• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 29 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Sumber Bedug, Kolam Renang Kolonialis Belanda yang Masih Eksis

10 Jun 2025
in DESTINASI
Reading Time: 3 mins read
Sumber Bedug, Kolam Renang Kolonialis Belanda yang Masih Eksis

Pengunjung berenang di kolam Sumber Bedug. (Foto: Junio)

SEKELOMPOK anak bergelantungan di akar pohon beringin Sumber Bedug. Mereka bergantian melompat ke kolam air yang terletak di Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri itu. Dipayungi pepohonan besar, airnya mengalir deras meski musim kemarau. Sejak direnovasi setahun lalu, wisata ini ramai dikunjungi warga lokal hingga luar daerah.

Menurut cerita tutur masyarakat, Sumber Bedug dibangun pada era kolonial Belanda. Kolam utama di sebelah barat dulunya digunakan berlatih berenang para atlet dan tentara. Para perempuan Belanda atau sebutannya noni-noni juga kerap rekreasi di kawasan ini.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Gunung Sari, Makam di Antara Kisah Laskar Diponegoro dan Sekartaji

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

“Dulu hanya orang Belanda yang boleh masuk, tidak bisa dipakai masyarakat umum,” kata Yusuf, salah satu pengelola Sumber Bedug, Kamis, 22 Mei 2025.

Dia menjelaskan, usai Indonesia merdeka, wisata itu buka hingga sekitar tahun 1970an kemudian tak terawat. Hampir 50 tahun terbengkalai, namun warga masih berkunjung menikmati gemericik air di bawah rindang pepohonan. Hingga pada 2024, Pemerintah Desa Bedug dan Desa Rembangkepuh sepakat mengelola tempat itu bersama-sama.

Saat renovasi, kolam utama mulanya dipenuhi semak belukar serta lantainya berlumpur. Warga beramai-ramai membersihkan area sekitar hingga sisa-sisa infrastruktur era Belanda mulai tampak. Sejumlah bangunan itu antara lain kamar ganti berupa bilik-bilik kecil, pijakan kolam, besi papan lompat, dan tribun. Dari sisi arsitektur, kolam renang ini mengusung desain minimalis.

Pemerintah Desa Bedug dan Desa Rembangkepuh sepakat mengelola tempat itu bersama-sama. (Foto: Junio)

Pada masa kolonial, kolam Bedug dibangun di tengah lingkungan industri dan pemukiman orang Belanda. Di dekat lokasi tersebut berdiri Pabrik Agave Tapioka Galoehan Kandat, Pabrik Gula Ngadirejo, dan Pabrik Gula Soemberdadi.

“Dari peta tahun 1926 milik kolonial, Sumber Bedug sudah ada dan tidak berubah di tahun berikutnya,” jelas kata Yazid Bustomi, anggota Pelestari Sejarah dan Kebudayaan Kediri (PASAK).

Sumber Bedug juga disebutkan pada surat kabar kolonial di rentang tahun 1920an. Pada peta Belanda, tempat itu disebut Badplaats Soemberbedoeg. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu pemandian atau fasilitas umum untuk berenang, mandi, atau sekadar bersantai di tepi air.

Saat penjajahan Belanda berakhir, mata air itu kerap dikunjungi muda-mudi di Kediri. Hal tersebut tampak pada koleksi foto keluarga milik drg, J Sutjahjo Gani, cicit Tan Khoen Swie, penerbit legendaris di Kota Kediri. Pada keterangan foto yang diambil tahun 1952 itu, sekelompok pemuda bersepeda, berenang, serta menangkap ikan hias.

Pemuda Kediri berenang di Sumber Bedug tahun 1952. (Foto: drg, J Sutjahjo Gani)

Menurut warga Desa Bedug, kolam juga dimanfaatkan Jenderal Moestopo, pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Dia dan para prajuritnya memanfaatkan area itu untuk berlatih berenang.

Sejak dipugar pada 2024, Sumber Bedug kini makin ramai dikujungi. Mulai dari anak-anak hingga dewasa berdatangan untuk piknik dan bersantai. Mereka kabanyakan datang saat jam makan siang dan hari libur sekolah. (Junio Boy Smara Dinso, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #destinasi#headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Kirab Cikar dalam Tradisi Unduh-unduh Kristen di Lereng Kelud

Next Post

Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Next Post
Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Misteri Aksara Kuadrat yang Tak Terpecahkan di Dinding Gua Selomangleng

Nyanyi Sunyi Museum Airlangga Kediri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA