PERNAH dicatat dalam buku History of Java sebagai candi terbesar di Kediri, keberadaan Candi Prudung kini sulit dilacak. Bangunannya lenyap. Di mana lokasi, bentuk, maupun penyebab kehancurannya hingga kini masih misterius.
Penemuan Candi Prudung bermula dari perjalanan Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, ke wilayah Kediri pada awal abad ke-19. Dalam ekspedisi tersebut, dia melihat candi yang dicatat dengan nama Prudung. Raffles menyebut Prudung sebagai candi terbesar yang ditemuinya selama menyusuri sejumlah wilayah di Jawa Timur.
Catatan itu termuat dalam buku History of Java yang diterbitkan pada 1817. Raffles memperkirakan letak Candi Prudung sekitar delapan mil atau 12,8 kilometer di sebelah barat daya Candi Tegowangi. Bangunan tersusun dari bata merah dengan ornamen berbahan batu andesit.
“Struktur candi itu memiliki empat ruangan. Masing-masing berada di satu sisi bangunan,” tulis Raffles.
Ketika mengunjungi bangunan tersebut, Raffles mendapati sebagian tangganya sudah rusak. Untuk mencapai bagian dalam, pengunjung harus menaiki tangga kayu setinggi sekitar enam meter.
Di sekitar bangunan, Raffles juga menemukan sejumlah peninggalan lain. Di antaranya kolam, waduk penampung air, lesung, pecahan bangunan, dan ornamen. Keberadaan candi tersebut kembali dicatat oleh geografer Italia, Adriano Balbi, dalam bukunya, Abrégé de géographie, yang terbit pada 1832.

Novi Bahrul Munib, Sejarawan Kediri menyebut, serpihan bangunan Candi Prudung belum terlacak hingga kini. Tidak diketahui ke mana bata dan ornamen itu berpindah. Begitu pula kemungkinan sisa struktur yang tertimbun tanah di sekitar lokasi berdirinya candi tersebut.
“Berdasarkan petunjuk lokasi yang ditulis Raffles maupun peneliti Belanda Kern, Candi Prudung diperkirakan berada di sebelah barat Candi Adan-adan, sekitar wilayah Pagu,” ujar Novi, Senin 6 Juni 2026.
Lebih lanjut dia menjelaskan, Candi Prudung yang hilang itu memperlihatkan bahwa tidak semua peninggalan kuno di Kediri terkubur material vulkanik Gunung Kelud. Bangunan lain seperti Candi Surowono, Tegowangi, dan Prundung masih terlihat berdiri hingga memasuki masa kolonial.
Ada dugaan perubahan lingkungan, pembongkaran, pemanfaatan ulang material bangunan, atau kerusakan akibat aktivitas manusia. Namun, kemungkinan tersebut masih membutuhkan pembuktian arkeologis.
Jejak perusakan benda-benda arkeologis di Kediri diungkapkan Peneliti arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sukowati Susetyo. Salah satunya di kawasan Candi Adan-adan, yang lokasinya hanya beberapa kilometer dari Candi Prudung. Temuan kepala arca Bodhisatwa di Adan-adan terpisah dari tubuhnya. Bagian kepala itu masih utuh, tetapi bagian leher terlihat bekas patahan.
Di lokasi yang sama ditemukan fragmen kaki arca beserta serpihan lainnya. Sukowati menduga pola temuan tersebut berkaitan dengan peristiwa perusakan arca pada masa lalu. Dugaan itu juga diperkuat cerita warga yang disampaikan saat proses ekskavasi berlangsung.
“Kapan kejadian perusakan itu belum dapat dipastikan,” ujar Sukowati.
Kondisi serupa terlihat pada arca Dwarapala dari Adan-adan yang kini tersimpan di Museum Airlangga. Wajah arca penjaga tersebut mengalami kerusakan. Namun, sejumlah atribut, seperti ular dan sumping telinga masih dapat dikenali sehingga karakter seni pahat tetap bisa ditelusuri.
Sukowati juga belum bisa memastikan penyebab hilangnya Candi Prudung. Temuan arkeologis Adan-adan memang menunjukkan adanya jejak perusakan. Namun, hal tersebut belum dapat dikaitkan langsung dengan lenyapnya Candi Prudung. Catatan Raffles dalam History of Java tetap jadi pintu masuk paling memungkinkan penelusuran candi yang disebut terbesar di Kediri itu. (Kholisul Fatikhin)




