• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 4 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home BISNIS

Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

19 Feb 2026
in BISNIS
Reading Time: 2 mins read
0
Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Salah satu penjual tahu kuning di Jalan Yos Sudarso Kota Kediri. (Foto: Dwidjo U. Maksum)

AWAL mula kuliner tahu di Kediri tak pernah tercatat dalam arsip kolonial maupun sejarah lokal. Banyak yang meyakini, makanan ini dibawa pasukan Mongol ketika menyerbu Kediri pada 1293. Sebagian serdadu tertinggal, mereka menetap lalu mengolah kedelai menjadi tahu. Sayangnya cerita itu sebatas asumsi, cocoklogi sejarah yang belum dibuktikan kebenarannya.

Versi lain menyebut, riwayat tahu Kediri berkaitan dengan gelombang migrasi Tionghoa ke Indonesia pada awal 1900-an. Mereka datang dari berbagai daerah di daratan Cina seperti Kwang Tung, Fu Chien, Fux Cho, Xin Hua, Hokkian, Hok Jia, An Pek, Chin Ciang, dan Kwang Fu. Selain berdagang, para pendatang itu membawa keterampilan mengolah kedelai.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

Tiga nama yang kerap disebut sebagai perintis adalah Liem Ga Moy, Lauw Soe Hoek, dan Kaou Loung. Lauw Soe Hoek atau yang populer dipanggil Bah Kacung, mendirikan bisnis tahu pada 1912. Dia menggiling kedelai, merebus sari, menyaring dengan kain, lalu mencetaknya dalam balok-balok padat berwarna kuning. Usaha itu pelan-pelan tumbuh. Sejak 1940-an, tahu buatannya mulai dikenal luas di Kediri dan sekitarnya.

“Perbedaan tahu Kediri dan daerah lain bisa dilihat dari teksturnya yang lebih padat,” kata Yap Swee Lay, Budayawan Tionghoa Kediri, Selasa, 10 Februari 2026.

Dia menjelaskan, selain padat, ciri khas tahu Kediri lebih kering. Sehingga, tidak perlu direndam air agar tahan lama. Dalam bahasa Tiongkok, kering disebut “kwa”. Lama-kelamaan penyebutan berkembang menjadi tahu takwa.

Tahu kuning memiliki bertekstur padat, kenyal, dan tidak mudah hancur. (Foto: Dwidjo U. Maksum)

Dalam buku BI Kediri Heritage disebutkan bahwa kondisi alam Kediri mendukung untuk industri tahu. Para perintis meyakini kandungan air Kediri serupa dengan daerah asal mereka di Cina.

Soal warnanya yang kuning, menurut Swee Lay itu bagian dari inovasi para pengusaha. Warna tersebut berasal dari kunyit sebagai pewarna, sekaligus pengawet alami. Seiring waktu, bisnis tahu yang ramai di Kediri tentu memunculkan persaingan.

​Menariknya, kemunculan tahu di Hindia Belanda termasuk Kediri  juga berkelindan dengan kebijakan kolonial. Popularitas tahu meningkat akibat dampak sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel tahun 1830–1870. Saat krisis pangan melanda, kedelai muncul sebagai penyelamat, sumber protein murah yang mudah diolah.

Fadly Rahman, dalam bukunya Jejak Rasa Nusantara mencatat bahwa pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial turut mendorong pengembangan pangan berbasis kedelai. Hasilnya, tahu tak lagi eksklusif milik komunitas Tionghoa, melainkan merambah ke dapur-dapur lintas etnis, dari kaum peranakan, Eropa, hingga bumiputera. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Next Post

Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Next Post
Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (113)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA