• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 5 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Teka Teki Siti Inggil, Candi di Dekat Pondok Lirboyo

05 May 2026
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
Teka Teki Siti Inggil, Candi di Dekat Pondok Lirboyo

Fragmen batu candi di punden Siti Inggil Lirboyo Kediri. (Foto: Dimas)

PULUHAN benda purbakala berserak di bawah pohon beringin punden Siti Inggil. Pada sejumlah bongkahan batu itu tampak pahatan relief bermotif sulur atau tumbuhan merambat. Terletak sekitar 300 meter di selatan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, para sejarawan meyakini tempat itu adalah candi dari era lampau.

Masyarakat Kelurahan Lirboyo, Mojoroto, Kota Kediri menjadikan lahan seluas 20 meter sebagai lokasi yang dikeramatkan. Siti Inggil (tanah tinggi), dalam pengertian harfiahnya yaitu tanah yang ditinggikan dari bentang alam di sekitarnya.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

“Dari cerita para sesepuh, dari dulu area ini memang tinggi,” kata Winarto, Juru kunci punden Siti Inggil saat ditemui Kediripedia pada Rabu, 29 April 2026.

Pria 49 tahun itu menambahkan, batu-batu tersebut dulunya tersusun mengelilingi pohon beringin. Sayangnya, struktur batu hancur ketika pohon beringin di tengahnya tumbang pada tahun 1983. Akar yang tercerabut membuat lubang besar muncul. Warga lalu menutupnya dengan pecahan batu yang berserak di bangunan kuno itu.

Usai musibah tersebut, warga kembali menanam pohon beringin dan pohon preh di punden. Sedangkan pecahan batu yang tak dikuburdiletakkan dekat pohon.

Struktur candi yang masih terlihat di Siti Inggil. (Foto: Dimas)

Pada tahun 1996, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan mengekskavasi punden Sitinggil. Hasilnya, ditemukan struktur candi berupa susunan pondasi berbentuk persegi, mirip kolam. Areanya meluas hingga 30 meter di utara situs.

“Setelah diteliti, pondasi itu kembali dikubur. Sekarang area itu jadi halaman parkir Masjid Al-Barokah,” jelas Winarto.

Kepada Kediripedia.com, dia menunjukkan lembar kopian hasil penelitian tersebut. Isinya menjelaskan area Situs Siti Inggil yang mencakup halaman SDN Lirboyo 4. Bangunan berdenah bujur sangkar itu hanya tersisa bagian kaki candi di sisi timur. Sedangkan dinding candi menggunakan batu kapur.

Pria yang juga menjabat Ketua RT 01 itu tak mengetahui jika tempat itu candi. Selama ini, para warga hanya menyebutnya punden. Dari cerita sesepuh, lokasi itu dulunya memang digunakan sebagai tempat peribadatan.

“Sampai saat ini, setiap malam Jumat Legi masih ada orang luar yang datang membawa bunga dan kemenyan,” ungkapnya.

Saat bulan Suro dalam Kalenjer Jawa, warga rutin menggelar bersih desa di punden. Kegiatan dimulai doa bersama, kirab hasil bumi, dan diakhiri dengan tasyakuran.

Erwan Yudiono, pemerhati cagar budaya Kediri membenarkan jika lokasi tersebut adalah candi. Batu berukir sulur dan struktur tangga sebenarnya sudah menguatkan hal tersebut.

“Candi Siti Inggil ini unik, konstruksinya menggunakan batu kapur,” kata pria yang akrab disapa Jeje itu.

Menurutnya, penggunaan material batu kapur ini berbeda dengan candi-candi lain di wilayah Kediri. Umumnya dari batu andesit atau bata merah. Konstruksi batu kapur ini sama dengan situs Setono Gedong. Tempat bersejarah di Jalan Dhoho itu berasal dari era Kerajaan Kediri abad ke-12 Masehi.

Pecahan batu candi sebagian disimpan di dekat rumah penduduk. (Foto: Dimas)

Penggunaan batu kapur biasanya hanya digunakan untuk candi induk. Sehingga, Jeje meyakini kawasan sekitar punden masih jadi bagian dari kompleks candi. Hal ini dibuktikan lewat temuan struktur bata merah di pemakaman Pondok Lirboyo dan Bandar Lor yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Siti Inggil. Pada tahun 2018, sekitar 50 meter di utara candi ditemukan pusaka keris.

Sayangnya, usai penelitian tahun 1996, belum banyak kajian pada punden Siti Inggil. Banyak bukti fisik, tapi berbentuk pecahan, sebagian besar sudah dikubur kembali. Sedangkan pada era kapan candi ini berdiri, penggunaan batu kapur bisa jadi petunjuk.

“Dari kesamaan material, kemungkinan pendirian situs ini beriringan dengan Situs Setono Gedong,” jelasnya.

Biasanya, material bangunan suci diambil dari bebatuan di sekitar kawasan yang akan berdiri candi. Di Kediri, tidak ada batu kapur, jadi bahan konstruksinya sengaja didatangkan dari luar daerah. Pendirian candi yang butuh upaya besar itu diduga menyimpan alasan tertentu, perlu dipecahkan lewat kajian-kajian mendalam. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA