EMPAT kasus bunuh diri terjadi di Kediri, Jawa Timur selama sepekan terakhir. Dimulai dari tragedi di depan SMPN Mojo pada Kamis, 22 April 2026, sehari kemudian seorang remaja mengakhiri hidupnya di dekat masjid. Belum juga rasa empati publik mereda, tiba-tiba muncul kabar insiden serupa di kawasan Kwagean, Pare dan Mlancu, Kandangan pada Rabu, 29 April 2026.
Psikolog Klinis UIN Syekh Wasil Kediri, Tatik Imadatus Sa’adati menyebut fenomena itu sebagai copycat suicide. Seseorang dalam kondisi depresi cenderung meniru setelah terpapar informasi, laporan, atau pemberitaan tindakan bunuh diri di sekitarnya.
Peristiwa di Kediri ini mirip pada kejadian di Korea Selatan pada 2019. Ketika bunuh diri artis disajikan sensasional, lengkap dengan detail, dramatisasi, dan narasi memancing emosi, maka risiko peniruan meningkat.
“Informasi itu makin menguatkan dorongan bundir, utamanya seseorang dalam kondisi rentan,” ujar dosen yang akrab disapa Ima itu.
Dia menjelaskan, sejatinya orang yang bunuh diri tidak ingin mati. Mereka hanya mau keluar dari rasa sakit. Entah itu sebab trauma, kecewa, masalah keuangan, kehilangan, maupun kesepian.
Dalam perspektif ilmu kejiwaan, keputusan bunuh diri tidak datang tiba-tiba. Misalnya ketika diterpa masalah berat, maka tidak langsung memutuskan bunuh diri. Aksinya terlebih dulu dimulai dari niat, lalu berlanjut ke percobaan. Ada proses panjang hingga seseorang memilih meninggal dunia, fasenya bisa berbulan-bulan bahkan tahunan.
“Kondisi tiap orang saat menerima informasi berbeda-beda, bisa saja pada saat itu dia sedang terpuruk,” kata Ima.
Informasi yang memuat foto korban, video, maupun rekaman CCTV di lokasi berpotensi besar ditirukan. Sebab, saat menerima pesan, otak otomatis mengimajinasikan tindakan. Dari situlah dorongannya semakin menguat. Di era kemudahan teknologi, kabar menyebar cepat, termasuk peristiwa bunuh diri. Informasi mudah pula dibagikan ke ribuan orang.
Menurut Ima, ketika mendapati kabar tersebut sebaiknya masyarakat menahan diri untuk membagikan. Sedangkan bagi media, pemberitaan bunuh diri sebaiknya dilengkapi dengan edukasi. Misalnya, pesan bahwa mengakhiri hidup tidak menyelesaikan masalah, maupun penyertaan hotline penanganan depresi.
Pandangan serupa disampaikan Puput Mariyati, Dosen Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri. Membagikan foto dan video kasus bunuh diri sebaiknya dihindari. Bukan hanya akan mendorong orang-orang mengimitasi tindakan, tapi juga berdampak pada perasaan keluarga dan teman-teman korban.
“Jika ada yang membagikan postingan sebaiknya langsung ditegur,” kata Puput.
Dia menambahkan, bunuh diri bisa dicegah. Kuncinya, orang terdekat harus mampu mendeteksi tanda-tandanya. Hal yang paling umum dijumpai adalah seseorang tiba-tiba membicarakan kematian, perubahan perilaku, dan cepat berganti suasana hati.
Seseorang yang sudah mempunyai ide mengakhiri hidup membutuhkan pertolongan segera. Bagi orang terdekat, cara sederhana yang bisa dilakukan dengan mengajak mengobrol. Dengan begitu, mereka mendapatkan sumber pendukung dan merasa aman. Jika karakternya pendiam atau introvert, maka tidak perlu ragu meminta bantuan psikolog atau psikiater. (Kholisul Fatikhin)




