Universitas Udayana Bali, Rabu 11 Juni 2025.
Jika diamati, beberapa huruf vokal yang masih tampak antara lain wulu, pepet, repha. Sedangkan tanda konsonan dan pasangan beberapa masih terlihat. Sebagian aus sehingga sulit direkonstruksi.

Dari sebaris kalimat itu, yang dapat dibaca yaitu tulisan “basanma(t)i(ya)tmi (c)ūrṇnabhujata”. Hasil pembacaan ini dilakukan tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan École française d’Extrême-Orient (EFEO) dari Prancis pada tahun 2023.
Struktur dan leksikon dari frasa tersebut mengarah pada penggunaan bahasa Sanskerta. Namun interpretasi ini belum final. Kajian mendalam terhadap struktur gramatikal dan konteks linguistiknya diperlukan agar dapat dipahami utuh.
“Sepotong kalimat itu belum bisa dipastikan secara definitif menerangkan apa dan dari tahun berapa,” ujar anggota perkumpulan ahli epigrafi Indonesia itu.
Namun, Juan memastikan ada dua bahasa yang digunakan yaitu Jawa Kuno dan Sansekerta. Dua bukti epigrafis itu berasal dari abad berbeda. Sehingga, hal tersebut menunjukkan berlapisnya peradaban di Gua Selomangleng.
Barisan kata itu jika dilihat kasat mata memang mirip tulisan kaligrafi. Juan menegaskan bahwa itu aksara Jawa Kuno bergaya kuadrat, dan bukan dari kebudayaan lain.
Masyarakat perlu mengetahui wawasan tersebut. Sebab, jika asumsinya keliru, maka dapat menyelewengkan sejarah. Lebih jauh, cerita yang salah digunakan untuk kepentingan individu dan kelompok tertentu.
“Kajian akademik terhadap tulisan-tulisan ini harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” kata Juan.
Pelestarian inskripsi ini bukan semata-mata konservasi fisik. Hal yang lebih penting yakni tanggung jawab ilmiah menjaga integritas sejarah serta identitas budaya bangsa.
Sebaris aksara kuadrat itu tidak bisa dilihat sebatas peninggalan tekstual. Di dalamnya juga mengandung makna historis serta fungsional. Isi dan konteks inskripsi akan membuka peluang mengetahui fungsi sebenarnya dari Gua Selomangleng. Termasuk, nilai-nilai yang ingin diwariskan para pendahulu pada generasi sekarang. (Devi Armandasari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)






