• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 10 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Menguak Istana Kerajaan Kediri yang Hilang di Kawasan Pecinan

10 Jul 2025
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
0
Menguak Istana Kerajaan Kediri yang Hilang di Kawasan Pecinan

Kantor Kelurahan Balowerti Kota Kediri. (Foto: Dimas)

KOTA Kediri menapaki usia ke-1146 pada Juli 2025. Peradaban di kawasan yang terbelah arus Sungai Brantas ini sudah berdenyut sejak era lampau. Kronik Cina “Ling wai tai ta” tahun 1178 mencatat Kediri sebagai satu dari tiga kerajaan paling berpengaruh di Asia. Penemuan benda-benda arkeologis terus bermunculan, namun semua itu belum mengungkap di mana letak istana Kerajaan Kediri.

Para sejarawan meyakini istana itu sudah hilang. Namun, jejaknya bisa dilacak lewat kajian toponimi atau asal-usul penamaan kawasan. Salah satu petunjuk paling kuat adalah sebuah daerah bernama Balowerti di Kota Kediri.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

Laksamana Laut Makassar yang Terasing di Pegunungan Malang

“Dinding yang mengelilingi istana disebut Baluwerti. Dalam bahasa Jawa Kuno artinya tembok tinggi atau benteng,” kata M. Dwi Cahyono, Sejarawan Universitas Negeri Malang ketika diwawancarai Kediripedia.com via telepon pada Rabu, 9 Juli 2025.

Sebutan Balowerti atau Baluwerti hingga kini masih dipakai di Keraton Yogyakarta dan Solo. Kata itu merujuk pada tembok raksasa bagian paling luar istana. Sedangkan di Kota Kediri, Balowerti hanya jadi nama salah satu kelurahan. Sudah tak tampak lagi benteng di kawasan yang terletak di timur Sungai Brantas itu.

Tembok benteng Kediri dirobohkan Belanda ketika meletus peristiwa Kampanye Militer Kediri tahun 1678. Amangkurat 2, raja Mataram Islam bersekongkol dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Mereka bersama-sama memburu Raden Trunojoyo, pangeran Madura yang lari ke istana kuno di Kediri.

Dwi Cahyono, sejarawan UM Malang. (Foto: Dok. pribadi Dwi Cahyono)

“Bagi Belanda, keberhasilan menghancurkan benteng di Balowerti amat bersejarah,” ujar Dwi Cahyono.

Sukses mengalahkan Trunojoyo di Kediri, Amangkurat 2 menghadiahi VOC seluruh wilayah di timur Batavia. Semarang, Salatiga, dan daerah pantai utara di Jawa Tengah jadi milik Belanda. VOC juga diberikan kuasa atas monopoli tekstil, opium, dan gula.

Peristiwa kekalahan Trunojoyo di Kediri inilah yang pada akhirnya membuka industri besar-besaran kolonial Belanda. Saking monumentalnya, kisah heroik versi kompeni ini diabadikan jadi buku cerita anak-anak Belanda tahun 1890, dan masih dibaca hingga sekarang.

Pada laporan yang ditulis Johan Jurgen Briel, sekretaris VOC, dinding kastil Kediri dibangun dari susunan batu bata merah. Tingginya 6 meter, tebal 2 meter, dengan panjang keliling 8,5 kilometer. VOC butuh waktu tiga bulan menembus benteng ini. Sebab, sepanjang tembok dilengkapi 43 artileri atau sistem pertahanan yang dilengkapi senjata berat seperti meriam.

Dwi menyebut konstruksi benteng dibuat berlapis-lapis. Struktur yang paling besar dan kokoh ditempatkan di sisi luar. Sedangkan di dalamnya dibuat lebih kecil, sebagai pembatas antara istana, tempat tinggal raja, bala tentara, dan klaster pemukiman masyarakat.

“Letak istana Kerajaan Kediri kira-kira di kawasan yang sekarang disebut pecinan, di sekitar Jalan Dhoho,” kata lulusan S2 Arkeologi Universitas Indonesia itu.

Gapura masuk komplek Makam Setono Gedong yang diduga sebagai bekas reruntuhan istana Kerajaan Kediri. (Foto: Dimas)

Di balik benteng Balowerti terdapat keraton, tempat ibadah, pemukiman, pasar, dan alun-alun. Misalnya Kemasan, kampung para perajin emas; Jagalan, para jagal hewan; dan Pandean yang teridentifikasi sebagai pemukiman para pandai besi. Sistem tata kota ini dijelaskan dalam kitab Negarakertagama zaman Majapahit.

“Bekas dinding kerajaan pada peristiwa Trunojoyo masih bisa dilihat di komplek makam Setono Gedong,” kata Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4).

Imam Mubarok, Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Kediri (DK4). (Foto: Dimas)

Imam meyakini di antara reruntuhan makam  itu masih ada benteng yang tersisa. Dia menduga salah satunya pintu masuk Masjid Auliya’ Setono Gedong. Ciri-ciri fisik gapura tersebut persis seperti pada catatan VOC. Setinggi 6 meter dan lebar 2 meter, bisa jadi itu bagian dalam tembok istana.

Namun, hipotesis ini bersandar pada toponimi serta catatan Belanda pada era Mataram Islam abad ke-17. Di masa yang lebih lampau atau periode Hindu-Buddha, letak istana kemungkinan berada di Gurah, Kabupaten Kediri. Namun, hal itu masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Kolaborasi Pemuda Katolik Jatim dan Untag Surabaya Hadirkan Beasiswa Pendidikan

Next Post

Koreografi Ande-ande Lumut Memeriahkan Apeksi Nite Carnival

Next Post
Koreografi Ande-ande Lumut Memeriahkan Apeksi Nite Carnival

Koreografi Ande-ande Lumut Memeriahkan Apeksi Nite Carnival

Kediripedia Menerima Program IMA 2.0 yang Digelar TEMPO, Tempo Institute, dan AMSI

Kediripedia Menerima Program IMA 2.0 yang Digelar TEMPO, Tempo Institute, dan AMSI

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA