• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Monday, 19 January 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KOMUNITAS

Lesbumi Tetap di Garis Kebudayaan Nahdliyin

03 Jul 2019
in KOMUNITAS
Reading Time: 2 mins read
0

SEBAGAI wadah yang bernaung di bawah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), mempunyai concern mendasar terhadap seni dan budaya. Latar belakang berdirinya, tak lepas dari perkembangan kebudayaan di Indonesia, serta dinamika Islam di Nusantara.

Menurut KH Agus Sunyoto, ketua Lesbumi PBNU, gerak dari organisasi yang didirikan pada tahun 1954 bukan semata-mata dipandang sebagai entitas yang mengurus dan merepresentasi kesenian bernuansa islami saja. Lebih jauh, hadirnya Lesbumi juga berperan dalam merumuskan strategi dan visi kebudayaan. Hal itu dilakukan supaya akar tradisi dan budaya, baik dalam tubuh NU sendiri maupun perannya dalam ikut membangun peradaban Nusantara semakin kuat.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Komunitas Film Galang Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Alumni Aktivis Pers Mahasiswa Berkumpul di Malang, Bahas Kondisi Bangsa

KSF 8 Menandai Perjalanan Satu Dekade Forum Scooterist Kediri (FORSCOOK)

“Tradisi intelektual khas pondok pesantren menjadi landasannya, dengan menjunjung tinggi independensi, prinsip juang, keilmuan, keislaman, dan kebangsaan,” ungkap Kiai Agus, Rabu 3 Juli 2019, pada Rakornas 3 Lesbumi di Taman Candra Wilwatikta Pasuruan, Jawa Timur.

Dalam kegiatan yang berlangsung pada tanggal 3-5 Juli 2019, dihadiri oleh seluruh pengurus Lesbumi dari tingkat Provinsi, Kota, dan Kabupaten dari seluruh Indonesia. Selain itu, di acara yang bertajuk “Meneguhkan Islam Nusantara di Era Milenial” terdapat berbagai rentetan agenda yang menyemarakkan kegiatan Rakornas. Di antaranya, pameran lukisan karya seniman Lesbumi, pameran keris, pameran topeng, dan pertunjukan dari para seniman Lesbumi se-Indonesia.

Rakornas 3 Lesbumi di Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: Hasan Lesbumi)

Pada Rakornas Lesbumi kedua tahun 2016 di Jakarta, Lesbumi memunculkan konsep dan strategi kebudayaan yang diberi nama Saptawikrama atau Tujuh Strategi Kebudayaan. Hadirnya gagasan tersebut, diharapkan menjadi rujukan, baik latar pemikiran maupun sebagai pertimbangan sikap NU terkait adanya isu-isu kebudayaan.

“Peneguhan konsep Islam Nusantara saat ini mendapatkan tantangan kuat di tengah gelombang puritanisme, politisasi Islam Trans-Nasional, dan Sekularisme-Neoliberalisme,” kata penulis buku Atlas Wali Songo itu.

Konsep Saptawikrama tersebut pada gilirannya harus mampu diterjemahkan dalam ranah praksis dari gerakan Lesbumi NU di semua tingkatan di seluruh Indonesia. Serta, terkoneksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan seluruh kebijakan Nahdlatul Ulama menyangkut tema-tema kebudayaan. Hal itu menjadi penting, agar nilai-nilai yang mendasari tradisi Nahdlatul Ulama, misalnya warisan sejarah dakwah Islam masa awal Nusantara tidak mengalami erosi dan pendangkalan di tengah situasi yang sangat kompleks dan asimetris. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline
Previous Post

Mengendus dan Mengimajinasi Potensi Wisata Kota Kediri

Next Post

Kediri Punya Banyak Titik Nol Kilometer

Next Post
Kediri Punya Banyak Titik Nol Kilometer

Kediri Punya Banyak Titik Nol Kilometer

Lukisan Gus Mus Dipamerkan di Rakornas Lesbumi

Lukisan Gus Mus Dipamerkan di Rakornas Lesbumi

JELAJAHI

  • BISNIS (110)
  • DESTINASI (112)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (223)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA