SELAMA hampir delapan jam, hujan deras mengguyur kawasan lereng timur Gunung Wilis pada Jumat, 16 Mei 2025. Akibatnya, sebanyak empat desa di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri dilanda tanah longsor dan banjir bandang. Pamongan, Blimbing, Ngetrep, dan Petungroto adalah desa-desa yang terkena bencana itu.
Dari data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, sejumlah 24 rumah di Petungroto rusak akibat tanah longsor. Dua rumah di Pamongan dilaporkan hancur. Di Ngetrep, akses jalan tertutup. Sedangkan di Blimbing, dua rumah rusak. Sungai Bruni yang meluap bahkan membuat salah seorang warga terseret arus.
“Salah satu warga kami hilang, beberapa hewan ternak warga ikut hanyut,” kata Djo Ari, Kepala Desa Blimbing pada Jumat, 23 Mei 2025.
Dia menjelaskan bahwa hujan deras di Blimbing terjadi pada malam hari sekitar pukul 9 malam. Saat itu aliran Sungai Bruni sudah naik, tapi masih normal. Ketika tepat pukul 12 malam, banjir membawa tanah, lumpur, dan bebatuan dari Pamongan, desa yang wilayahnya di atas Blimbing.
Material yang terseret arus itu menerjang tebing sungai. Jalanan rusak, jembatan putus, dan dua rumah warga yang berada di dekat bantaran sungai ikut hancur. Termasuk rumah milik warga yang hilang itu.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir dan longsor di Kecamatan Mojo terjadi akibat cuaca ekstrem pada peralihan musim hujan ke kemarau. Fenomena alam ini dikenal pula dengan kemarau basah.
“Pada fase ini, atmosfer tidak stabil, sehingga cuaca berubah secara cepat dan ekstrem,” kata Permata Salsabila Hananto, Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Dhoho Kediri.
Dia menambahkan, hujan lebat di musim kemarau dipicu gelombang Equatorial Rossby, Low, dan Kelvin. Ketiga gelombang itu melintas di kawasan Gunung Wilis, sehingga menimbulkan curah hujan intensitas tinggi dengan durasi kurang lebih enam jam. Rentang waktu hujan biasanya dimulai dari pukul 1 siang hingga pukul 9 malam.

Pada halaman resmi BMKG, kemarau basah akan berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia hingga Agustus 2025. Berdasarkan pemantauan dinamika iklim global dan regional, di tahun ini musim kemarau diprediksi lebih singkat. Hujan masih terus turun karena dipengaruhi aktivitas atmosfer yang tidak stabil.
“Bagi warga Kabupaten Kediri di wilayah pegunungan harus selalu waspada,” kata Stevanus Djoko Sukrisno, Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri melalui rilis berita pada 19 Mei 2025.
Menurutnya, saat hujan turun deras, resiko bencana meningkat. Masyarakat bisa mengidentifikasi tanda-tanda tanah longsor seperti air sumur atau aliran sungai berubah warna, dinding rumah retak, dan suara gemuruh dari arah bukit. (Devi Armandasari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)






