• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 3 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Manajer Prudential Banting Setir Jualan Es Teh

08 Feb 2019
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
Manajer Prudential Banting Setir Jualan Es Teh

TEORI yang mengatakan agar keluar dari zona nyaman, barangkali tidak semudah ketika diucapkan. Namun, banyak pula orang yang mengejawantahkan konsep tersebut tanpa perasaan ragu. Misalnya, Riyanto Suyatmoko. Jabatan sebagai manager unit Prudential Kediri dia tinggalkan, dan  memilih menekuni usaha franchise minuman Teh Poci.

Keputusan melepas capaian karir yang dibangun belasan tahun, sudah pasti sangat mengagetkan.Terutama, oleh rekan-rekan kerja di kantor asuransi. Ada yang menyayangkan, ada pula yang melemparkan cemoohan dan jadi bahan tertawaan.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

“Sebagian dari mereka menganggap keluar dari Prudential adalah langkah konyol,” ujar Riyan, Rabu 5 Februari 2019, di kediamannya.

Menurut pria kelahiran Yogyakarta, respon yang ditunjukkan oleh kawan sesama pegawai asuransi itu amat wajar. Dari manager yang memimpin lebih dari seratus pegawai, menjadi penjual es teh; dari sosok yang dulu berpenampilan formal dan necis, berubah ke gaya sederhana, tentu menuai tanggapan beragam. Baik itu positif maupun negatif.

Di rumahnya yang berlokasi di Perumahan Griya Indah Permatasari Blok D-11, Jalan Penanggungan, Kota Kediri, Riyan berkisah seputar hal-hal yang melatarbelakangi keputusannya. Pada satu titik, dia merasa tidak dapat lagi menikmati pekerjaan yang telah digeluti selama lebih dari sepuluh tahun itu. Meskipun perolehan gaji yang diterimanya mencapai hampir sepuluh juta per bulan.

“Saya lebih merasakan nilai keberkahan dan perjuangan pada mata pencaharian sekarang,” kata pria empat puluh satu tahun ini.

Riyan menganggap, tuntutan pekerjaan di kantor seperti beban untuk mencapai target, tidak membuatnya bebas bereksplorasi. Selain itu, jam kerja dari pagi hingga malam hari menjadikannnya kehilangan waktu bersama istri dan anak-anaknya. Ketika ada kesempatan resign dari posisi manager, dia sama sekali tak ragu. Dia resmi mengundurkan diri pada tahun 2015, tekadnya pun bulat untuk berwirausaha.

Selepas itu, aktivitas kesehariannya tak banyak berubah. Riyan tetap mulai bekerja di pagi hari, sama seperti sewaktu menjadi pegawai. Bedanya, kini dia banyak berurusan dengan barang dapur seperti panci, teko, dan kompor. Kegiatannya memasak dan meramu teh dia mulai setelah subuh, tepatnya jam 5 pagi. Butuh waktu sekitar satu jam untuk menyelesaikan proses tersebut.

Olahan teh yang sudah melalui penyeduhan, dimasukkan ke dalam dua buah jerigen bervolume 5 liter. Lengkap dengan persediaan karamel atau gula pasir yang dilelehkan. Untuk menuju ke tempatnya berjualan, dia mengendarai sepeda motor dengan penambahan obrok atau keranjang berbahan kain di dua sisi belakang.

“Teh saya pilih, karena minuman itu dapat dinikmati orang dari segala usia, berbeda dengan susu ataupun kopi,” jelas Riyan.

Lokasi yang disasar oleh Riyan adalah sekolah-sekolah yang berada di Kota Kediri. Di awal usaha bergulir, dia hanya membuka satu gerai saja. Empat tahun kemudian, ikhtiar makin berkembang. Gerobak berisi perlengkapan seperti alat pres gelas plastik, ice box, dan sedotan, sekarang berdiri di tiga tempat. Antara lain di kantin SMAN 8 Kediri dan SMAN 4 Kediri, serta di depan SMK 2 PGRI Kediri.

“Dengan usaha ini, saya dapat memberikan kesempatan kerja buat orang lain,” kata lelaki yang pernah bekerja di perusahaan farmasi Kalbe Farma itu. Riyan mengaryakan tiga orang yang bertugas di masing-masing tempat tersebut. Jam kerja mereka disesuaikan dengan waktu efektif pelajaran sekolah. Pukul 7 pagi, hingga pukul 2 sore.

Dalam menjalankan bisnis waralaba minuman ini, Riyan baru merasa jika ilmu yang dipelajari semasa kuliah sangat berguna. Konsep mengatur modal dan keuntungan bersih maupun kotor, sudah dikenalinya ketika duduk di bangku perguruan tinggi. Tepatnya, di Jurusan Manajemen Pemasaran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Tiap cup es dijual dengan harga tiga ribu rupiah. Dalam sehari, Riyan dapat menjajakan sekitar 400 gelas, sekalipun di musim penghujan. Jika cuaca tengah terik, jumlah tersebut dapat bertambah 20 persen, hingga 500 gelas. Bila keuntungan bersih dikalkulasi, laba yang diraup per bulan hampir setara dengan gajinya sewaktu masih menjadi manager. Yakni, sekitar sembilan juta rupiah.

Melihat potensi yang bisa digali masih terbuka lebar, dia semakin bersemangat mengembangkan usaha. Riyan berencana untuk membuka dua gerai tambahan pada bisnis franchise tersebut. Selain itu, ada kemungkinan membuka peluang bisnis di sektor berbeda, di luar kuliner.

“Saya menyesal, kenapa tidak mulai berbisnis sejak masih muda dulu,” katanya. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline
Previous Post

Karyawan Gudang Garam Juga Punya Klub Sepeda

Next Post

Ngetrail dan Baksos Bareng di Lereng Kelud

Next Post
Ngetrail dan Baksos Bareng di Lereng Kelud

Ngetrail dan Baksos Bareng di Lereng Kelud

Bersepeda dan Menabur Ikan di Sumber Gundi

Bersepeda dan Menabur Ikan di Sumber Gundi

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA