AWAL mula kuliner tahu di Kediri tak pernah tercatat dalam arsip kolonial maupun sejarah lokal. Banyak yang meyakini, makanan ini dibawa pasukan Mongol ketika menyerbu Kediri pada 1293. Sebagian serdadu tertinggal, mereka menetap lalu mengolah kedelai menjadi tahu. Sayangnya cerita itu sebatas asumsi, cocoklogi sejarah yang belum dibuktikan kebenarannya.
Versi lain menyebut, riwayat tahu Kediri berkaitan dengan gelombang migrasi Tionghoa ke Indonesia pada awal 1900-an. Mereka datang dari berbagai daerah di daratan Cina seperti Kwang Tung, Fu Chien, Fux Cho, Xin Hua, Hokkian, Hok Jia, An Pek, Chin Ciang, dan Kwang Fu. Selain berdagang, para pendatang itu membawa keterampilan mengolah kedelai.
Tiga nama yang kerap disebut sebagai perintis adalah Liem Ga Moy, Lauw Soe Hoek, dan Kaou Loung. Lauw Soe Hoek atau yang populer dipanggil Bah Kacung, mendirikan bisnis tahu pada 1912. Dia menggiling kedelai, merebus sari, menyaring dengan kain, lalu mencetaknya dalam balok-balok padat berwarna kuning. Usaha itu pelan-pelan tumbuh. Sejak 1940-an, tahu buatannya mulai dikenal luas di Kediri dan sekitarnya.
“Perbedaan tahu Kediri dan daerah lain bisa dilihat dari teksturnya yang lebih padat,” kata Yap Swee Lay, Budayawan Tionghoa Kediri, Selasa, 10 Februari 2026.
Dia menjelaskan, selain padat, ciri khas tahu Kediri lebih kering. Sehingga, tidak perlu direndam air agar tahan lama. Dalam bahasa Tiongkok, kering disebut “kwa”. Lama-kelamaan penyebutan berkembang menjadi tahu takwa.

Dalam buku BI Kediri Heritage disebutkan bahwa kondisi alam Kediri mendukung untuk industri tahu. Para perintis meyakini kandungan air Kediri serupa dengan daerah asal mereka di Cina.
Soal warnanya yang kuning, menurut Swee Lay itu bagian dari inovasi para pengusaha. Warna tersebut berasal dari kunyit sebagai pewarna, sekaligus pengawet alami. Seiring waktu, bisnis tahu yang ramai di Kediri tentu memunculkan persaingan.
Menariknya, kemunculan tahu di Hindia Belanda termasuk Kediri juga berkelindan dengan kebijakan kolonial. Popularitas tahu meningkat akibat dampak sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel tahun 1830–1870. Saat krisis pangan melanda, kedelai muncul sebagai penyelamat, sumber protein murah yang mudah diolah.
Fadly Rahman, dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara mencatat bahwa pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial turut mendorong pengembangan pangan berbasis kedelai. Hasilnya, tahu tak lagi eksklusif milik komunitas Tionghoa, melainkan merambah ke dapur-dapur lintas etnis, dari kaum peranakan, Eropa, hingga bumiputera. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post