• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 15 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KOMUNITAS

Testimoni Sukoco, Detik-Detik Menjelang Letusan Kelud

14 Feb 2016
in KOMUNITAS
Reading Time: 2 mins read
Testimoni Sukoco, Detik-Detik Menjelang Letusan Kelud

“BAGI kami, 13-14 Februari bukan hari Valentine. Melainkan hari Erupsi Gunung Kelud.”

Rangkaian kata di foto yang diposting akun facebook Erik Raden Mas Sukoco ini menggelitik. Pemilik akun, Erik Strada mengaku mendapatkan foto itu dari Deni, temannya.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Komunitas Film Galang Bantuan untuk Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Alumni Aktivis Pers Mahasiswa Berkumpul di Malang, Bahas Kondisi Bangsa

KSF 8 Menandai Perjalanan Satu Dekade Forum Scooterist Kediri (FORSCOOK)

Bukan asal comot. Bagi pria yang akrab dipanggil Sukoco ini, tanggal itu sangat berkesan. Akan selalu dikenangnya hingga akhir hayat.

screen akun facebook Sukoco.
screen shoot akun facebook Sukoco.

Tepat tanggal itu, tahun 2014 lalu, Gunung Kelud mengamuk. Dampak letusannya hingga Jawa Barat dan Nusantara Tenggara Barat. Sukoco bersama puluhan ribu warga lereng Kelud merasakan kengerian amuk Sang Kelud.

Tak berlebihan jika menyebut Sukoco bagian dari saksi sejarah letusan Kelud 2014. Sukoco adalah penyiar Radio Kelud FM. Dia juga tergabung dalam Jangkar Kelud yang terlibat dalam aksi penanggulangan bencana Kelud.

Pria bertubuh tinggi besar ini juga asisten Camat Ngancar Ngaseri, yang selalu menyertai ke manapun Pak Camat pergi. Dia kerap berada beraktifitas di Pos Pantau Gunung Kelud. Bahkan, mengambil resiko bertahan di Pos Pantau Gunung Kelud hingga letusan ketiga.

Bagaimana merasakan kengerian berhadapan dengan letusan Kelud? Berikut testimoni Sukoco menyambut dua tahun letusan Kelud yang dituliskannya untuk kediripedia.com:

Pada 13 Februari, waktu terasa sangat cepat. Tidak terasa sudah malam hari. Suasana Pos Pantau Kelud sangat gawat. Ada tremor terus menerus yang menunjukkan pergerakan magma menuju ke permukaan.

Letusan sudah dekat. Saya melihat pengamat yang bekerja tanpa berhenti. Beberapa hari terakhir, mereka bahkan jarang keluar ruang pengamatan.

Malam itu, saya turun ke dapur untuk membuatkan kopi para pengamat. Sebelum kopi jadi, salah satu pengamat turun ke dapur dan bilang: “Co, tremornya sudah mulai kelihatan. Mungkin besok meletus.”

Setelah mengantar kopi, saya ke ruang istirahat bersama Jono. Saya dengar ribut-ribut. Ternyata tremornya sudah keluar sudah tak terhitung sesmiknya.

Setelah itu, saya dimintai bantuan untuk mengoperasikan Handy Talky. Pak camat akhirnya menginformasikan jika status Gunung Kelud dinaikan menjadi Awas. Beliau mengomandokan untuk mengosongkan radius 10 km dari kawah.

Ketika status Awas, kami sudah bersiap-siap. Semua orang di Pos Pantau panik. Mobil diputar ke arah jalan. Disiapkan untuk dievakuasi.

Kami juga melepas pintu Pos Pantau, jika sewaktu-waktu ramai-ramai berlari berjubel di pintu.

Ketika letusan pertama, saya bersama pengamat masih bertahan di Pos Pantau. Dari depan Pos Pantau, kami melihat bunga pijar yang menyembur dari puncak Kelud.

Namun, kami tidak mengambil resiko ketika letusan ketiga. Letusan terlihat sangat dahsyat, material membumbung ke angkasa. Kami cepat-cepat naik mobil. Berpacu dengan turunnya material, saya memacu mobil dengan kecepatan tinggi.

Kami menuju ke kantor kecamatan. Tapi, kami melihat ke timur. Letusan semakin dahsyat. Akhirnya, Pak Camat memerintahkan untuk mengosongkan Kecmatan Ngancar hingga radius 20 km dari pusat letusan.

Kami mengungsi di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG).
Setelah letusan, keesokan paginya saya kembali ke Pos Pantau untuk mengambil sepeda motor saya yang tertinggal.

Malam tanggal 13 hingga tanggal 14 adalah malam luar biasa dimana saya merasakan ketegangan yang amat luar biasa. Saya beruntung menjadi saksi sebuah peristiwa yang sangat dahsyat. Jujur, meski ngeri, saya merindukan lagi suasana itu. (Danu Sukendro)

Tags: #kelud#LETUSANKELUD
Previous Post

Kepedulian yang Menjadi Contoh

Next Post

Wajah Kawah Kelud Dahulu dan Kini

Next Post

Wajah Kawah Kelud Dahulu dan Kini

Menyusuri Medan Terjal Gunung Kelud

Menyusuri Medan Terjal Gunung Kelud

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA