HAMPARAN sawah mengelilingi Situs Semen di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Di tengah lahan pertanian itu tersimpan sejumlah benda purbakala, mulai dari dua jaladwara atau saluran air, arca Garuda Wisnu, Lingga-Yoni, hingga fragmen gerabah dan tembikar. Temuan-temuan tersebut menjadi petunjuk kehidupan masyarakat pada masa Kerajaan Kadhiri.
Imam Achfas, juru pelihara Situs Semen mengatakan, luas kawasan situs diperkirakan mencapai 10 hektare. Perkiraan itu merujuk pada hasil penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
“Kawasan ini bisa jadi perkampungan, atau bisa juga perumahan para petinggi-petinggi kerajaan,” kata Imam pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Menurut Imam, hasil penelitian arkeologi mengidentifikasi Situs Semen sebagai petirtaan atau tempat pemandian kaum bangsawan. Masyarakat Jawa menyebut bangunan suci ini dengan patirtan. Salah satu petunjuknya adalah temuan Jaladwara Narasinga, saluran air menyerupai kepala naga dan singa. Namun, struktur petirtaan secara utuh belum tersingkap karena sebagian besar masih terpendam di bawah tanah.
Penggalian lebih lanjut membutuhkan biaya besar. Sehingga, struktur bangunan yang mungkin masih tersimpan di bawah permukaan tanah belum seluruhnya diketahui, meski situs ini telah ditemukan sejak 1971.

Hilangnya jejak fisik Kerajaan Kadhiri tidak lepas dari perubahan bentang alam selama berabad-abad. Erupsi Gunung Kelud berpotensi menimbun sebagian tinggalan arkeologis. Perubahan aliran sungai, proses sedimentasi, serta aktivitas manusia juga mengubah atau menutupi struktur bangunan kuno.
Dalam cerita tutur masyarakat setempat, Situs Semen kerap dikaitkan dengan Raja Airlangga. Namun, kaitan tersebut belum dapat dipastikan karena belum ditemukan prasasti atau bukti tertulis yang menguatkannya.
Sejarawan Kediri, Novi Bahrul Munib, menilai kawasan Semen menyimpan petunjuk penting untuk menelusuri permukiman pada masa Kerajaan Kadhiri. Sejumlah artefak yang ditemukan di kawasan tersebut diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Raja Sri Gandra pada 1181–1182.
“Apabila berbicara Kota Daha Kerajaan Kadhiri, itu diduga berada di antara Desa Semen, Menang, sampai Katang,” ujar Novi.
Pria yang kini bekerja sebagai Pamong Budaya Kementerian Kebudayaan itu merujuk laporan kolonial Belanda yang mencatat temuan benda purbakala di kawasan tersebut. Selain arca berbentuk naga, terdapat gentong batu yang disebut memiliki angka tahun beraksara kuadrat, yakni 1116 Saka atau 1194 M. Sayangnya, gentong batu itu kini tidak diketahui keberadaannya.

Petunjuk lain muncul ketika Novi mengamati kawasan persawahan di sekitar situs. Saat tanaman padi menghijau, dia melihat pola pertumbuhan vegetasi yang tidak seragam.
“Di beberapa bagian, tanaman tampak mengering atau tumbuh kurang subur,” ujar pendiri komunitas Pelestari Sejarah dan Budhaya Kadhiri (PASAK).
Perbedaan itu mungkin berkaitan dengan adanya struktur batu bata yang masih terpendam. Lapisan tanah berbatu atau sisa fondasi bangunan di bawah permukaan dapat menghambat perkembangan akar dan penyerapan unsur hara. Dampaknya, pertumbuhan tanaman di atasnya berbeda dari tanaman di lahan sekitarnya.
Hingga kini, lokasi istana Kerajaan Kadiri masih menjadi pertanyaan yang memerlukan pembuktian arkeologis. Situs Semen menawarkan salah satu petunjuk yang patut ditelusuri melalui penelitian lebih mendalam. (Dyah Ajeng Pramesti, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nusantara PGRI Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)




