SEKELOMPOK anak bergelantungan di akar pohon beringin Sumber Bedug. Mereka bergantian melompat ke kolam air yang terletak di Desa Bedug, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri itu. Dipayungi pepohonan besar, airnya mengalir deras meski musim kemarau. Sejak direnovasi setahun lalu, wisata ini ramai dikunjungi warga lokal hingga luar daerah.
Menurut cerita tutur masyarakat, Sumber Bedug dibangun pada era kolonial Belanda. Kolam utama di sebelah barat dulunya digunakan berlatih berenang para atlet dan tentara. Para perempuan Belanda atau sebutannya noni-noni juga kerap rekreasi di kawasan ini.
“Dulu hanya orang Belanda yang boleh masuk, tidak bisa dipakai masyarakat umum,” kata Yusuf, salah satu pengelola Sumber Bedug, Kamis, 22 Mei 2025.
Dia menjelaskan, usai Indonesia merdeka, wisata itu buka hingga sekitar tahun 1970an kemudian tak terawat. Hampir 50 tahun terbengkalai, namun warga masih berkunjung menikmati gemericik air di bawah rindang pepohonan. Hingga pada 2024, Pemerintah Desa Bedug dan Desa Rembangkepuh sepakat mengelola tempat itu bersama-sama.
Saat renovasi, kolam utama mulanya dipenuhi semak belukar serta lantainya berlumpur. Warga beramai-ramai membersihkan area sekitar hingga sisa-sisa infrastruktur era Belanda mulai tampak. Sejumlah bangunan itu antara lain kamar ganti berupa bilik-bilik kecil, pijakan kolam, besi papan lompat, dan tribun. Dari sisi arsitektur, kolam renang ini mengusung desain minimalis.

Pada masa kolonial, kolam Bedug dibangun di tengah lingkungan industri dan pemukiman orang Belanda. Di dekat lokasi tersebut berdiri Pabrik Agave Tapioka Galoehan Kandat, Pabrik Gula Ngadirejo, dan Pabrik Gula Soemberdadi.
“Dari peta tahun 1926 milik kolonial, Sumber Bedug sudah ada dan tidak berubah di tahun berikutnya,” jelas kata Yazid Bustomi, anggota Pelestari Sejarah dan Kebudayaan Kediri (PASAK).
Sumber Bedug juga disebutkan pada surat kabar kolonial di rentang tahun 1920an. Pada peta Belanda, tempat itu disebut Badplaats Soemberbedoeg. Jika diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu pemandian atau fasilitas umum untuk berenang, mandi, atau sekadar bersantai di tepi air.
Saat penjajahan Belanda berakhir, mata air itu kerap dikunjungi muda-mudi di Kediri. Hal tersebut tampak pada koleksi foto keluarga milik drg, J Sutjahjo Gani, cicit Tan Khoen Swie, penerbit legendaris di Kota Kediri. Pada keterangan foto yang diambil tahun 1952 itu, sekelompok pemuda bersepeda, berenang, serta menangkap ikan hias.

Menurut warga Desa Bedug, kolam juga dimanfaatkan Jenderal Moestopo, pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Dia dan para prajuritnya memanfaatkan area itu untuk berlatih berenang.
Sejak dipugar pada 2024, Sumber Bedug kini makin ramai dikujungi. Mulai dari anak-anak hingga dewasa berdatangan untuk piknik dan bersantai. Mereka kabanyakan datang saat jam makan siang dan hari libur sekolah. (Junio Boy Smara Dinso, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)






