KOTA Kediri menapaki usia ke-1146 pada Juli 2025. Peradaban di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas ini sudah berdenyut sejak era lampau. Kronik Cina “Ling wai tai ta” tahun 1178 mencatat Kediri sebagai satu dari tiga kerajaan paling berpengaruh di Asia. Penemuan benda-benda arkeologis terus bermunculan, namun semua itu belum mengungkap di mana letak istana Kerajaan Kediri.
Para sejarawan meyakini istana itu sudah hilang. Namun, jejaknya bisa dilacak lewat kajian toponimi atau asal-usul penamaan kawasan. Salah satu petunjuk paling kuat adalah sebuah daerah bernama Balowerti di Kota Kediri.
“Dinding yang mengelilingi istana disebut Baluwerti. Dalam bahasa Jawa Kuno artinya tembok tinggi atau benteng,” kata M. Dwi Cahyono, Sejarawan Universitas Negeri Malang ketika diwawancarai Kediripedia.com via telepon pada Rabu, 9 Juli 2025.
Sebutan Balowerti atau Baluwerti hingga kini masih dipakai di Keraton Yogyakarta dan Solo. Kata itu merujuk pada tembok raksasa bagian paling luar istana. Sedangkan di Kota Kediri, Balowerti hanya jadi nama salah satu kelurahan. Sudah tak tampak lagi benteng di kawasan yang terletak di timur Sungai Brantas itu.
Tembok benteng Kediri dirobohkan Belanda ketika meletus peristiwa Kampanye Militer Kediri tahun 1678. Amangkurat 2, raja Mataram Islam bersekongkol dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Mereka bersama-sama memburu Raden Trunojoyo, pangeran Madura yang lari ke istana kuno di Kediri.

“Bagi Belanda, keberhasilan menghancurkan benteng di Balowerti amat bersejarah,” ujar Dwi Cahyono.
Sukses mengalahkan Trunojoyo di Kediri, Amangkurat 2 menghadiahi VOC seluruh wilayah di timur Batavia. Semarang, Salatiga, dan daerah pantai utara di Jawa Tengah jadi milik Belanda. VOC juga diberikan kuasa atas monopoli tekstil, opium, dan gula.
Peristiwa kekalahan Trunojoyo di Kediri inilah yang pada akhirnya membuka industri besar-besaran kolonial Belanda. Saking monumentalnya, kisah heroik versi kompeni ini diabadikan jadi buku cerita anak-anak Belanda tahun 1890, dan masih dibaca hingga sekarang.
Pada laporan yang ditulis Johan Jurgen Briel, sekretaris VOC, dinding kastil Kediri dibangun dari susunan batu bata merah. Tingginya 6 meter, tebal 2 meter, dengan panjang keliling 8,5 kilometer. VOC butuh waktu tiga bulan menembus benteng ini. Sebab, sepanjang tembok dilengkapi 43 artileri atau sistem pertahanan yang dilengkapi senjata berat seperti meriam.
Dwi menyebut konstruksi benteng dibuat berlapis-lapis. Struktur yang paling besar dan kokoh ditempatkan di sisi luar. Sedangkan di dalamnya dibuat lebih kecil, sebagai pembatas antara istana, tempat tinggal raja, bala tentara, dan klaster pemukiman masyarakat.
“Letak istana Kerajaan Kediri kira-kira di kawasan yang sekarang disebut pecinan, di sekitar Jalan Dhoho,” kata lulusan S2 Arkeologi Universitas Indonesia itu.

Di balik benteng Balowerti terdapat keraton, tempat ibadah, pemukiman, pasar, dan alun-alun. Misalnya Kemasan, kampung para perajin emas; Jagalan, para jagal hewan; dan Pandean yang teridentifikasi sebagai pemukiman para pandai besi. Sistem tata kota ini dijelaskan dalam kitab Negarakertagama zaman Majapahit.
“Bekas dinding kerajaan pada peristiwa Trunojoyo masih bisa dilihat di komplek makam Setono Gedong,” kata Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4).

Imam meyakini di antara reruntuhan makam itu masih ada benteng yang tersisa. Dia menduga salah satunya pintu masuk Masjid Auliya’ Setono Gedong. Ciri-ciri fisik gapura tersebut persis seperti pada catatan VOC. Setinggi 6 meter dan lebar 2 meter, bisa jadi itu bagian dalam tembok istana.
Namun, hipotesis ini bersandar pada toponimi serta catatan Belanda pada era Mataram Islam abad ke-17. Di masa yang lebih lampau atau periode Hindu-Buddha, letak istana kemungkinan berada di Gurah, Kabupaten Kediri. Namun, hal itu masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post